Home » Jawa Timur » Kinerja Ekspor Jawa Timur Memprihatinkan
Master tukang, tutorial pertukangan

Kinerja Ekspor Jawa Timur Memprihatinkan

ekspor jatimSaat ini, kinerja ekspor Jawa Timur cukup memprihatinkan karena mengalami penurunan. Data dari Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Jawa Timur menyebutkan bahwa sampai awal September 2012 ini, realisasi ekspor belum ada setengah dari target revisi GPEI Jatim yang sebesar USD 17,4 miliar.

Target tersebut adalah revisi dari target kinerja ekspor Jawa Timur awal pendapatan 2012 sebesar USD 19,55 miliar. Penurunan kinerja ekspor tersebut mengakibatkan sejumlah eksportir di provinsi ini mengeluh. GPEI menilai, belum ada tindakan nyata dari Pemprov Jatim untuk mengembalikan kinerja ekspor. “Selama ini, salah satu yang menjadi penghalang kinerja ekspor kami adalah kebijakan pemerintah kita sendiri. Padahal, ekspor kan salah satu sektor andalan di Jatim,” ujar Ketua Umum GPEI Jatim, Isdarmawan Asrikan, kemarin (4/9).

Disebutkan dia, sejauh ini, pendapatan kinerja ekspor Jawa Timur lima tahun ke belakang kerap lebih tinggi jika dibandingkan dengan aktivitas impor dari luar ke Jatim, bahkan selisihnya kurang dari USD 2 miliar. Dicontohkan Isdarmawan, pendapatan ekspor 2011 mencapai USD 17,4 miliar sedangkan impor mencapai USD 16,7 miliar.

Baca:  Industri Manufaktur Jatim Sektor Andalan Ekspor

“kinerja ekspor Jawa Timur kali ini sangat buruk sekali, selain terkendala kebijakan juga semakin kuatnya gempuran impor. Sehingga,  kinerja ekspor semakin terpuruk. Bahkan, di periode tahun ini mengalami penurunan sebesar 26,59 persen dibandingkan dengan periode tahun 2011 lalu,” jelas Isdarmawan. Situasi tersebut membuat pelaku eksportir lokal resah. Sebab, salah satu faktor utama pelemahan ekspor bukan dari pihak eksporter sendiri, melainkan dari produksi industri komoditas ekspor yang terkendala suplai bahan baku.

Menurut Isdarmawan, pemerintah harus terlibat langsung untuk mengentaskan kinerja ekspor yang anjlok. Salah satu caranya yakni bantuan modal kerja untuk perusahaan komoditas ekspor dan membuat kebijakan atau landasan hukum yang berpihak pada kinerja lokal. Pemerintah perlu mencoba mengajak bank pemberi kredit modal kerja untuk menurunkan suku bunga.

Baca:  CPNS Jatim 2012 Rekrutmennya Dipantau Ketat KPP - BKD

Menurutnya, suku bunga bank yang rata-rata berupa 12 persen masih memberatkan. “Padahal, kami punya langkah untuk mengincar pasar baru seperti Amerika Latin, Eropa Timur, Timur Tengah, dan Afrika. Tapi kan perlu dana segar untuk melakukan manuver ini, sedangkan kami sendiri terkendala dana,” paparnya.

Upaya lain yang bisa dilakukan pemerintah untuk menopang kinerja ekspor Jawa Timur adalah memperlancar birokrasi bea keluar, dengan membuat suatu kebijakan yang adil dan tidak merugikan usaha lokal. Juga, dibuat sistem yang lebih mudah dan efisien untuk dilaksanakan. “Alur dari bea cukai yang harus ke pusat dulu sangat merepotkan kami. Kalau bisa, dipotong ke kewenangan daerah. Kami pasti bisa lebih cepat,” tandas Isdarmawan. (nur/rie/hen/jpnn)

Baca:  Neraca Perdagangan Jatim Defisit Akibat Bengkaknya Impor

Suarakan Pendapatmu

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *