Home » Gresik » Wisata Gresik » Revitalisasi Makam Sunan Giri Mengundang Kontroversi
Master tukang, tutorial pertukangan

Revitalisasi Makam Sunan Giri Mengundang Kontroversi

Pemerintah Kabupaten Gresik melakukan penataan pedagang kaki lima dan kawasan wisata religi Sunan Giri di Desa Klangonan Kecamatan  Kebomas. Untuk penataan itu, sejumlah pihak mengkhawatirkan terjadi kerusakan situs bersejarah. Sementara sejumlah peziarah terpaksa mencari celah jalan untuk bisa memasuki komplek makam.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan dan Olah Raga (Disbudparpora) Gresik Siswadi Aprilianto, pembangunan proyek makam Sunan Giri ini untuk mengatasi kesemrawutan di area kawasan wisata religi kebanggaan warga Gresik sejak 2 pekan terakhir. Revitalisasi yang dimaksudkan untuk penataan ulang para PKL serta perbaikan jalan akses menuju area makam.

Disebutkan, program revitalisasi itu mulai digulirkan setelah pemerintah pusat memberikan dana Rp 2 Miliar untuk Gresik. ”Untuk proyek ini, yang menjadi prioritas adalah penataan ulang seluruh PKL di sana serta renovasi akses,” kata Siswadi Aprilianto. Untuk revitalisasi PKL, sebut dia, bakal disediakan area khusus bagi para PKL di kawasan wisata religi itu. Saat ini penataan PKL di kawasan wisata religi Sunan Giri memang sudah dianggap cukup semrawut.

Baca:  Gresik Kota Lama Antara Kuliner dan Kejayaan Masa Lalu

Selain tak tertata, keberadaannya membuat kawasan wisata itu sedikit kumuh. Selain itu, jalur akses dari kawasan parkir menuju area makam juga tengah diperbaiki. ” Untuk teknis pelaksanaannya ditangani oleh Dinas PU,” ujar Siswadi. Hanya saja, realisasi proyek ini ternyata memunculkan kontroversi. Pasalnya, dalam proyek ini, ternyata banyak bangunanbangunan yang memiliki sejarah yang ikut dibongkar. Kekhawatiran itu disampaikan Anggota Komisi D DPRD Gresik, Siti Muafiyah. “Renovasi yang kini berjalan ini gegabah seperti kejar tayang,” kata Siti Muafiyah .

Diakui, dirinya telah melihat proses renovasi dan dipastikan ada proses pembongkaran tanpa pedoman dari pihak yang ahli. Tentunya pihak itu adalah badan purbakala. “Itu situs yang sangat bersejarah, seharusnya proyek apapun harus tetap jangan sampai asal bongkar saja “ cetus politisi
asal Partai PDI Perjuangan.

Baca:  Tarif Parkir Lokasi Wisata di Gresik Dikeluhkan Wisatawan

Lantas Siti menunjukkan bangunan tangga yang terkena pembongkaran. Ini sangat disayangkan karena tangga yang ada jelas bagian dari situs. Tangga ini dibangun dengan sebuah filosofi, setidaknya dilihat dari jumlah anak tangga yang berjumlah 100 tangga. Filosofinya adalah, tasbih para Wali menuju Masjid dan makam bersejarah itu, “Sekarang itu tangga hanya tinggal 54 saja. Itu yang kami katakan ngawur “ tukas dia. Siti Muafiyah menambahkan, apa yang rasakan saat ini bukan protes secara pribadi maupun sebagai anggota Dewan, lebih ke suara hati sejumlah para kyai dan masyarakat sekitar yang protes.

Terutama yang mengerti tentang sejarah situs Sunan Giri. “Kami akan sampaikan kepada pimpinan untuk dihearing, dalam waktu dekat”katanya.
Renovasi memang bagian dari pembaruan sebuah objek. Jadi tak ada larangan untuk memperbarui sebuah objek. Hanya saja dalam prosesnya hendaknya berpedoman pada ahli perbakala. “Kalau mau renovasi tidak ada yang melarang. Tapi tolong hormati itu adalah situs bersejarah
di Negeri kita ini dan juga para pejuang menyebarkan agama islam “tuturnya.(san/rtn/ris) sumber radar gresik

Baca:  Komisi D DPRD Gresik Merekomendasikan Revitalisasi Sunan Giri Ditunda

Suarakan Pendapatmu

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *