Home » Resensi » Info Film Terbaru » Film Leher Angsa, Cerita Apik Dari Kaki Gunung Rinjani

Film Leher Angsa, Cerita Apik Dari Kaki Gunung Rinjani

Film Leher Angsa, Cerita  Apik Dari Kaki Gunung Rinjani . Ada kisah tentang penduduk desa yang belum mengenal jamban. Saat sudah kenal pun, kadang tak kuasa menolak panggilan untuk mencelupkan bokong di dinginnya air sungai yang mengalir.

Pagi yang tenang di Desa Sembalun, Lombok Timur. Aswin (Bintang Panglima) bersiap pergi bermain dengan kawan-kawannya. Inan (ibu – Tike Priyatnakusumah) duduk di beranda sedang menggulung benang untuk ditenun.

“Wah mau menenun ya?” Pak Tampan (Lukman Sardi) keluar rumah, menghampiri Inan.

“Kelihatannya?”

Inan menyahut sambil terus menggulung benang.

“Tapi udaranya lebih enak untuk ke ladang.”

“Memang Bapak mau ke mana? Nyabung ayam ya?”

“Ndak. Mau ketemu orang. Ada urusan penting.” Tentu Pak Tampan berbohong. Dia tidak punya janji dengan siapa pun, dia hanya ingin pergi ke tempat langganannya, arena sabung ayam. Terpaksa Inan yang hari itu ke ladang, membersihkan rumput di sela-sela tanaman kol, sementara Aswin dan tiga kawannya berlarian di lajur-lajur ladang.

Siang harinya, pekerjaan Inan sebenarnya sudah rampung. Tapi dia pergi ke balik bukit untuk membantu ladang tetangganya. Baru saja Inan hilang dari pandangan Aswin, pesawat latih ringan melintas rendah sekali dalam posisi oleng ke arah balik bukit. Tak lama kemudian terdengar suara “bummmm!!!” Pesawat jatuh di balik bukit dan meledak seketika. Inan yang masih di balik bukit meregang nyawa tertimpa pesawat.

Aswin dendam sekali dengan Bapak yang seharusnya pagi itu ke ladang, bukan Inan. Bapak membela diri dengan alasan bencana itu sudah kehendak Tuhan dan dia juga sama sedihnya dengan Aswin. Tapi ketika pemilik pesawat datang ke rumah dan memberikan amplop tebal ke Bapak, Pak Tampan tak pernah lagi mengatakan bencana itu kehendak Tuhan.

Apalagi sewaktu tiga bulan kemudian Bapak menikah lagi dengan perempuan muda dan cantik, wajah Bapak semakin ceria. Hobinya menyabung ayam jalan terus.

Desa tempat Aswin tinggal dilalui sungai deras dan jernih. Inilah toilet raksasa yang muat untuk seluruh penduduk desa, tak heran jika tak ada penduduk yang merasa perlu membuat jamban di rumah masingmasing. Hanya rumah Pak Kepala Desa (Ringgo Agus Rahman) yang punya jamban jongkok.

Esok pagi setelah pesta pernikahan, istri baru Pak Tampan (Alexandra Gottardo), mondar-mandir dari depan ke belakang, dari belakang ke depan, mencari jamban. Aswin mengantar inan barunya ini ke jamban komunal yang untuk mencapainya harus jalan kaki dulu beberapa puluh meter menuruni bukit, ya sungai tadi.

Di sungai pun Inan tidak leluasa. Dia tidak terbiasa buang hajat di sungai. Butuh empat perempuan yang masing-masing membentangkan kain panjang membentuk bilik darurat di sungai, khusus untuk Inan.

Aswin yakin, bukan karena bapaknya tidak mampu, tapi lebih karena bapaknya pelit hingga hari ini rumah mereka tidak punya jamban. Masalah ini dijadikan Aswin sebagai bahan pelajaran Mengarang di sekolah. Pak Guru Haerul (Teuku Rifnu Wikana) mendukung ide Aswin dan mengajarkan pada murid lain tentang perlunya jamban ada di rumah masing-masing.

Pak Guru menggambarkan jamban yang sehat adalah yang model leher angsa. Kita menangkap pesan berlapis dalam Leher Angsa. Ada pesan tentang jamban yang sehat, tentang komunikasi bapak dan anak, tentang birokrat norak yang masih laku, serta tentang persahabatan empat bocah
kampung dengan kekhasan masing-masing.

Selain Aswin yang kutu buku, ada Sapar yang hidup berdua saja dengan ayahnya yang miskin, Johan yang senang bermain biola walau hasilnya cuma nada melengking-lengking yang minggat dari harmoni, dan Najib si tegap yang suka olahraga. Masing-masing karakter punya pergulatannya
sendiri dan ketika dibaurkan dengan yang lain jadi paduan yang renyah.

Adu akting Bintang Panglima dan Lukman Sardi jempol banget. Paling intens di bagian akhir ketika keduanya berdialog panjang. Bagaimana karakter Aswin merinci “dosa” bapaknya sementara bapaknya kesakitan akibat bisul di bokong yang tak kunjung pecah. Dialog ini saja memakan sembilan halaman script tapi hanya tiga kali take.

Karakter Pak Kades yang sangat komikal dibawakan secara sempurna oleh Ringgo. Perhatikan cara Pak Kades menggerakkan tangan kanan ke atas agar lawan bicara memperhatikan jam tangannya, seolah karakter ini menyindir seorang tokoh yang jam tangan mewahnya jadi sorotan. Belum lagi kalimat “Saya selaku kepala desa” yang dia ucapkan berulang-ulang itu, beuh birokrat sejati.

Karakter “menggemaskan” macam ini sudah jadi makanannya selain memang tak jauh dari image Ringgo selama ini. Masih dengan kekhasan produksi Alenia Pictures yang mengeksplorasi kecantikan Nusantara, kali ini kita dibawa melihat indahnya Rinjani di Lombok Timur dan dekatnya budaya di sini dengan Bali. Cara provokasi yang efektif untuk mengenal Indonesia dan mengajak orang Indonesia menjelajah tanah airnya sendiri. (silvia Galikano/majalah detik/detik.com)

Kata Pencarian:

sinopsis film leher angsa (7),leher angsa film (3),kritik film leher angsa (2),resensi film leher angsa (2),cerita leher angsa (2),Leher Angsa (1),leher angsa gunung rinjani (1),majalah detik gunung rinjani (1),oleng putra rinjani (1),leher angsa film review (1),RESENSI FILM-CERITA-NOVEL-TENTANG LEHER ANGSA (1),resensi leher angsa (1),Review film leher angsa (1),review leher angsa (1),seks dengan angsa (1),tempat pembuatan film leher angsa (1),Legenda angsa2 (1),alasan leher angsa panjang (1),kisah gunung rinjani (1),angsa leher panjang (1),cerita apik (1),cerita ayam dan angsa (1),cerita seks apik (1),Cerita seks nafsu pak sardi (1),ceritaapik (1),film angsa leher panjang (1),film leher angsa di surabaya (1),film leher angsa kritik (1),film rinjani (1),film terbaru alenia (1),gunung angsa (1),harga buku novel leher angsa (1),jalan cerita leher angsa (1),video mesum di balik bukit (1)
logo pintu Film Leher Angsa, Cerita  Apik Dari Kaki Gunung Rinjani

Suarakan Pendapatmu

comments

About Berita Gresik & Jawa Timur

Gresik.co merupakan media berbagi informasi untuk tumbuh bersama kesadaran politik, ekonomi, dan budaya masyarakat Gresik. Bagi para pelaku usaha kecil dan menengah ataupun komunitas bisa beriklan gratis tanpa biaya apapun. Silahkan buat review usaha anda sebanyak 200 kata atau lebih disertai foto dan alamat usaha lalu kirim ke pesan facebook kami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top