Home » Ilmu Bisnis » MEA Sudah Berlaku 2016, Apa Sih MEA Itu?
Master tukang, tutorial pertukangan

MEA Sudah Berlaku 2016, Apa Sih MEA Itu?

MEA Sudah Berlaku 2016, Apa Sih MEA Itu?. Mencakup area seluas 4,4 juta kilometer persegi, Masyarakat Ekonomi ASEAN (UE) adalah zona perdagangan bebas terbesar di dunia. Perbandingannya, luas seluruh kawasan 28 negara anggota Uni Eropa (UE) adalah 4,32 kilometer persegi. Pasar memang lebih luas, tapi apa nilainya lebih tinggi? Tidak juga.

Produk domestik bruto dari sekitar 625 juta penduduk dalam MEA pada 2015 adalah US$ 2,6 triliun. Masih jauh dibanding total produk domestik bruto sekitar 508 penduduk Uni Eropa yang tahun lalu mencapai US$ 18,49 triliun.

Sama-sama zona pasar bebas, MEA punya perbedaan mendasar dengan Uni Eropa. Di Benua Biru, Uni Eropa punya Euro sebagai mata uang tunggal yang tidak dimiliki MEA. Selain itu, bergabung ke Uni Eropa berarti masuk ke sebuah unit ekonomi tanpa bea cukai dan kuota bagi sesama anggota.

Uni Eropa juga punya struktur tarif tunggal yang berlaku untuk perdagangan dengan dunia luar. Sementara di MEA, meski bea masuk diminimalisir  dan bursa tenaga kerja dibuka untuk sesama anggota, tiap negara masih punya otoritas sendiri dalam perdagangan negara non-anggota.

Baca:  Inilah 5 Peluang Bisnis Menjanjikan Di dunia online yang Bisa Anda Coba

MEA efektif berlaku tahun ini. Apakah itu berarti produk-produk negara tetangga akan menyerbu kita. Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong dalam beberapa kesempatan menyatakan hal itu tak akan terjadi.

“Terus terang MEA sudah mulai dua tahun lalu, barang-barang sudah bebas tarif, bebas hambatan,” katanya dalam Apindo CEO’s Gatherhing di Hotel JS Luwansa, Jakarta, akhir Desember 2015 lalu.

Mulai 1 Januari 2010, bea masuk 0 persen sudah diterapkan untuk lebih dari 99 persen pos tarif di kelompok ASEAN 6 (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand. Ronde berikutnya, pada akhir tahun lalu, penghapusan bea masuk juga dilakukan negara anggota ASEAN 4 (Kamboja, Laos, Myanmar dan Vietnam). Sementara penghapusan hambatan perdagangan yang sifatnya non tarif seperti kuota dan standar pun mulai berlaku namun belum menyeluruh.

Bagaimanapun, masih banyak tantangan yang dihadapi pengusaha dalam negeri. Di sektor tekstil misalnya, alih-alih berpikir ekspansi, mereka masih dipusingkan oleh tarif listrik dan upah buruh yang makin hari makin tinggi. “Padahal kita berebut pasar dengan Vietnam,” kata Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat, Kamis 7 Januari 2016.

Baca:  Strategi Iklan Luar Griya (Spanduk, Baliho, Reklame)

Toh, ada saja cerita sukses terdengar di telinga. “Alfamart itu sudah punya seratusan gerai di Filipina,” kata Ketua Asosiasi Pedagang Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicolas Mendey, Rabu, 6 Januari 2016. Beberapa waralaba lain seperti J-Co dan Es Teler 77 juga sudah merambah pasar Malaysia, Singapura dan Filipina.

Di luar itu, MEA juga berarti pasar bebas jasa. Dalam Mutual Recognition Arrangement (MRA) di antara negara anggota ASEAN, MEA akan membuka pergerakan tenaga kerja terdidik. Ada delapan profesi yang sudah disepakati dalam perjanjian tersebut yakni insinyur, arsitek, dokter, dokter gigi, perawat, surveyor, akuntan dan pekerja wisata.

 

Seberapa Siap Pengusaha Hadapi MEA

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) telah efektif berlaku pada 1 Januari 2016 lalu. Pemerintah telah melakukan pemetaan terkait produk apa saja yang potensial diekspor ke negara-negara ASEAN, di antaranya adalah produk otomotif, makanan olahan dan bahan kimia. Tapi, siapkah pelaku usaha memproduksinya?

Industri otomotif menunjukkkan optimisme. “Melihat pertumbuhan ekonomi, ekspor mobil tahun depan bisa lebih tinggi,” kata Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Noegardjito saat dihubungi, Rabu 6 Januari 2016.

Baca:  Tren Baru Bisnis Fashion 2013: Busana Hijab dan Sepatu

Optimisme itu didukung data penjualan mobil yang meski meredup di pasar domestik, namun ekspornya tetap tumbuh. Sepanjang periode Januari – Oktober 2015, ekspor mobil oleh anggota Gaikindo mencapai 183.661 unit atau tumbuh 9,2 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Di ASEAN, pasar utama mobil ekspor Indonesia adalah Filipina. Sementara di dunia, ekspor terbanyak kita adalah ke negara Timur Tengah serta Jepang. “Total kita ekspor ke 70 negara,” kata Noegardjito.

Untuk produk makanan dan minuman, Ketua Asosiasi Pedagang Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicolas Mendey menyatakan, produk Indonesia punya pasar potensial di Filipina, Thailand dan Malaysia. “Negara-negara ini punya selera yang hampir sama dengan lidah kita,” ujarnya, Rabu, 6 Januari 2016.

Soal kecocokan selera itu sudah dibuktikan dengan masuknya beberapa jaringan restoran waralaba seperti J-Co dan Es Teler 77. Bahkan, jaringan ritail Alfamart juga sudah memiliki seratusan gerai di Filipina. “Dari situ kita pelajari, makanan dan minuman olahan kita juga diterima, termasuk jamu,” kata Roy.

 

TEMPO

Suarakan Pendapatmu

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *