Home » Resensi » Buku » Gerwani, Kesaksian Mereka yang Dilumpuhkan

Gerwani, Kesaksian Mereka yang Dilumpuhkan

Judul buku: Gerwani: Kisah Tapol Wanita di Kamp Plantungan
• Penulis: Amurwani Dwi Lestariningsih
• Penerbit: Penerbit Buku Kompas
• Cetakan: I, 2011
• Tebal: 296 halaman
• ISBN: 978-979-709-602-1 WIJANARTO

Historiografi perempuan Indonesia hingga kini terkadang masih terasa semacam repertoar gelap dan cenderung stigmatis. Dinamika emansipasi dan instrumen politik menjadi ranah yang sering kali masih sensitif dalam menelaah progresivitas peran dan gerakan perempuan itu sendiri.

Salah satu memori yang masih melekat tetapi cenderung menjadi reportase gelap adalah upaya rekonstruksi historiografi tahun 1965 menjadi penulisan utuh (bukannya seperti serpihan atas beberapa tafsir). Tafsir yang melekat dan sampai sekarang menjadi keyakinan tunggal adalah pendistorsian terhadap organisasi Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani).

Peran organisasi perempuan ini telah ditahbiskan oleh negara melalui teks-teks hingga seluloid film sebagai stereotip perempuan yang kurang bermoral dan terlibat dalam Peristiwa 30 September 1965. Studi Saskia E Wierenga dan Katherine E Mc Gregor menunjukkan betapa wacana tunggal kekuasaan telah melakukan stigmatisasi terhadap lembaga Gerwani. Deskripsi tunggal yang dibenarkan instrumen negara tersebut menumbuhkan proses anarki kekuasaan yang mencuatkan kekerasan simbolik.

Kekerasan simbolik ini melahirkan kepatuhan dan kefasihan dalam diam yang harus diterima oleh perempuan Indonesia. Demikian halnya dengan perlakuan negara yang ditimpakan kepada pengurus dan anggota Gerwani sesudah mereka dituding terlibat di dalam peristiwa 30 September 1965.

Berbeda dengan buku lainnya yang mengupas Gerwani dari sisi institusional serta garis kebijakan politik feminisme, studi Amurwani berbicara tentang kehidupan personal anggota dan pengurus Gerwani ketika mereka dinaturalisasi dalam pusat ”rehabilitasi”, Tempat Pemanfaatan Sementara Tahanan G30S/PKI Golongan Wanita di Plantungan.

Mitos Plantungan sebagai kamp tahanan politik wanita merupakan sejarah gelap yang harus diceritakan. Karena masih banyak yang harus dieksplorasi dan belum diketahui, dibandingkan dengan tempat sejenis di Pulau Buru yang cukup banyak dipublikasi.

Buku yang semula merupakan tesis pascasarjana di Universitas Indonesia ini pada garis besarnya terbagi dalam tiga fragmen, yakni tentang wilayah Plantungan hingga dijadikan sebagai kamp tapol Gerwani, kisah penangkapan anggota dan pengurus Gerwani, hingga mereka di-”plantung”-kan serta kehidupan mereka di Plantungan.

Kamp lepratorium

Berada di wilayah yang terpencil di kaki Gunung Prahu (Kendal), pemerintahan Orde Baru menetapkan Plantungan yang semula merupakan rumah sakit untuk kaum lepra (lepratorium) menjadi kamp tahanan untuk perempuan—meminjam istilah dokter Sumiyarsi Siwirini—”pengidap lepra politik”. Secara ideologis keberadaan kamp ini bertujuan pembinaan tahanan politik agar dapat kembali menjadi warga Indonesia yang baik sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945.

Gelombang pertama kedatangan tapol wanita ke Plantungan berasal dari beberapa tahanan politik dari Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Solo, Ambarawa, dan Surabaya. Termasuk dalam gelombang ini adalah tokoh-tokoh seperti Mia Bustam (mantan istri pelukis Sudjojono), Sri Kayati (istri Rewang), Rose Pandanwangi, dokter Sumiyarsi Siwirini (Orba menjulukinya dokter Lubang Buaya), Murtiningrum (kerabat keraton Yogyakarta), dan Sutiah (istri Ruslan Kamaludin, tokoh PKI Jawa Timur).

Sebagai kamp tahanan politik perempuan, Plantungan menyimpan cerita undercover yang sebelumnya tak pernah terpublikasikan. Ada cerita protes para tapol mengenai pembagian beras yang disebut ”Beras Erwin”. Menurut para tapol, beras ini baunya tajam dan tidak enak. Sumiyarsi melakukan aksi protes saat ada tapol yang muntah setelah mengonsumsinya. Akibat protes tersebut, Sumiyarsi dipindahkan ke blok pengucilan (blok C2) dan kerap dijuluki sesama tapol wanita sebagai ”pig pen” (maksudnya kandang babi).

Juga cerita menarik dari penuturan Mia Bustam yang dipekerjakan sebagai kepala taman. Guna memperindah taman dan menghindarkan rumput tidak terinjak, Mia meletakkan beberapa batu. Persoalan mengemuka ketika pimpinan kamp menghitung jumlah batunya sembilan. Karena petugas tersebut mengaitkan angka 9 dengan bulan September yang mengingatkan tragedi September 1965—angka yang dianggap rawan dalam pemerintahan Orba.

Memori personal

Kekuatan buku ini terletak pada eksplorasi penulisan sejarah yang mengandalkan pada memori personal yang tidak mudah untuk mengoreknya. Terdapat sebagian mantan anggota Gerwani yang menyembunyikan identitas mereka dan mengubah dengan identitas baru. Pengalaman trauma politik dan posisi mereka yang dikorbankan dalam kejadian 1965 adalah alasan penyebab mengapa mereka ingin tetap mengubur masa lalu. Selain mengandalkan memori personal, sumber primer buku ini juga dari beberapa memoar pribadi para mantan tapol ini, seperti catatan Mia Bustam (telah dipublikasikan) atau catatan dokter Sumiyarsi Siwirini.

Apa yang dilakukan penulis di dalam buku ini adalah memindahkan memori personal para mantan tapol (yang secara hukum belum tentu mereka menyandangnya) untuk dihadirkan di ruang publik. Bagaimana mereka menjadi korban turbulensi politik 1965— sebagaimana cerita Sumilah yang salah tangkap atau dilecehkan secara seksual (sebagai perbandingan baca studi Fransisca Ria Susanti, Kembang-kembang Genjer, 2007).

Dalam kekerasan simbolik, obyek perempuan diposisikan sebagai sesuatu pembenaran atas perilaku yang dianggap tipikal, bukan ideal sebagaimana layaknya perempuan. Politik tubuh perempuan yang direpresentasikan atas selera sensualitas merupakan mainstream yang mengemuka. Ketiadaan historiografi perempuan secara adil di Indonesia mengakibatkan perempuan berada pada halaman belakang dan sekadar memenuhi ruang- ruang buram penulisan sejarah. Dan, di Plantungan—meminjam ungkapan Pramoedya Ananta Toer—jangan sampai mereka menjadi warga yang ”dilumpuhkan”.(kompas)

Wijanarto Penulis Lepas, Tinggal di Brebes

Kata Pencarian:

kesaksian korban pki (16),kesaksian anggota gerwani (10),kesaksian mantan pki (8),kesaksian korban g30s pki (7),kesaksian pki (7),kesaksian tapol pki (6),kesaksian anak pki (6),tahanan gerwani (6),kesaksian anggota pki (5),pengakuan anak pki (5),pengakuan gerwani (5),penyiksaan tahanan PKI (5),gerwani (5),pki gresik (4),pengakuan tapol pki (4),kesaksian korban g30s (4),GRESIK DALAM SEJARAH PKI (4),trabedi wanita g 30 pki (4),pelecehan gerwani (4),kesaksian pelaku g 30 s pki (4),kesaksian pelaku G30s/pki (4),pengakuan gerwani pki (4),Penyiksaan anggota pki (3),gambar penangkapan pki (3),korban gerwani (3),pelaku dan korban G30S 1965 (3),kesaksian para gerwani (3),peristiwa g 30 s pki 1965 (3),kesaksian mantan anggota pki (3),kesaksian pelaku g30spki (3),korban g 30 s pki (3),kesaksian pelaku g30s pki (3),kesaksian pelaku g30s (3),penangkapan pki (3),kamp tapol pki (3),kesaksian para pelaku g 30 s pki (3),pelaku g30s (3),kesaksian g30s (3),kesaksian korban korban pki (3),pengakuan korban pki (3),kesaksian para pelaku g30s/pki (2),foto2 g 30s pki (2),peran gerwani pada peristiwa G 30 S PKI (2),Pelaku G30SPKI (2),gambar gambar penyiksaan pki (2),perkosa gerwani (2),penyiksaan wanita (2),penyiksaan tapol pki dan gerwani (2),penangkapan gerwani (2),pengakuan ex tapol G30S/PKI (2)
logo pintu Gerwani, Kesaksian Mereka yang Dilumpuhkan

Suarakan Pendapatmu

comments

About Berita Gresik & Jawa Timur

Gresik.co merupakan media berbagi informasi untuk tumbuh bersama kesadaran politik, ekonomi, dan budaya masyarakat Gresik. Bagi para pelaku usaha kecil dan menengah ataupun komunitas bisa beriklan gratis tanpa biaya apapun. Silahkan buat review usaha anda sebanyak 200 kata atau lebih disertai foto dan alamat usaha lalu kirim ke pesan facebook kami

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top