Home » Gresik » Ekspor Nonmigas Jatim Bidik Pasar Afrika Selatan
Master tukang, tutorial pertukangan

Ekspor Nonmigas Jatim Bidik Pasar Afrika Selatan

Ekspor Nonmigas Jatim Bidik Pasar Afrika Selatan. Afrika Selatan (Afsel) menjadi negara tujuan baru ekspor nonmigas Jawa Timur. Pada bulan September 2012 nilai ekspor ke negara itu mencapai USD 252,128 juta atau menggeser posisi Jepang yang selama ini berada di posisi pertama dengan nilai ekspor USD 242,624 juta. Asisten Bidang Ekonomi Pembangunan (Ekbang) Pemprov Jatim, Hadi Prasetyo mengatakan ekspor ke Afsel itu 90 persen adalah emas perhiasan.

Komoditi lainnya adalah batik dan alas kaki. “Kedepan ekspor ke Afrika Selatan diyakini akan terus meningkat. Ini disebabkan negara ini adalah pusat perdagangan emas perhiasan di kawasan Afrika,” kata Hadi kepada Radar Surabaya, kemarin (1/11). Hadi menambahkan, kesukaan masyarakat Afrika Selatan dengan Jatim dalam bidang perhiasan hampir sama, yaitu emas warna kuning.

Desain alami dengan motif binatang dan pohon paling banyak diminati. Karena itu, ketika produsen emas perhiasan Jatim mengekspor ke Afsel relatif tidak banyak mengalami kesulitan. Ditemui terpisah, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim Irlan Indrocahyo mengungkapkan, emas perhiasan sampai saat ini masih menjadi primadona ekspor nonmigas Jatim. “Emas perhiasan menggantikan posisi tembaga yang sebelumnya berada di peringkat pertama ekspor nonmigas Jatim. Sampai dengan bulan September 2012, nilai ekspor emas perhiasan mencapai USD 1,143 miliar. Jumlah itu memberikan kontribusi sekitar 10,52 persen terhadap total ekspor Jatim,” papar Irlan kepada wartawan di kantornya, Surabaya, kemarin.

Baca:  Tradisi Lebaran Ketupat di Kauman Gresik

Lebih lanjut dijelaskan Irlan, secara keseluruhan nilai ekspor nonmigas Jatim sampai bulan September adalah USD 10,868 miliar, turun 18,75 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar USD 13,375 miliar. Sedangkan khusus bulan September nilai ekspor nonmigas Jatim USD 1,504 miliar, tumbuh 47,95 persen dibanding bulan Agustus yang sebesar USD 1,017 miliar. “Jika dalam dua bulan kedepan ekspor non migas terus meningkat, minimal bisa tumbuh 45 persen, maka ekspor nonmigas Jatim tidak akan devisit,” jelas Irlan.

Sedangkan untuk inflasi bulan Oktober, Irlan menyebutkan sebesar 0,15 persen, lebih rendah dari nasional yang sebesar 0,16 persen. Komoditas yang memberikan kontribusi terbesar terhadap inflasi adalah emas perhiasan, sewa rumah, biaya pendidikan di perguruan tinggi. Daging sapi, batu bata atau bata merah, wortel, daging ayam ras, sepeda motor dan semen.

Baca:  Partai Demokrat Jatim Siap Panasi Mesin Pilgub 2013

Inflasi Nasional Pengaruhi Ekspor Nonmigas Jatim

Sementara itu, Kepala BPS Suryamin dalam penjelasan kepada pers di kantor BPS Jakarta, kemarin, mengungkapkan inflasi sepanjang Oktober 2012 sebesar 0,16 persen. Pencapaian ini merupakan ketiga terendah dalam enam tahun terakhhir seiring dengan semakin stabilnya harga bahan pokok di tingkat konsumen. Untuk inflasi tahun kalender (Januari-Oktober) 2012 sebesar 3,66 persen, dan inflasi year on year 4,61 persen. Sementara laju inflasi komponen inti Oktober mencapai 0,33 persen dan inflasi inti secara tahunan mencapai 4,59 persen.

“Inflasi Oktober 2012 sebesar 0,16 persen. Inflasi ini merupakan inflasi ketiga terendah selama enam tahun terakhir,” ujar Suryamin. Menurutnya, rendahnya inflasi ini karena daya beli masyarakat yang rendah dan stabilnya harga kebutuhan pokok. Bahkan, beberapa komponen pengeluaran mengalami deflasi seperti bahan makanan dan sektor transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan.

Sementara inflasi tertinggi disumbangkan oleh sektor sandang sebesar 0,94 persen. Sektor lainnya, perumahan, air, listrik, Afsel… gas, bahan bakar sebesar 0,42 persen. Makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau menyumbang inflasi 0,38 persen. “Harga terkendali, menentukan daya beli masyarakat. Daya beli masyarakat tidak terpengaruh. Mudah mudahan sampai akhir tahun, kondisinya bisa terus seperti ini. Mudahmudahan harga-harga tidak terus melejit,” kata dia.

Baca:  Investasi di Jatim Meningkat, Pertumbuhan Ekonomi Jatim 7,5 Persen

Sementara itu, laju ekspor Indonesia sepanjang September 2012 tercatat sebesar USD 15,9 miliar, turun 9,35 persen bila dibandingkan dengan September 2011 yang tercatat sebesar USD 17,54 miliar. Namun,bila dibandingkan dengan laju ekspor Agustus 2012 yang tercatat sebesar USD 13,81 miliar, terjadi kenaikan sebesar 11,12 persen.

“Ekspor kita sudah mulai menunjukkan peningkatan. Kita berharap ke depan ekspor ini terus meningkat karena sumbangannya sangat besar terhadap perekonomian Indonesia,” imbuh Suryamin. Sedangkan impor pada September 2012 mencapai USD 15,35 miliar, meningkat 1,19 persen bila dibanding periode September 2011 yang tercatat sebesar USD 15,17 miliar. Bila dibandingkan bulan Agustus 2011 yang tercatat sebesar USD 13,81 miliar, terjadi kenaikan impor sebesar 11,12 persen. (za/mna/hen/jpnn)

Suarakan Pendapatmu

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *