Home » Pilkada Gresik 2015 » Uang Haram PDAM Gresik Rp. 50 M Diduga Mengalir ke Pilkada
Master tukang, tutorial pertukangan

Uang Haram PDAM Gresik Rp. 50 M Diduga Mengalir ke Pilkada

Direktur eksekutif Masyarakat Transparansi Anggaran Jawa Timur (MATRA) Andri Irawan meminta bawaslu Jatim melakukan pengawasan pencucian uang korupsi untuk dana Pemilu. Andri Irawan Menyatakan terdapat kasus korupsi PDAM Gresik yang telah dilaporkan ke KPK. Diduga Incumbent menggunakan BUMD sebagai sapi perah mencari modal kampanye.

Kasus ini berawal ketika PDAM Gresik melakukan kerjasama dengan dua rekanan dalam membangun instalasi pengolahan air pada tahun 2012.

Direktur Teknik PDAM Gresik Chris Hadi Santoso menjelaskan, kronologis awalnya PDAM Gresik melakukan kerjasama dengan dua investor membangun instalasi pengolahan air di Driyorejo tahun 2012. Negara diperkirakan mengalami kerugian Rp. 50 Miliar.

Kasus ini berawal ketika PDAM Gresik melakukan kerjasama dengan dua rekanan dalam membangun instalasi pengolahan air pada tahun 2012.

Pertama, dengan PT Drupadi Agung Lestari terkait rehabilitation operation transfer yang proses pembangunannya mangkrak dan hanya diselesaikan sekitar 50 persen yang menelan dana sebesar Rp 86 miliar.

Baca:  Rilis Survey LSI, Pasangan SQ Masih Unggul

Kedua, adalah kerjasama dengan PT Dewata Bangun Tirta terkait pembangunan instalasi air di Legundi. Dalam proyek ini, pembangunan selesai dengan menelan dana Rp 46 miliar, namun PDAM jadinya membeli air baku di perusahaan ini dengan harga yang lebih mahal.

“Untuk yang proyek pertama dalam perjanjian ada batas waktu yang harus diselesaikan dalam pembangunan yakni kurun waktu satu tahun, tapi hingga empat tahun pembangunan tak kunjung selesai. Dan ini seakan dibiarkan serta tak ada tindakan apapun baik dari PDAM maupun Pemkab Gresik hingga sekarang ini, dengan demikian jelas merugikan masyarakat,” tuding Chris saat ditemui LICOM di Surabaya, Rabu (04/11/2015).

Selanjutnya, yang dimaksud mengalami kerugian sebesar Rp 50 miliar, yakni bersangkutan langsung dengan pembelian air yang dilakukan PDAM ke PT Dewata Bangun Tirta. Sebab PDAM kekurangan produksi air, sehingga diharapkan perusaahaan itu bisa membantu kekurangan air yang dibutuhkan PDAM Gresik.

Baca:  Kandidat Pilkada Gresik 2015 Kompak Daftar Bersama

Kata dia, sekarang ini, PDAM Gresik hanya memproduksi air 450 liter per detik. Padahal PDAM Gresik mampu memproduksi air 550 liter per detik. Justru yang 100 liter per detik dimatikan dan membeli semua air 200 liter per detik yang diproduksi PT Dewata Bangun Tirta.

“Pada saat masih menjabat waktu itu harga pokok air produksi PDAM hanya berkisar Rp 1.000-1.200 per meter kubik. Kalau beli ke mitra harganya sampai Rp 2.500 per meter kubik dan sampai sekarang masih beli ke mitra. Saat itu kita melakukan kerjasama karena produksinya kurang, tapi harusnya kan yang kurangnya aja yang dipenuhi tapi ini jadi kelebihan,” katanya.

Selisih harga ini lah yang dipermasalahkan para mantan pegawai PDAM Gresik yang telah pensiun per Maret 2015 kemarin. Dengan demikian, PDAM Gresik terus mengalami kerugian secara akumulatif yang mencapai Rp 50 miliar.

Baca:  Nomor Pilkada Gresik 2015, SQ No. 1, Berkah No.2, Arjuna No. 3

“Untuk masalah ini saya dan Pak Zaki Zulkarnaen Mantan Direktur Umum PDAM Gresik sempat dituduh sebagai pihak yang menyebabkan kerugian itu. Akhirnya kami berdua sempat dipecat tahun 2012 dan kami ngga kterima lalu kami ajukan ke PTUN yang pada akhirnya kami menang dan dipekerjakan kembali pada tahun 2013 dan sekarang ini sudah pensiun,” tambah Chris.

Pihaknya menduga, dalam kerjasama dengan dua investor tersebut ada yang tak beres, namun sengaja dibiarkan baik oleh PDAM maupun Pemkab Gresik.

“Saat itu Bupatinya kan masih beliau (Sambari Halim Rudianto). Dan kami menduga ini ada praktik korupsi sehingga kami sudah mepaorkan ini ke KPK pada September lalu. Ini saya sudah diberikan tanda terima yang intinya laporan kami diproses KPK,” tukasnya. (LI-COM/PojokPitu)

Suarakan Pendapatmu

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *