Home » Nasional » Gimana Sih Bro Sejarah Freeport Menemukan Emas Papua?
Master tukang, tutorial pertukangan

Gimana Sih Bro Sejarah Freeport Menemukan Emas Papua?

Gimana Sih Bro Sejarahnya Freeport Menemukan Emas Papua?. Freeport di papua menjadi topik yang paling hangat saat ini. Rentetan skandal dan konspirasi politik menjadi bumbu perjalanan Freeport di Indonesia. Pingin tau sejarah Freeport hingga eksploitasi emas papua? berikut ulasannya yang dilansir dari JPNN.

PADA 1966 rombongan eksekutif PT Freeport menyambangi Julius Tahija ke Jakarta. Topik perundingan seputar harta karun tanah Papua. Selama di Jakarta, sebagaimana dikisahkan Julius Tahija, rombongan dari Amerika itu menginap di Hotel Indonesia.

“Sesudah pertemuan saya dengan para eksekutif Freeport, saya menelepon teman yang pada saat itu menjabat Menteri Pertambangan dan Perminyakan,” tulis Tahija dalam otobiografinya Julius Tahija.

Apakah yang dimaksud adalah Ibnu Sutowo, Menteri Pertambangan dan Migas, pada 1966? Tahija tak menyebut nama.

“Dia (Menteri Pertambangan–red) akan melakukan kunjungan ke Amsterdam. Saya dan orang-orang Freeport segera terbang ke sana untuk membicarakan Ertsberg,” kenang Tahija.

Baca:  Yusril Bela Silver Sea II, Istana Bentengi Menteri Susi

Erstberg?

Erstberg berada dekat puncak Gunung Zaagkam. Tinggi puncak itu mencapai sekitar 4.830 meter. Termasuk gunung tertinggi di antara Pegunungan Himalaya dan Andes.

Jean Jacques Dozy, seorang pendaki gunung menyebutnya neraka geografis atau ujung dunia. Dozy adalah “orang pertama” yang membuat catatan tentang Erstberg.

Pada 1936-1937 Dozy mendaki Pegunungan Jayawijaya, Papua. Dalam catatan perjalanannya, Dozy menulis bahwa dirinya mendapati lapisan batuan yang luas mencuat di dekat puncak es.

Suatu pemandangan yang mencengangkan, dinding batu hitam yang mencuat beberapa puluh meter dengan bintik-bintik meneral tembaga hijau tak beraturan.

Sebagai ahli geologi Belanda, dia mengenali mineral chalcopyrite yang mengandung tembaga pada batu hitam itu.

Batu itu diberinya nama Ertsberg yang dalam bahasa Indonesia artinya gunung bijih.

Cukup lama catatan perjalanan Jean Jacques Dozy sang pendaki hanya menjadi koleksi perpustakaan Leiden, Belanda.

Harta Karun Papua

Baca:  Jaksa KPK Sebut Amin Rais Terima Transfer Duit Korupsi Alkes

Dekade 1950-an, peneliti yang kerap keluar masuk perpustakaan Leiden tak sengaja mengubak catatan perjalanan Dozy.

Catatan Dozy dipelajari baik-baik oleh Forbes Wilson, seorang ahli geologi yang bekerja sebagai manajer eksplorasi sulfur di Freeport.

Mencium pesona harta karun di tanah Papua, lobi-lobi pun dilakukan.  Sejurus kemudian, PT Freeport  mendapat wewenang untuk mengeksplorasi wilayah itu dari Belanda yang saat itu masih menguasai Papua.

Mencuplik Forbes Wilson dalam The Conquest of Copper Mountain, April 1960 dirinya mulai mempersiapkan petualangan. Bulan Mei dia berangkat untuk membuktikan catatan Dozy.

Pendakiannya disertai 60 orang yang dipersiapkan untuk mengangkut kembali sampel bijih tembaga.

Alam Papua lebih ganas daripada dugaannya. Angin di puncak gunung terlalu kencang. Wilson dan orang-orangnya harus memaku tenda dan kantong tidurnya agar tidak terbang.

Pendek kisah, setelah berjibaku, Wilson kembali dengan membawa ratusan kilo sampel batu Erstberg.

“Dalam perjalanan pulang ke New York bulan Juli 1960, saya begitu gembira dengan penemuan saya di Erstberg,” tulis Forbes dalam The Conquest of Copper Mountain.

Baca:  Bisnis Gelap Jual Beli Ginjal, Benarkah Rumah Sakit Besar Ikut Telibat?

Namun hingga, “dua tahun kemudian saya belum melakukan apa-apa. Setiap hari saya cuma makan siang sambil melakukan penelitian tentang ekspedisi awal di Irian Barat di Perpustakaan Umum New York dan sore harinya menuliskan catatan tentang ekspedisi 1960,” imbuhnya.

Enam tahun kemudian..

Februari 1966. Orang-orang Freeport mendatangi Julius Tahija ke Jakarta. Di Hotel Indonesia mereka menginap. Melansir cerita Julius Tahija, ternyata, Freeport bersaing memperebutkan Erstberg dengan perusahaan Perancis.

Rupanya, Freeport juga gamang, apakah pemerintah Indonesia kembali ke sistem tertutup yang anti modal asing? Lalu, apakah fasilitas pertambangan dapat didirikan di daerah yang sangat ganas alamnya seperti Irian?

“Saya memberikan saran, menjawab pertanyaan, dan menolong mereka,” kenang Tahija dalam otobiografinya. –(wow/jpnn/pul)

Suarakan Pendapatmu

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *