Home » Gresik » Ekonomi Gresik » Harga Kedelai Meroket, Produsen Tempe Gresik Kelabakan
Master tukang, tutorial pertukangan

Harga Kedelai Meroket, Produsen Tempe Gresik Kelabakan

pengrajin tempe gresik Gresik -Harga kedelai yang tidak terkontrol akhir-akhir ini telah menajdi isu nasional. Di Jawa Barat para pengrajin Tempe dan tahu sudah melakukan mogok memproduksi tahu dan tempe. Di Gresik kondisi pengrajin tempe juga mengalami keadaan yang sama, harga kedelai yang melonjak naik membuat pengrajin menjerit.

Sebab, dengan harga kedelai yang terus melambung tinggi selama sepekan ini, produksi mereka terancam gulung tikar. Sementara mereka mengaku tidak berani menaikkan harga tempenya. Alasannya,  karena mereka khawatir ditinggal pelanggannya.

Hasan Ma’aruf (52), Salah satu perajin Tempe mengatakan, adanya kenaikkan harga kedelai yang melambung tinggi tersebut dirinya mengaku tiap hari harus menanggung kerugian hingga ratusan ribu rupiah. Padahal, dia mengaku sudah melakukan berbagai upaya agar bisa memperkecil kerugian.

Baca:  Persegres Persiapkan Fisik dan Mental Menghadapi Play Off

“Saya tidak mungkin menaikkan harga tempe sebab dengan menaikkan harga tempe saya khawatir ditinggal oleh para pembeli atau pelanggan,” kata perajin yang menekuni usahanya sejak tahun 1987, Rabu (25/7). Sedangkan dengan memperkecil ukuran tempe, lanjutnya, masih belum mampu menutupi kerugian yang harus dideritanya.

“Meski sudah saya kurangi atau perkecil ukurannya , tiap hari saya tetap harus merugi sekitar dua ratus ribu rupiah,” imbuh pria yang kini tinggal di Jl. Sunan Prapen nomor 33 Desa Sekar Kurung Kecamatan Kebomas Gresik tersebut.

Hasan Ma’aruf mengaku sementara ini dirinya hanya bisa bertahan meski terus merugi. Sebelum ada kenaikan harga pada bahan baku kedelai, dalam satu hari dia bisa memproduksi minimal satu kwintal lima belas kilogram hanya untuk memenuhi pesanan para pelanggannya saja. “Kami berharap harga kedelai segera normal kembali agar para perajin tempe seperti saya bisa dapat hidup dan berkembang sebagaimana layaknya,” harap Ma’ruf.

Pengurus Primer Koperasi Tahu Tempe (Primkopti) Kopti Giri Jaya Jl. Sunan Prapen no 35 A Desa Sekar Kurung Gresik, mengatakan, kenaikan harga kedelai tersebut terjadi sejak awal ramadhan, meski demikian pihaknya berupaya untuk tetap memberikan keringanan bagi semua anggota koperasinya.

Baca:  600 Hektar Sawah Gresik Diserbu Hama Wereng, Petani Pasrah

“Peningkatan harganya seratus rupiah perhari bagi anggota, dan dari harga sebelum Ramadan yang hanya Rp 6900 kini harganya mencapai Rp 7500,” katanya. Di pasaran, masih kata Mustofa, harga kedelai bisa lebih mahal lagi. Lonjakan harga tersebut diakibatkan oleh anomali cuaca yang ada di beberapa negara pemasok kedelai seperti negara-negara Amerika Latin seperti Argentina dan Brazil serta Canada sehingga mengakibatkan gagal panen.

Kenaikan harga tersebut tentu sangat merugikan bagi sekitar 200 lebih anggota koperasinya. Mustofa berharap pemerintah segera merespon kondisi tersebut misalkan dengan cara menghapus pajak impor yang selama ini dibebankan pada para pengusaha. Sebab jika tidak ada respon dan kondisi ini dibiarkan saja maka bisa dipastikan nasib para perajin seperti Hasan Ma’aruf tersebut hanya akan tinggal kenangan alias gulung tikar. ins, (sbypst/ad)

Baca:  Kadispendik Gresik Disandera Elemen Serikat Buruh

Kata Pencarian:

produsen tempe di gresik (1)

Suarakan Pendapatmu

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *