Home » Nasional » Ekonomi » MUI Kecipratan Noda Investasi Emas Syariah GTIS

MUI Kecipratan Noda Investasi Emas Syariah GTIS

GTIS 300x168 MUI Kecipratan Noda Investasi Emas Syariah GTIS

kontan.co.id

MUI Kecipratan Noda Investasi Emas Syariah GTIS. Yayasan milik Majelis Ulama Indonesia (MUI) kecipratan 10persen saham PT Golden Traders Indonesia Syariah (GTIS). Diduga imbalan pemberian label syariah. Kini bos GTIS kabur. Ma’ruf Amin sedang khusyuk menjalankan ibadah umrah di Tanah Suci Mekah, akhir Februari 2013.

Tiba-tiba sebuah kabar tidak mengenakkan didengarnya. Dirut perusahaan investasi emas, PT Golden Traders Indonesia Syariah (GTIS), Ong Han Chun alias Taufiq Michael Ong, kabur. Yang membikin investor makin frustrasi, Ong diduga kabur membawa ratusan miliar rupiah dana milik mereka.

Gara-gara itu, sejak Februari 2013, para investor perusahaan investasi emas itu tidak mendapatkan emas sesuai waktu yang dijanjikan. Padahal, biasanya pasca-mentransfer uang, emas akan diberikan dalam waktu tiga hari. Pembayaran bonus kepada para investor juga mulai tersendat pada awal Maret 2013.

Ma’ruf, yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu pun ikut merasa gelisah. Sebab, MUI mempunyai andil dalam perusahaan itu. MUI adalah lembaga yang memberikan label syariah kepada GTIS. Sertifikat itu diterbitkan pada 23 Agustus 2011. Sertifikat diteken oleh Ma’rufdan Ichwan Sam selaku Ketua dan Sekretaris Dewan Nasional Syariah (DSN) MUI.

Ma’ruf yang juga Ketua Dewan Pengawas Syariah MUI itu tidak mengira akan terjadi kekacauan bisnis GTIS. Selama ini, ia melihat GTIS berjalan sesuai koridor syariah. Namun, apabila terjadi pelanggaran, maka ‘sertifikat sakti’ itu akan dicabut. Pencabutan label syariah pernah terjadi pada produk-produk lainnya yang terbukti melanggar. “Kita evaluasi dulu, apakah dia masih tetap kita beri kesempatan atau kita cabut?” ujar Ma’ruf.

Kronologi Kasus Investasi Emas Syariah GTIS

GTIS adalah perusahaan investasi emas yang berpusat di Malaysia. Duduk di jajaran direksi selain Ong yaitu Edward Ho Choon Hoong. Adapun Komisaris Utama GTIS adalah Datuk Zahari Sulaeman. Perusahaan itu kabarnya memiliki cabang di berbagai negara. GTIS mulai melebarkan bisnisnya di Indonesia pada 2009.

Awalnya, GTIS bernama Golden Traders Indonesia (GTI). Lalu, pada 2011, Ong dengan motif untuk mengembangkan bisnis, mengubah GTI menjadi perusahaan yang berbasis syariah. Ong mendekati Aziddin, seorang mantan anggota MUI dan mantan politikus Partai Demokrat (PD). Aziddin, yang dipecat oleh PD terkait kasus praktik percaloan katering dan pemondokan haji tahun 2008 itu kemudian ditunjuk sebagai penasihat GTIS.

Melalui Aziddin-lah, Ong mempresentasikan konsep perusahaannya di depan para pengurus pusat MUI. Proses selanjutnya dilewati Ong dengan gampang. GTIS sebagai calon lembaga bisnis syariah awalnya masih kurang sempurna. Namun, perbaikan-perbaikan dibantu sepenuhnya oleh tim yang dibentuk DSN MUI. Selama proses itu, Ong juga tidak mengeluarkan duit sepeser pun kepada MUI.

“Memang tidak dikenakan biaya,” ucap Kanny Hidayat, Wakil Sekretaris DSN kepada majalah detik. Menurut Ma’ruf, MUI memandang GTIS layak mendapatkan sertifikat syariah. Sebab, GTIS bergerak di bidang jual beli emas. Investor membawa pulang fisik emas yang dibelinya. Tentang bonus yang diberikan rutin tiap bulan kepada nasabah, menurut Ma’ruf juga tidak dilarang. Bonus alias athoyyah itu tidak menyalahi ketentuan syariat Islam.

“Ada uang ada emas, jadi nggak ada masalah. Karena itu kita beri dia sertifikat (syariah),” kata Ma’ruf. Meski memakai label syariah, sebetulnya bisnis GTIS tidak jauh berbeda dengan perusahaan-perusahaan sejenis. GTIS menjual emas bersertifikat PT Antam Tbk kepada investor dengan harga lebih tinggi dari harga pasar.

Investor mendapatkan bonus jumbo, 2 persen setiap bulan. Dalam jangka tertentu, GTIS akan membeli kembali emas itu seperti harga di muka. Bila saat buyback itu harga pasaran lebih tinggi, maka GTIS akan membeli sesuai harga pasaran. Namun, sertifikat syariah yang diberikan MUI itu
berdampak luar biasa terhadap pertumbuhan bisnis GTIS di Indonesia. Selama dua tahun belakangan ini, GTIS mampu menjaring sekitar 10 ribu investor yang tersebar di berbagai kota. Adapun, emas yang dikelola GTIS disebut-sebut mencapai 1 hingga 3 ton.

Seorang investor asal Surabaya yang enggan disebut namanya mengaku tergoda membeli emas GTIS karena label syariah itu, di samping tentu saja imingiming bonus besar dan mendapat emas batangan secara fisik. Hal itu berbeda bila ia membeli logam mulia pada umumnya di PT Antam. “Kalau beli di Antam harus antre, dan bukan syariah,” ujar investor itu.

Tidak sekadar memasang logo syariah MUI, GTIS juga mencantumkan gambar Ma’ruf dan seorang pejabat tinggi dalam brosur dan kantor cabangnya di Indonesia. Bahkan, GTIS di beberapa kesempatan presentasi menghadirkan Ma’ruf di depan calon investor. Tujuannya untuk menggaet kepercayaan para investor itu. “Itu untuk menjelaskan saja bisnis syariah GTIS,” ucap Ma’ruf.

Sebagai bentuk ‘imbalan’ dari kesuksesan itu, MUI melalui Yayasan Dana Dakwah Pembangunan kecipratan jatah saham GTIS sebesar 10 persen. Aziddin membeberkan, perincian saham GTIS adalah: Ong 45 persen, Sulaeman 25 persen, Edward 20 persen, dan Yayasan Dana Dakwah Pembangunan MUI 10 persen.

Edward melalui pengacaranya di OC Kaligis & Partner, Mety Rahmawaty, menjelaskan, sebelum berganti nama menjadi GTIS, saham perusahaannya dimiliki oleh empat orang. Selain tiga nama yang sudah muncul ke permukaan, satu pemilik saham lainnya adalah Ahmad Fazli, juga berkewarganegaraan Malaysia. Lantas pada Juni 2011, Ong membeli 15 persen saham Edward. “Tanpa negosiasi,” kata Mety. Setelah berubah nama menjadi GTIS, menurut Mety, susunan pemegang saham pun berubah menjadi Ong Han Chun (Michael Ong alias Taufiq) sebesar Rp 445.275.000, Zahari bin Sulaeman sebesar Rp 247.375.000, Edward Ho Choon Hoong sebesar Rp 197.900.000 dan Yayasan Dana Dakwah Pembangunan sebesar Rp 98.950.000.

Perolehan saham GTIS oleh MUI itu menimbulkan tanda tanya, bahkan di kalangan MUI sendiri. Sebab, dalam setiap investasi, pihak yang memiliki saham haruslah menyetorkan modal. Sedangkan dalam kasus GTIS ini, Yayasan Dana Dakwah mendapatkannya secara gratis. “Tapi itu urusannya (pimpinan) MUI,” kata Kanny.

Ma’ruf buru-buru mengklarifikasi informasi tersebut. Menurutnya, nominal 10 persen yang diterima Yayasan Dana Dakwah Pembangunan MUI itu bukanlah saham, melainkan diberikan dari keuntungan GTIS. Uang itu antara lain digunakan untuk pembangunan sekolah-sekolah. Belakangan,
uang yang ditransfer ke yayasan pun seret.

“Belakangan nggak begitu bagus, jarang masuk,” ujar Ma’ruf. Selain pemberian stempel syariah, MUI juga didapuk menjadi pengawas bisnis GTIS. Pengawasan itu dilakukan oleh Dewan Pengawas Syariah MUI, yang juga dijabat oleh Ma’ruf selaku ketua dan Ichwan Sam sebagai sekretarisnya. DPS ini memantau apabila terjadinya pelanggaran praktik investasi GTIS.

Lembaga bagian dari MUI itu pun ikut sibuk menyelamatkan bisnis GTIS pasca-ditinggal kabur oleh Ong ke luar negeri. GTIS memutuskan menonaktifkan Edward. Sebuah Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) diselenggarakan di tempat yang tak diketahui pada 4 Maret 2013. Seluruh rekening dan aset GTIS dibekukan hingga adanya RUPS tersebut.

Langkah-langkah itu diumumkan kepada para investor DPS melalui sebuah surat yang berstempel MUI. Ikut menandatangani dokumen tersebut Ma’ruf, Ichwan Sam, dan Aziddin. Namun, sekali lagi Ma’ruf menyangkal MUI telah masuk dalam manajemen perusahaan GTIS. “Saya nggak mau ikut campur kalau urusan perusahaan,” ucap Ma’ruf. (detik.com/majalah detik/Reporter:M. Rizal, Hans Henricus, Bahtiar Rifai, dan Monique Shintami)

Kata Pencarian:

ong han chun (8),dato michael ong han chun (7),gold bullion indonesia penipu (3),Gtis berjalan dibidang usaha apa (3),perkembangan masalah gold bullion indonesia dengan nasabah (3),gtis terkini (3),kabar terbaru gold bullion indonesia (3),kabar terbaru tentang perbankan syariah (3),perkembangan kasus gti (2),perkembangan kasus gti syariah (2),golden traders indonesia syariah (2),goldentradersindonesiasyariah info terbaru (2),goldentradersindonesiasyariah juni 2013 (2),gtis terkini juni 2013 (2),gtis (2),kabar terkini gold bullion indonesia (2),gtis terbaru (2),kabar terakhir gold bullion indonesia (2),kabar terbaru gold bulion (2),kabar terbaru michael ong (2),perkembangan kasus gtis (2),GOLDEN TRADE INDONESIA SYARIAH (2),taufiq michael ong (2),gold bullion indonesia kabar terkini (2),gold bullion indonesia syariah penipuan berita terkini (2),www goldentradersindonesia com (2),taufik michael ong (2),berita terkini MUI mengenai GTIS (2),kasus terbaru mengenai perusahaan (1),kasus terbaru perbankan syariah di indonesia (1),perkembangan kasus gtis syariah per 1 juni 2013 (1),kronologi kasus ekonomi syariah (1),kronologi kasus PT Golden Trade Investasi Syariah (GTIS) (1),taufiq michael ong interpol (1),kasus penipuan saham diindonesia (1),kasus investasi malaysia syariah (1),Trading syariah 2013 (1),khabar terbaru gtis (1),kasus investasi emas mui (1),vidio vorno gtis (1),kasus gtis dengan lembaga MUI (1),kasus baru tentang perusahaan dan investasi (1),majelis ulama indonesia gtis (1),masalah ekonomi syari\ah terbaru 2013 (1),masalah investasi pasar uang syariah di indonesia (1),perkembangan kasus gti syariah per 1 juni 2013 (1),perkembangan kasus gtis terbaru juni 2013 (1),perkembangan kasus pt gtis (1),perkembangan kasus gold bullion indonesia (1),www goldentraider com (1),pt gold bullion indonesia (gbi) penipu (1),perkembangan info gti (1),PT Gold Bullion Indonesia pelanggaran (1),ong han chun datuk (1),pt golden traders indonesia syariah (gtis) (1),pt gtis (1),SIAPA ONG HAN CHUN (1),perkembangan gold bullion indonesia (1),OC Kaligis Gresik (1),OC Kaligis di Gresik (1),mui mengenai gti (1),kabarbaru gtis syariah (1),kabar terkini tentang gold bullion indonesia (1),alamat pt gtis yang baru (1),gold bullion indonesia syariah (1),gold bullion indonesia syariah penipuan (1),gold trade indonesia kabar terbaru (1),gold trade syariah penipuan (1),golden trade indonesia syariah berita terkini (1),golden traders indonesia menjadi gold bullion indonesia (1),golden traders indonesia syariah kabur (1),golden traders indonesia syariah pd bln juni 2013 (1),gold bullion indonesia kabar terbaru (1),gold bullion indonesia agustus 2013 (1),gold boullion kabur (1),berita investasi gold bullion (1),berita terbaru gold bullion indonesia (1),berita terbaru investasi gold bullion (1),berita terkini golden traders indonesia syariah (1),berita terkini juni kasus gtis (1),bisnis emas yayasan mui (1),bisnis investasi syariah malaysia (1),chun ong han (1),golden traders indonesia syariah penipuan (1),gti gold indonesia (1),kabar gtissyariah juni2013 (1),kabar perkembangan emas terkini (1),kabar pt gtis (1),kabar terakhir gti syariah 2013 (1),kabar terakhir kasus GTIS (1),kabar terbaru goldbullion indonesia biz (1),kabar terbaru tentang inves mas (1),kabar terbaru www goldbullionindonesia (1),kabar Gold bullion Indonesia terbaru (1),kabar gbi emas (1),investasi syariah terbaru (1),gti syariah juni 2013 (1),gti syariah masalah (1),gtis indonesia 2013 (1),info dari gtis (1)
logo pintu MUI Kecipratan Noda Investasi Emas Syariah GTIS

Suarakan Pendapatmu

comments

About Berita Gresik & Jawa Timur

Gresik.co merupakan media berbagi informasi untuk tumbuh bersama kesadaran politik, ekonomi, dan budaya masyarakat Gresik. Bagi para pelaku usaha kecil dan menengah ataupun komunitas bisa beriklan gratis tanpa biaya apapun. Silahkan buat review usaha anda sebanyak 200 kata atau lebih disertai foto dan alamat usaha lalu kirim ke pesan facebook kami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top