Home » Teknik Budidaya » Budidaya Pertanian » Berkebun Hidroponik, Trend Agro di Perkotaan
Master tukang, tutorial pertukangan

Berkebun Hidroponik, Trend Agro di Perkotaan

Berkebun Hidroponik, Trend Agro di perkotaan.Semakin sempitnya lahan perkotaan mamacu masyarakat untuk terus berinovasi. Trend perkebunan hidroponik adalah salah satu contohnya. Hidroponik merupakan teknik budidaya tanaman tanpa media tanah.

Teknik-teknik terbaru hidroponik terus berkembang di masyarakat. Jauh-jauh hari William Frederick Gericke memprediksi bahwa hidroponik akan merevolusi cara bercocok tanam.

Ia mengucapkannya 78 tahun silam, pada 1937, ketika kali pertama istilah hidroponik diciptakannya usai percobaan menanam tomat di halaman belakang rumahnya. Semula dosen University of California, Berkeley, Amerika Serikat, itu hendak memberi nama geoponik. Atas saran rekannya, WA Setchell, Gericke menamainya hidroponik, budidaya dalam air.

Semula hidroponik hanya menanggalkan tanah. Tempat “berpijak” tanaman itu digantikan air yang mengalir sembari membonceng nutrisi untuk memenuhi kebutuhan tanaman.

Pada awal abad ke-21 ini, hidroponik bukan hanya menanggalkan tanah. Sistem itu memungkinkan tanpa sinar matahari. Super Green di Bangkok, Thailand, membuktikan menanam sayuran kristal Mesembryanthemum crystallinum dalam kulkas bersuhu amat dingin.

Baca:  Cara Budidaya Kentang Industri

sistem hidroponik modern

Tanaman subtropis asal Afrika Selatan yang lazim tumbuh pada suhu 15°C itu berpindah ke Bangkok yang panas, suhu rata-rata 34°C. Sayuran yang renyah, bercitarasa gurih, itu tumbuh dalam kulkas sepanjang hidupnya.

Sejak persemaian hingga panen selama 45 hari tak pernah sekalipun “bersentuhan” dengan sinar mentari. Ia mampu tumbuh nirsurya. Dua hal yang semula selalu melekat dalam budidaya tanaman—tanah dan sinar matahari—kini ditanggalkannya.

Keruan saja berhidroponik tidak harus berinvestasi mahal untuk pengadaan kulkas khusus. Para pehobi yang hendak menekuni budidaya tanpa tanah itu bisa memanfaatkan hidroponik jinjing yang sederhana.

Sebagai sarana belajar, sekaligus penghias teras atau ruang tamu, pehobi dapat memanfaatkan hidroponik jinjing yang praktis. Sebab, dimensi hidroponik jinjing relatif kecil, hanya berukuran 53 cm x 43 cm x17 cm.

Baca:  Cara Lengkap Menanam Wortel untuk Pasar Industri dan Konsumsi

Kini siapa pun bisa berhidroponik. Malahan berkebun tanpa belepotan tanah itu sudah menjadi bagian gaya hidup kaum urban. Instalasi ringkas dan tidak membutuhkan lahan luas menjadi daya tarik tersendiri.

Hidroponik menawarkan beragam kemudahan bercocok tanam bernilai estetis. Kunto Heribowo, praktikus hidroponik di Tangerang Selatan, Provinsi Banten, merakit instalasi hidroponik mini bersistem aeroponik.

Malahan Ajud Tajrudin di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, memanfaatkan stirofoam bekas keranjang buah untuk membuat hidroponik. Ia membuat instalasi mini dengan teknik sumbu. Dengan cara sederhana itu pun ia mampu memanen beragam sayuran hasil budidaya hidroponik.

Direktur Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis Institut Pertanian Bogor, Dr Ir Arief Daryanto MEc, mengatakan teknik hidroponik memiliki beberapa keuntungan.

Baca:  Budidaya Pohon Balsa dan Prospek Pasar yang Menggiurkan

Para pelaku dapat memanfaatkan lahan terbatas. Mereka menyiasati lahan sempit dengan teknik bertingkat sehingga produktivitas pun melonjak. Keunggulan lain, produk lebih sehat. Itu sejalan dengan gaya hidup masyarakat perkotaan. “Penduduk kota hanya memiliki lahan terbatas dapat membudidayakan sayuran di rumah untuk dikonsumsi sendiri,” kata Arief.

Hidroponik tak melulu soal budidaya. Istilah yang diperkenalkan oleh William Frederick Gericke itu juga bernilai seni. Keindahan itu bisa ditemukan di Hotel Greenhost Boutique, Prawirotaman, Yogyakarta. Hotel 4 lantai itu menjadikan hidroponik sebagai salah satu daya tarik.

Semua selasar dari lantai 2 hingga lantai ke-4 menjadi kebun sayuran hidroponik. Dahulu tak terbayangkan sebuah rak sayuran menghias selasar atau lobi hotel. Sebab, beragam tanaman hias lebih lazim menyambut kedatangan para tamu. (Andari Titisari – Majalah Trubus)

Suarakan Pendapatmu

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *