Home » Gresik » Ekonomi Gresik » Bandeng Kawak dan Tradisi Lelang di Pasar Bandeng
Master tukang, tutorial pertukangan

Bandeng Kawak dan Tradisi Lelang di Pasar Bandeng

bandeng kawakBandeng Kawak merupakan salahsatu tradisi menarik yang masih tumbuh subur di Kota Gresik. Warga Gresik perantauan yang sukses akan jor-joran membeli Bandeng ukuran besar atau biasa disebut Bandeng Kawak. Semakin besar Bandeng yang dibeli, maka semakin sukses anggapan masyarakat Bandeng Kawak yang dibeli tidak tanggung- tanggung, rata-rata memiliki berat diatas 2 Kg. Panjang Bandeng berkisar 50 Cm hingga 1 meter dengan lingkar badan sekitar 30 Cm.

Sehingga jika dibawa harus digendong mirip menggendong bayi berumur 1 tahun. Lantas Bandeng yang sudah dibeli akan dimasak dengan masakan khas menu Lebaran yang disantap bersama keluarga serta tamu yang akan datang ke rumah untuk bersilaturahmi. Kesibukan Pasa Bandeng sudah mulai terasa sejak Kamis siang.

Di Pasar Bandeng Jl Samanhudi yang hanya digelar pada puasa hari ke-27 membuat banyak warga berburu bandeng yang terbesar dan terberat. Mereka meyakini bila semakin besar dan berat membawa rejeki yang banyak serta rasanya bandeng yang semakin gurih dan enak. Apalagi dimakan dibagikan kepada tetangga sekitar untuk beramai-ramai menyantapnya.

Baca:  Buruh Tuntut UMK Gresik 2016 Rp. 4 Juta Perbulan

Bandeng-bandeng yang beratnya minimal 1 kilogram ini didatangkan dari sentra tambak budidaya Bandeng Kawak di Desa Sembayat dan Mengare Kecamatan Manyar. Oleh ibu-ibu Bandeng yang terbesar menjadi rebutan mereka. Menurut Cholidah Wahyuni, Staf kelurahan Lumpur yang  mendatangi pasar Bandeng bersama dua putrinya, perburuan bandeng besar dilakukan sejak dulu.

“Sudah tradisi bagi kami warga Giri asli untuk mendapatkan bandeng dengan berat minimal 3 kilogram,” katanya. Dikatakan, semakin besar bandeng, menurut kepercayaan bila disuguhkan untuk orang banyak akan mendapatkan rejeki besar di tahun depan. Untuk Bandeng Kawak seberat
3 Kg, Ny Fatmawati, warga Jl Usman Sadar memiliki resep sederhana yang sudah berlangsung turun temurun.

“Bandeng hanya dimasak dengan melumuri bandeng tersebut dengan garam kemudian direbus. Justru kalau ditambah bumbu lain, rasanya malah menjadi tidak enak,” kata dia. Untuk menikmati Bandeng tersebut, tinggal memakai sambel trasi dengan nasi hangat. Lantas hidangan yang sudah siap dinikmati beramai-ramai dengan keluarga dan tamu yang datang unjung-unjung. “Kalau sudah ada menu Bandeng Kawak, lengkap sudah rasanya Berlebaran,” ucapnya lagi sambil mengacungkan jempolnya bahwa itu adalah resep terbaik di Gresik.

Farida (35), ibu rumah tangga asal Jl Akim Kayat mengatakan, bahwa sudah turun temurun dilakukan membeli bandeng kawak yang besar. Farida memberikan saran dan kiat khusus untuk membeli bandeng kawak. “Beli yang mulutnya merah karena itu menunjukkan bandengnya barusan diambil dari tambak jadi masih baru,” katanya. Sementara itu pedagang bandeng Munifah yang dijumpai mengatakan bahwa para pedagang bandeng biasanya membawa jumlah besar.

Baca:  Pasar Sidomoro Gresik Diobral Lagi

“Saya membawa 2 kwintal bandeng kawak fresh, juga ada krupuk ikan laut dan bandeng bakar yang juga saya jual,” katanya. Munifah mengaku bahwa tahun lalu bandeng 2 kwintal setiap harinya habis. “Saya bawa 2 kuintal bandeng kalau habis tinggal telepon nanti dikirim lagi sama abah.  Perkilonya saya jual Rp 55 ribu” sambungnya. (san/ris/rdrgrsk/jpnn)

Suarakan Pendapatmu

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *