Home » Biografi » Sapardi DJoko Damono, Semakin Produktif di Usia Senja
Master tukang, tutorial pertukangan

Sapardi DJoko Damono, Semakin Produktif di Usia Senja

Sapardi DJoko Damono, Semakin Produktif di Usia Senja. Keheningan di Galeri Indonesia Kaya pecah saat pria bertubuh kecil itu naik ke atas panggung. Pria berusia 75 tahun itu memilih berdiri dibandingkan duduk di kursi.

Dengan wajah serius, pria bertopi itu mulai becerita. Belum ada satu menit, ceritanya sudah sukses membuat penonton terpingkal. Ia bukan seorang komika yang tengah melakukan stand up comedy. Ia adalah pujangga Indonesia, Sapardi Djoko Damono.

Sapardi diajak oleh penulis generasi kini, Dewi “Dee” Lestari untuk berpartisipasi dalam salah satu rangkaian acara perayaan ulang tahun Galeri Indonesia Kaya (GIK), yaitu Apresiasi Sastra.

Sapardi mendapatkan jatah tampil setelah Dee yang sukses membawa penonton larut dalam cerita dan lagu yang dinyanyikannya. Sapardi tentu tak mau kalah dengan juniornya di dunia sastra.

sapardi-djoko-damono

Sebelum membaca puisinya, Sapardi mendongeng soal seorang anak perempuan cantik yang mendatanginya dengan segepok buku dan meminta agar ia membaca naskah sebuah buku.

“Dia minta saya baca dan berkomentar biar bukunya terkenal. Setelah saya baca beberapa hari kemudian, saya berpikir kok ada orang bisa menulis seperti ini. Apa yang saya pikir bertahun-tahun lalu terbukti. Beliau menulis lebih banyak dari saya,” kata Sapardi menceritakan soal pengalaman pertemuan pertamanya dengan Dee.

Sapardi lagi-lagi tak mau kalah dengan Dee yang dinilainya sangat produktif. Ia pun menceritakan bahwa dirinya bukan hanya andal dalam menulis puisi. Sapardi mengungkap dirinya juga banyak menulis.

Baca:  Biografi Gus Ipul

Kegiatan menulis novel sudah dilakukan jauh-jauh hari sebelum ia menulis puisi. Sekitar tahun 1964, Sapardi sudah menghasilkan novel berbahasa Jawa. Namun, novel-novel yang dituliskan oleh lulusan Sastra Inggris, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta itu belum mampu mengangkat namanya sebagai seorang sastrawan.

Popularitas tidak menjadi tujuan utama Sapardi. Ia pun terus aktif menulis, tidak hanya novel namun juga puisi. Tahun 1994, seorang penerbit meminang puisipuisi karya Sapardi untuk diterbitkan. Sapardi setuju dan kemudian dibuat bingung oleh judul buku kumpulan puisi karyanya tersebut.

“Saya bingung. Saya ingat waktu itu mahasiswa saya di Universitas Indonesia mencuri puisi-puisi saya dan dijadikan lagu di sekitar tahun 1989 dan 1990. Lagu-lagu itu disebarluaskan dalam bentuk kaset berjudul Hujan Bulan Juni. Awalnya saya enggak terkenal, tapi gara-gara lagu ini, saya jadi terkenal,” terang Sapardi yang ditemui SP usai acara.

Sejak saat itu, Sapardi menjadi terkenal. Karyanya, terutama puisi-puisinya menjadi favorit banyak orang. Dee, bahkan mengaku kumpulan puisi Hujan Bulan Juni membawa pengaruh signifikan dalam karier menulisnya. Dari buku tersebut, Dee belajar soal pentingnya metafora dalam karya sastra.

Baca:  Cerita Cinta Presiden Indonesia (Bagian I)

Sapardi mengaku risi setiap kali ada yang menanyakan kepadanya soal isi dari puisinya. Ia mengatakan dirinya menulis puisi bukan untuk dipahami namun dihayati.

“Kalau ditanya tentang apa, saya enggak tahu. Saya enggak paham puisi saya tentang apa. Kalau baca puisi saya enggak usah dipahami, tapi dihayati. Saya juga sering dapat pertanyaan kenapa judulnya Hujan Bulan Juni? Kan di bulan Juni enggak ada hujan? Jawaban saya selalu klise. Kalau saya buat judul Hujan Bulan Desember, pasti tidak akan ada yang bertanya karena Desember memang selalu hujan,” jelasnya.

Difilmkan Setelah kesuksesan buku kumpulan Hujan Bulan Juni, tahun ini Sapardi membuat novel dengan judul serupa. Pada suatu hari, Sapardi mendadak menyadari bahwa puisi-puisi buatannya bagus.

Ia kemudian berpikir jika puisi itu dibuat menjadi sebuah cerita fiksi tentu hasilnya akan lebih bagus. Maka, lahirlah novel setebal 135 halaman berjudul Hujan Bulan Juni. Kemunculan novel Hujan Bulan Juni yang mendapatkan apresiasi apik dari para pecinta sastra memicu Sapardi untuk melahirkan novel-novel lainnya.

Menurut Sapardi, pertengahan Oktober, satu bukunya yang masih dirahasiakan akan diluncurkan ke publik. “Sekarang saya akan rilis banyak sekali buku. Ada enam buku yang akan terbit,” katanya.

Sapardi mengungkap usia senja tidak menjadi halangan baginya untuk terus berkarya. Ia pun mengaku tidak pernah mengalami kebuntuan dalam berkarya. Hal itu, kata Sapardi bisa terjadi karena dirinya terus beraktivitas berupa mengajar. “Saya sudah pensiun, namun saya masih mengajar. Sebagai pengajar saya terus membaca. Dan kegiatan membaca itu merangsang saya untuk menulis,” tukas peraih SEAAward itu.

Baca:  Kim Jong Un, Bukan Boyband Korea Tapi Bikin Guncang Dunia

Setelah sukses dimusikalisasi dan diadaptasi dalam bentuk novel, Sapardi tidak menutup kemungkinan jika Hujan Bulan Juni dibuat menjadi film. Namun Sapardi bakal selektif terhadap pinangan-pinangan yang datang untuk memfilmkan karyanya. “Lihat dulu skenarionya seperti apa. Kalau cocok, nanti saya enggak masalah,” ujar Sapardi.

Selanjutnya ia mengomentari soal novel maupun puisi yang beredar saat ini yang cenderung jarang menggunakan metafora. Hal ini, menurut Sapardi tidak lepas dari pengaruh kemajuan teknologi. Ia bercerita, dulu dirinya menulis dengan tangan, kemudian berlanjut menggunakan mesin ketik.

Medium yang manual itu justru membuatnya semakin teliti dalam menulis dan membaca berulang-ulang karyanya. “Dengan adanya komputer, anak-anak muda enggak intens melihat buku. Tidak membaca berulang-ulang. Kalau mereka rajin, mereka bisa menghasilkan metafora di luar bayangan. Metafora adalah jantung dalam sebuah karya sastra,” tutup Sapardi. [Rizky Amelia/SuaraPembaruan]

 

 

Kata Pencarian:

sapardi djoko damono tentang senja (1)

Suarakan Pendapatmu

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *