Home » Resensi » Info Film Terbaru » Film Guru Bangsa: Tjokroaminoto, Sang Guru dari Peneleh
Master tukang, tutorial pertukangan

Film Guru Bangsa: Tjokroaminoto, Sang Guru dari Peneleh

Film Guru Bangsa: Tjokroaminoto, Sang Guru dari Peneleh. “SUDAH sampai mana hijrah kita, Gus?” Dalam beberapa kesempatan, Tjokroaminoto (Reza Rahadian) melontarkan pertanyaan itu kepada Agus Salim (Ibnu Jamil). Pemuda yang ditanya ini datang jauh-jauh dari Koto Gadang, Sumatera Barat, ke Surabaya untuk mendukung dan
bergabung dengan Sarekat Islam bentukan Tjokro.

Hijrah sejak kecil ditanamkan kakek Tjokro, seorang ulama Ponorogo, Kiai Bagoes Kesan Besari. Hingga tahun-tahun berikutnya, hijrah jadi kunci gerak di setiap tikungan hidupnya.

Dia melawan mandor Belanda yang semena-mena dengan menumpahkan teh tepat di depan hidung si mandor. Akibatnya, Tjokro dipecat dari pekerjaannya sebagai juru tulis di sebuah pabrik.

Tjokro memutuskan meninggalkan rumah nyaman orang tuanya di Ponorogo dan menitipkan istrinya, Soeharsikin (Putri Ayudya), yang tengah mengandung ke orang tuanya, hijrah ke Surabaya untuk bekerja di pelabuhan.

Berbilang bulan Tjokro tak pulang dan tak ada kabar sampai-sampai ayahnya, Mangoensoemo (Sujiwo Tejo), menyarankan Soeharsikin bercerai saja. Namun perempuan itu berteguh suaminya cuma satu, Tjokro. Tjokro pulang ke Ponorogo saat putrinya, Oetari, sudah lahir.

Dia menjemput istri dan anaknya untuk dibawa ke Surabaya dan memulai hidup baru. Ibunda Tjokro (Maia Estianty) membekali menantunya batik-batik tulis cantik untuk suatu hari jadi penawar rindu. Mereka tinggal di Gang Peneleh, Surabaya.

Setelah berhenti bekerja sebagai ahli kimia sebuah di pabrik di Surabaya, pada 1912 Tjokro memulai karier politik. Dia menerima tawaran Samanhudi untuk mengembangkan Sarekat Dagang Islam (SDI), pertama dengan mengubah nama organisasi itu jadi Sarekat Islam (SI).

Baca:  Film Olympus Has Fallen, Ketika Gedung Putih Dilumpuhkan Teroris

Tujuan SI memajukan perdagangan, menolong anggota yang kesulitan, memajukan kepentingan bumiputra, dan memajukan kehidupan agama Islam. Samanhudi sebagai ketua, Tjokroaminoto sebagai komisaris untuk daerah Jawa Timur. Organisasi ini berkembang pesat dan menjadi organisasi terbesar pertama dengan 2 juta anggota dari berbagai kelas sosial.

Lewat SI, Tjokro berpidato dari kota ke kota, menyerukan kebangkitan rakyat bumiputra yang dipandang seperempat manusia. Di Bandung, misalnya, dia berpidato, “Tidak wajar untuk melihat Indonesia sebagai sapi perahan yang diberi makan hanya disebabkan susunya.”

Loteng Rumah Peneleh adalah kamar kos pemuda, seperti Sukarno, Semaoen, Alimin, dan Moesso. Mereka murid-murid politik Tjokro dengan pandangan politik masing-masing. Sukarno yang paling rajin melatih pidatonya, terinspirasi pidato-pidato Sang Guru. Demikian besar pengaruh Tjokro bagi rakyat hingga pemerintah Hindia Belanda menjulukinya Raja Jawa tanpa Mahkota.

Baca:  Film Leher Angsa, Cerita Apik Dari Kaki Gunung Rinjani

Guru Bangsa, Tjokroaminoto akhirnya rampung dibikin dan dapat disaksikan mulai 9 April 2015. Selain tentang pahlawan nasional Tjokroaminoto (1882-1934), film ini juga serbasekilas menampilkan situasi politik di tempat lain pada masa yang sama, yang mempengaruhi politik di Hindia Belanda.

Siapa Snouck Hurgronje dan Henk Sneevliet, bagaimana semangat Revolusi Tiongkok dan Revolusi Rusia membakar semangat pemuda, pergolakan di Turki menyebabkan banyak penduduk Yaman (Hadramaut) mengungsi hingga ke Hindia Belanda, bagaimana gejolak politik di Garut, bagaimana pertentangan partai nasionalis dan Islam, serta beragam-ragam masalah kemanusiaan.

Dan jika di sekolah yang diajarkan adalah sejarah formal, seperti tempat-tempat penting bagi politikus, dari Tjokroaminoto kita tahu ada
“sejarah kecil”, bukan cerita yang berkobar-kobar, melainkan yang manis.

Kita jadi tahu, di masa hidup Tjokro, ada komedi stamboel sebagai industri hiburan penting, pelabuhan sebagai sejarah turisme industri baru perkebunan karet dan kopi, dan Mata Hari si penari telanjang yang jadi matamata.

Internationale, lagu komunis internasional, dinyanyikan tanpa ada masalah. Ibunda Tjokro sambil memainkan piano menyanyikan Surabaya Johnny, lagu yang dipopulerkan artis Jerman, Carola Neher, pada 1929.

Sutradara Garin Nugroho menekankan pada detail, pada perlambang, dan perhatian yang besar pada gesture. Set Surabaya awal abad ke-
20 dibangun di Yogyakarta termasuk Rumah Peneleh, lori, dan pabrik pengolahan karet. Tak aneh jika untuk riset sejarah saja memakan
waktu dua tahun.

Baca:  Film Rush, Pertarungan Abadi 2 Legenda Balap F1

Ansambel pemain pun baik dan saling mengisi. Christine Hakim “dipaksa” menurunkan standar keaktrisannya untuk berperan sebagai
Mbok Tambeng. Aktor-aktris dari Teater Garasi Yogyakarta dan kelompok ludruk dari Surabaya tampil sangat memukau sebagai pemain
pendukung.

Aktor serbabisa Reza Rahadian benar-benar bagai bunglon, bedanya ekstrem dari satu film ke film lain. Dia sudah bermain demikian bagus
sebagai B.J. Habibie di Habibie & Ainun (2012), sebagai bapak yang sendirian membesarkan putrinya di film Brunei, Yasmine (2014), dan
sebagai pendekar bernama Biru di Pendekar Tongkat Emas (2014).

Kali ini sebagai Tjokro yang mengobarkan kesadaran bumiputra akan harga diri mereka. Tjokroaminoto juga menyodorkan bintang baru, Putri Ayudya sebagai Soeharsikin, istri Tjokro.

Menyaksikan Tjokroaminoto adalah menelusuri peta kecil masa lampau untuk memahami peta politik negeri dan dunia sekarang. Betapa
ternyata persoalan-persoalan dua abad lampau berulang lagi sekarang. Tjokroaminoto memberi cara memahami negeri ini. ■
SILVIA GALIKANO/MAJALAH DETIK

Suarakan Pendapatmu

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *