Home » Go Green » Perusahaan Go Green Makin Diminati Investor
Master tukang, tutorial pertukangan

Perusahaan Go Green Makin Diminati Investor

Editor Regional, Oxford Business Group, Paulius Kuncinas, mengatakan, dunia usaha di Asia Tenggara kebanyakan sudah menerima ide untuk ‘go green’, tapi akan lebih mungkin untuk mengadopsi teknologi jika sertifikasi standar dan peraturan yang mengatur penggunaannya di seluruh wilayah diberlakukan.

“Makin banyak pemimpin bisnis memahami manfaat teknologi hijau, pengenalan sertifikasi regional, bersama dengan insentif tambahan, bimbingan teknologi yang lebih besar dan informasi yang ditingkatkan akan mendorong pertumbuhan industri dan menanamkan kepercayaan investor,” ujar Kuncinas dalam sambutan utama ‘Bangunan Hijau – Tren Bisnis Masa Depan di Asia’, di Green Building Conference dan Expo 2012′.

Teknologi Hijau baru-baru ini telah muncul sebagai salah satu pendorong utama nilai tambah, baik dilihat sebagai kebaikan umum dan sebagai sumber efisiensi serta produktivitas. Di atas segalanya, jika dijalankan dengan tepat dapat menghemat 40-60% biaya energi. Namun, dengan tidak adanya sertifikasi yang jelas dan konsisten sulit bagi perusahaan untuk mengambil keputusan investasi berapa besar biaya dan apa manfaat teknologi hijau dan ramah ligkungan atau ‘going green’ tersebut. Mereka takut bahwa apa yang dianggap menjadi hijau hari ini mungkin tidak lagi akan dianggap hijau dalam waktu beberapa tahun ke depan.

Baca:  Pemkab Jember Berguru Kepada Gresik Soal CSR

Kuncinas mengakui bahwa para pemimpin bisnis memiliki kekhawatiran tentang teknologi hijau selain yang berkaitan dengan proses sertifikasi dan ketidakpastian peraturan. Masih ada tanda tanya pada isu-isu kunci, seperti pada titik mana kemungkinan besar bangunan hijau akan memberikan manfaat dan keuntungan dan apakah teknologi dan proses yang digunakan akan perlu dimodifikasi untuk iklim tropis. “Bagaimana Anda mengukur nilai tambah dari going green dalam mengadopsi teknologi yang lebih mahal? Terutama dengan tidak adanya insentif pajak dan peraturan, ” dia menanyakan.

Dia juga menyoroti keprihatinan yang diangkat oleh para pemimpin bisnis tentang kurangnya keahlian lokal di lapangan, dengan mengatakan beberapa perusahaan lokal yang mengkhusus diri dalam teknologi hijau, sementara perusahaan asing dipandang sebagai tidak terbiasa dengan kawsan atau kadang-kadang karena terlalu mahal.

Baca:  Petrokimia Gresik Siap Sukseskan P2BN

Tantangan lain adalah hambatan yang berkaitan dengan outsourcing. Meski teknologi relatif mudah untuk diadopsi, tetapi perusahaan belum memiliki keahlian sendiri untuk mengelola konstruksi bangunan hijau (green building) dan proses desain. Sementara itu, banyak dari mereka yang enggan melakukan outsourcing kepada pihak ketiga karena takut meningkatnya anggaran dan mendapatkan produk akhir yang tidak selalu sesuai dengan kebutuhan.

“Apakah itu sebuah kantor Kelas-A, pusat perbelanjaan atau perumahan, ‘going green’ akan menarik pengguna akhir karena masih baru, cerdas dan membantu menghemat biaya,” katanya. Pengalamannya di Asia menunjukkan bahwa kelompok-kelompok pembangunan terkemuka menginginkan teknologi terbaik yang tersedia dan standar tertinggi yang tersedia. Proyek-proyek Landmark proyek seperti Park Ventures di Bangkok atau G-Tower Hotel di Kuala Lumpur jelas menunjukkan bagaimana ‘going green’ adalah adalah bisnis yang baik dan menguntungkan atau ekonomi yang baik.

Baca:  Suhu Bumi Naik 3 Derajat Celsius Tahun 2050

Suarakan Pendapatmu

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *