Home » Gresik » Wabah Kekeringan di Gresik Semakin Mengkhawatirkan
Master tukang, tutorial pertukangan

Wabah Kekeringan di Gresik Semakin Mengkhawatirkan

kekeringan di gresikKekeringan di Gresik Semakin Mengkhawatirkan. Wabah kekeringan di yang melanda lebih dari separoh wilayah Gresik, terus meluas. Pasalnya, program dropping air bersih ke wilayah-wilayah krisis berjalan lambat. Hingga kemarin, baru sekitar 50 persen dari total wilayah terdampak yang sudah mendapat penanganan. Sementara itu, sekitar 56 desa yang tersebar di sembilan kecamatan kesulitan air bersih.

Pasalnya, sumber-sumber air di wilayah masing-masing makin kritis. Seperti yang terjadi di kecamatan Dukun. Saat ini, sumber-sumber air di sana benar- benar sudah susut. Salah satunya adalah waduk mentaras. Saat ini, waduk itu sudah mengalami krisis air. Padahal, waduk itu adalah salah satu sumber utama air bagi warga di beberapa kecamatan sekitar.

Mulai dari Dukun hingga Panceng. ”Selain surut, kondisi waduk memang sudah kritis. Sebab, pendangkalannya sangat tinggi,” kata Saud Abda, Sekdes Mentaras. Gara-gara kekeringan ini, warga di wilayah terdampak terpaksa mengeluarkan biaya tambahan untuk mencukupi kebutuhan air. Seperti di Benjeng, banyak warga di sana yang terpaksa membeli air tangkian.

Baca:  Ratusan Hektar Sawah di Gresik Gagal Panen

Namun, ada juga yang membeli air geledekan. Untuk mendapatkannya, mereka harus merogoh kocek antara Rp 5 ribu hingga 60 ribu. Kondisi ini tidak lepas dari keterbatasan penanganan wabah kekeringan yang dilakukan BPBD (badan penanggulangan bencana daerah). Sebenarnya, instansi ini terus menggerojok dropping air bersih non-stop selama masa libur lebaran.

Hanya saja, keterbatasan jumlah armada dan personel membuat dropping tidak maksimal. sejauh ini BPBD memprioritaskan penanganan kekeringan di wilayah-wilayah kritis.”Setelah lebaran, kami fokus dropping di wilayah-wilayah yang belum tersentuh,” kata kepala BPBD Hari Sucipto. Alhasil, sejak dua pekan terakhir, sekitar 56 desa di sembilan kecamatan dibuat kesulitan mendapat air bersih.

Seperti di wilayah perkotaan misalnya, praktis mereka mengandalkan air tanki. Sebab, air dari PDAM juga mampet total. ”Sudah sepekan ini mati tidak nyala sama sekali,” kata Adi Sucipto, warga perum ABR, Kebomas. Demikian juga dengan wilayahwilayah yang biasanya lancar air, saat ini kondisinya juga mulai menurun.

Seperti di kawasan Randuagung. Saatini, pasokanairbersihdari PDAM juga mulai menurun. Yang lebih parah terjadi di sebagian besar wilayah
Gresik Kota Baru (GKB). Sudah hampir sebulan terakhir, mereka lebih mengandalkan pasokan air non-PDAM. Biasanya, mereka membeli air  tangkian dari beberapa sumber yang dikelola swasta.

Baca:  Kekeringan di Kabupaten Gresik Kian Parah

Hingga saat ini, ada 109 desa di 13 kecamatan yang mengalami krisis. Yang paling parah terjadi di empat kecamatan. Yakni Cerme,  Duduksampeyan, Benjeng dan Kedamean. Kondisi Kekeringan di Gresik cukup memprihatinkan.(san/ris/jpnn/rdrgrsk)

Suarakan Pendapatmu

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *