Home » Gresik » Gresik Diserang Demam Berdarah
Master tukang, tutorial pertukangan

Gresik Diserang Demam Berdarah

Peralihan musim kemarau ke musim hujan menyebabkan genangan air yang berpotensi memunculkan jentik nyamuk demam beradarah. Kendati belum masuk kategori kejadian luar biasa, jumlah pasien demam berdarah dengue (DBD) dalam sepekan terakhir meningkat hingga 17 orang.

Kawasan yang terserang DBD merata, namun sebagian besar berada di wilayah Gresik Selatan. Di Dusun Glintung Desa Kepatihan Kecamatan Menganti, sedikitnya 7 anak terserang wabah DBD. Mereka kini dirawat di sejumlah rumah sakit Surabaya dan Gresik.

Menurut Choirul Anam, warga Dusun Glintung, penyakit DBD mulai menyerang di desanya seminggu terakhir. “Seperti wabah pagebluk, penyebarannya sangat cepat dan itu membuat kekhawatiran warga memuncak,” katanya.

Ditambahkan Anam, dirinya bersama warga yang lain berharap agar Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik merespons keluhan warga Menganti. “Saya minta agar dinkes segera turun tangan untuk memberikan penyemprotan dan pengasapan atau fogging,” ujarnya. Kepala Dinas Kesehatan Gresik,
dr Soegeng Widodo memahami keluhan warga.

Baca:  Kejaksaan Gresik Tetapkan Tersangka Korupsi Tanah

Pihaknya berjanji akan segera menurunkan tim untuk melakukan fogging di daerah endmik DBD. Dikatakan, wabah DBD mulai menyerang di Kabupaten Gresik akibat peralihan cuaca. Munculnya genangan membuat penyebaran penyakit semakin meningkat. Hal senada disampaikan dr Endang Puspitowati SpTHT, Direktur RSUD Ibnu Sina Gresik.

Menurutnya, DBD menyerang pasien remaja dan anak-anak. “Biasanya dibawah 15 tahun pasien dbd ditempat kami. Tapi tidak menutup kemungkinan orang dewasa juga terkena. Dan memang mengalami peningkatan dari tahun lalu,” katanya. Dari data yang ada, imbuh dia, diketahui di bulan Januari-Desember 2011 ada 365 pasien dan yang meninggal 2 anak.

Sedangkan Januari-Maret 13 November sebanyak 365 pasien dan yang meninggal 3 pasien. Sekarang di ruang Anggrek ada 7 pasien suspect dbd dan 3 yang positif,” terangnya. Ditambahkannya, untuk pasien DBD distribusi terbesar dari kecamatan Kebomas 16,6 persen, kecamatan Duduk 15,2 persen dan Bungah 15,07 persen.

Baca:  Demo Warga Minta Dipekerjakan di Petrokimia

“Nyamuk aedes agepty itu justru berkembang biak di air bersih. Lebih bagus menerapkan 3 M dan abate,” kata dia. Ditambahkan, fogging memiliki
keuntungan dan kerugian. Namun kerugiannya lebih banyak karena zat kimianya hanya untuk membunuh nyamuk dewasa saja,” ujarnya.

Sedangkan menurut Dr Harita Khasun, Direktur Medik RSUD Ibnu Sina, DBD tidak ada obatnya sampai sekarang. “Jadi pengobatannya hanya pemberian cairan tubuh dan istirahat yang cukup. Serta transfusi darah untuk meningkatkan trombosit,” katanya. Pasien DBD cirinya adalah panas
tinggi 39 derajat celcius, muntah, mual dan nyeri perut. “Hampir sama dengan typhus. Harus pemeriksaan darah dengan laboratorium. Untuk hari ke 5, 6 dan 7 hari kritis biasanya dingin padahal itu masa kritisnya,” pungkasnya. (san/ris/Radar Gresik/JPNN)

Baca:  Petrokimia Gresik Optimis Mengamankan Kebutuhan Pupuk Nasional

Suarakan Pendapatmu

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *