Home » Bawean » Pengrajin Batu Bata Bawean Gresik Membutuhkan Alih Teknologi
Master tukang, tutorial pertukangan

Pengrajin Batu Bata Bawean Gresik Membutuhkan Alih Teknologi

pengrajin bata baweanGresik – Pulau Bawean yang terletak 80 Mil dari Kota Gresik, harus kreatif dan sebisa mungkin mampu menyediakan kebutuhannya sendiri terhadap berbagai kebutuhan bahan bangunan. Meskipun hampir seluruh bahan bangunan didatangkan dari Pulau Jawa, ada beberapa material yang masih diproduksi oleh warga setempat. Diantaranya adalah batu bata, yang terus diproduksi oleh beberapa pengrajin Bawean, meskpun penggunanaannya semakin berkurang.

Munculnya berbagai material alternatif dan modern seperti batako, gipsum, dan paving membuat produksi batu bata meredup. Masyarakat lebih menyukai material baru yang lebih murah dan awet meski harus mendatangkan dari pulau jawa. Dulu hampir semua  warga membuatnya, namun kini tidak sampai puluhan orang yang mengerjakannya.

Salah satunya adalah Midin (45) warga asli Teluk Kumur. Dia mengaku, dulunya bekerja sebagai perajin batu bata menjadi primadona. “Sekarang menyusut yang membuatnya, banyak para pengrajin batu bata menjadi nelayan karena pendapatan mereka tidak menentu
bila tetap jadi pembuat batu bata,” kata Midin.

Baca:  ABG Bawean Alami Kekerasan Seksual, Pelaku Ditangkap Polisi

Menurut Midin, para pembuat batu bata harus mengumpulkan tanah liat yang diambil di daerah Teluk Kumur. Kemudian dibakar sampai
berwarna kemerah merahan dengan jerami yang merupakan kerja tradisional. “Kami tidak memunyai tungku seperti yang ada di kota Gresik, namun kami hanya mengunakan sinar matahari,” jelasnya lagi.

Setiap harinya Midin dan salah satu teman pembuat batu bata jugamengatakan dirinya mampu untuk mengerjakan seribu batu bata.  “Tenaga terbatas jadi kami hanya mampu membuat seribu batu bata,” ungkapnya. Setelah terkumpul 30.000 batu bata dalam sebulan, Midin beserta temannya kemudian membakarnya. “Setelah dibakar dengan jerami kami menjual harganya dengan Rp 500 per batu bata,” pungkasnya.

Baca:  Pencak Bawean Yang Terpinggirkan

Senada dengan Midin, pembuat bata lainnya yaitu Hasan mengatakan bahwa dalam proses produksinya, untuk produksi 70ribu batu bata dibutuhkan tanah liat sebanyak setengah bak truk isi 4 meter kubik. “Untuk pembakarannya dibutuhkan jerami sebanyak 1.5 bak truk
dengan harga Rp 1 juta/truk dan Rp 500 ribu untuk transport,” imbuh dia.

Menurut Hasan, batu bata yang diproduksinya berukuran sedang. Yakni berukuran 5cm x10 cm x 20cm yang dijual dengan harga Rp 230 – Rp240,- perbijinya. “Keuntungan yang diperoleh bisa mencapai Rp 100 dari biaya produksi,” pungkas Hasan.

Pengrajin batu bata bawean merupakan salah satu dari banyaknya potensi UKM yang ada di pulau yang terpisah 80 mil laut dari Gresik. Pola produksi dan pemasarannya mestinya mendapatkan sentuhan pembinaan agar terjadi alih teknologi yang mengikuti kebutuhan pasar. Pemerintah Kabupaten Gresik sebagai pemangku kebijakan sudah seharusnya mulai mengalihkan sebagian progran Corporate social Responsibility berbagai perusahaan di Gresik untuk pengembangan UKM Bawean. (san/rdrgrsk/edtr:gresik.co)

Baca:  DLU Siapkan Kapal Feri Perintis Bawean - Paciran Jelang Lebaran

Kata Pencarian:

1 truck tanah liat menghasilkan berapa batu bata (1)

Suarakan Pendapatmu

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *