Home » Gresik » Ekonomi Gresik » Bupati Gresik Menurunkan Tim Survey Harga Kedelai
Master tukang, tutorial pertukangan

Bupati Gresik Menurunkan Tim Survey Harga Kedelai

GRESIK -Mahalnya harga kedelai yang memicu rush nasional, merembet ke setiap daerah. Kabupaten Gresik yang juga mempunyai beberapa industri tempe besar menjadi kelabakan. Untuk mengantisipasi dan mencari solusi atas persoalan tersebut Pemerintah kabupaten Gresik menyiapkan beberapa langkah. Salah satunya hendak menurunkan tim ke sejumlah pasar untuk melakukan survei harga kedelai. Penurunan tim tersebut dilakukan terkait adanya kenaikan harga dari Rp 5.200 per kilogram menjadi Rp 7.200 per kilogram yang selama ini dikeluhkan para perajin tempe.

Sambari Halim Radianto Rabu (25/7) mengatakan, pihaknya berjanji bakal mencarikan solusi agar usaha kecil menengah tersebut tidak bangkrut lantaran harga kedelai yang merupakan bahan baku tempe harganya tidak terjangkau.   “Saya belum mengecek rincian kenaikan harga kedelai di wilayah Gresik, namun saya akan turunkan tim untuk mensurvei harga, apakah kenaikan hanya terjadi di Jakarta,” katanya

Bupati Gresik ini  mengaku, belum bisa mengambil keputusan terkait kenaikan harga kedelai di wilayah Kabupaten Gresik. Alasannya, karena  kenaikan berasal dari mekanisme pasar. “Saya belum bisa mengambil kebijakan khusus, namun saya akan cek dulu berapa harga yang berkembang di wilayah Kabupaten Gresik, sehingga kebijakan itu bisa tepat sasaran,”  kilahnya.

Baca:  Menyengsarakan Pengguna, Jembatan Sembayat Selesai Akhir November

Sejumlah perajin tempe dan tahu di wilayah Gresik mengaku terancam gulung tikar akibat kenaikan harga kedelai.  Salah satu perajin, Hasan Ma’aruf mengaku, dirinya terpaksa menurunkan produksinya akibat naiknya harga kedelai, yakni dari 1,15 kuintal per hari menjadi 90 kilogram per hari, sekaligus memperkecil produksi tempe untuk tetap bisa melayani konsumen.

“Kami hanya memproduksi untuk memenuhi pesanan para pelanggan saja dengan harga yang sama, sehingga harus merugi ratusan ribu rupiah,” katanya, mengungkapkan.

Ia mengaku, tidak mungkin menaikkan harga penjualan karena khawatir ditinggal para pembeli atau pelanggan. Ia mengharapkan, pemerintah segera mengantisipasi kondisi itu dengan cara menghapus pajak impor yang selama ini dibebankan kepada para pengusaha.

Menurut dia, jika tidak ada kebijakan dari pemerintah, maka dikhawatirkan para perajin tempe dan tahu akan terus merugi, hingga akhirnya berhenti berproduksi.

Baca:  Penyumbang CSR di Gresik Akan Dibukukan

Tempe memang sudah menjadi lauk pokok masyarakat Gresik, selain berprotein tinggi Tempe juga sarat gizi, lezat dan murah. Kenaikan harga kedelai yang signifikan selain membuat para pengusaha tempe kelabakan juga mengakibatkan inflasi. Isu tempe telah menasional dan menjadi persoalan bangsa. Jika tidak ditangani dengan serius akan menimbulkan gejolak terhadap harga bahan-bahan pokok lainnya. Sbypost/editor:gresik

ins, sp

Suarakan Pendapatmu

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *