Home » Jawa Timur » Pemprov Jatim Tidak Bisa Intervensi Gejolak Harga Kedelai
Master tukang, tutorial pertukangan

Pemprov Jatim Tidak Bisa Intervensi Gejolak Harga Kedelai

Jawa Timur – Melambungnya harga kedelai di pasar tampaknya akan terus terjadi. Pasalnya, Pemprov Jatim angkat tangan dan tidak bisa melakukan intervensi untuk menekan harga bahan baku tahu dan tempe tersebut. “Yang bisa dilakukan hanyalah minta pemerintah pusat untuk menambah pasokan kedelai di Jatim.

Sebanyak 35 persen produksi kedelai Jatim tidak mencukupi menutupi kebutuhan di pasaran, sehingga harus impor,” kata Gubernur Jatim-Soekarwo, Rabu (25/7).

Soekarwo juga meminta petani agar mengubah pola tanaman dari padi dan tebu menjadi kedelai. Namun, diakui Soekarwo, banyak petani yang keberatan dan mereka tetap memilih menanam padi.

“Kondisi tingginya harga kedelai dipicu oleh tidak banyaknya petani yang menanam kedelai. Mereka lebih memilih menanam padi atau tebu yang memang lebih menguntungkan,” aku dia. Menurut dia, bertanam kedelai membutuhkan biaya tinggi. Penyakit tanamannya banyak, tapi  pemeliharaannya mahal.

Baca:  Ekspor Perhiasan Jatim Menjadi Andalan Sektor Non Migas

Secara nasional, produksi kedelai di Jatim sebenarnya cukup tinggi. Tapi, itu pun masih kurang jika dibandingkan dengan kebutuhan yang ada.  Jatim sendiri hanya menyuplai 35 persen kebutuhan kedelai. Seperti diketahui, sudah dua bulan ini, harga kedelai melambung. Dari harga biasa yang hanya Rp 5.500 menjadi Rp 8.000.

Akibatnya, perajin tahu dan tempe pun mengeluh karena bahan baku utama semakin mahal. Di sejumlah daerah, tahu dan tempe menjadi langka karena perajin mogok produksi.

Sementara itu, Asisten II Pemprov Jatim- Hadi Prasetyo menambahkan, rata-rata konsumsi masyarakat Jatim terhadap makanan berbahan kedelai (tahu/tempe) 420 ribu ton per tahun. Padahal, produksi kedelai tahun lalu hanya 368 ribu ton per tahun. Artinya, Jatim mengalami defisit
atau kekurangan 52 ribu ton kedelai per tahun.

Baca:  Petani Garam Jatim Protes Garam Impor

Kekurangan inilah yang selama ini ditutupi pasokan impor dari Amerika dan Tiongkok. “Tetapi saat ini, Amerika sedang dilanda kekeringan, jagung dan kedelai hancur di sana. Sedang, Tiongkok juga dilanda banjir dan membuat ekspor kedelai juga merosot,” kata Hadi. Menurut dia, naiknya  harga kedelai di Jatim dan beberapa daerah lain di Indonesia berimbas pada berkurangnya volume impor.

Ini disebabkan kondisi kekeringan di Amerika Serikat dan banjir di Tiongkok. Pihaknya memaparkan, data tahun 2011 lalu, produksi kedelai Jatim 368 ribu ton dengan luas panen 252 ribu hektare. Proyeksi tahun 2012, produksi kedelai Jatim dan luas panennya malah mengalami penurunan.
“Produksi diproyeksi menjadi 310 ribu hektare dan luas panen menjadi 218 ribu hektare.

Akibatnya, peningkatan defisit yang mulanya 52 ribu ton jadi 110 ribu ton yang harus dipenuhi lewat impor sampai akhir tahun ini. Ini akibat  animo petani yang kurang menanam kedelai,” jelasnya.

Baca:  Ajaib, Jenazah Masih Utuh Setelah Dikubur 19 Tahun

Pihaknya mengaku telah menggunakan varietas kedelai Baluran asal Banyuwangi yang menghasilkan 4 ton per hektare. “Jatim sudah berusaha dari
segi bibit, tapi percuma juga kalau petaninya tidak mau menanam kedelai. Ini karena masa tanam kedelai 70 hari, sulit dan tidak menguntungkan,” imbuhnya.

Padahal, lanjut dia, kedelai impor bentuknya lebih besar dibandingkan kedelai lokal. Tapi, rasa kedelai impor masih kalah enak jika dibandingkan dengan kedelai lokal. “Ketika harga normal dan belum melonjak seperti saat ini, harga kedelai impor memang lebih murah yakni Rp 5.500 per kg dan lokal Rp 7.500 per kg. Sekarang ini, kedelai impor menembus harga Rp 8.000 per kg,” ujarnya. (rou/rie/no)JPNN/RdrSBY

Suarakan Pendapatmu

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *