Home » Teknik Budidaya » Peternakan » Rahasia Meramu Pakan Ayam kampung Pedaging
Master tukang, tutorial pertukangan

Rahasia Meramu Pakan Ayam kampung Pedaging

Rahasia Meramu Pakan Ayam kampung Pedaging. Trend peternakan ayam kampung pedaging terus tumbuh. Masyarakat sangat menyukai daging ayam kampung karena dianggap lebih sehat dan lebih enak dibanding ayam pedaging ras.

Ayam kampung atau seringkali juga disebut dengan nama baru “ayam buras (bukan ras) atau “ayam lokal” pada dekade terakhir ini juga mulai menyedot perhatian dari berbagai pihak, baik Pemerintah, Perguruan Tinggi, Balai Penelitian Ternak, Swasta maupun masyarakat.

Menurut DR. Ir. Tike Sartika, MS dan DR. Ir. Sofjan Iskandar, MS (2007) peneliti senior dari Balai Penelitian Ternak – Ciawi Bogor, Indonesia memiliki 43 jenis ayam lokal yang merupakan “plasma nutfah asli Indonesia” yang wajib kita lestarikan. Kedua peneliti tersebut membagi ayam lokal sesuai dengan pemanfaatan utamanya, yaitu 4 jenis ayam hutan, 5 jenis ayam penyanyi (biduan), 5 jenis ayam yang digunakan untuk upacara adat, 5 jenis ayam hias, 5 jenis ayam aduan, 5 jenis ayam penghasil telur dan daging, 5 jenis ayam langka yang perlu diexplotasi dan 8 jenis ayam langka yang informasinya belum lengkap.

Ayam lokal selama berpuluh bahkan beratus tahun hidup bebas di alam terbuka (diumbar) dan mencari pakan sendiri, malam hari betengger di pohon yang tinggi.

Sesuai perjalanan waktu ayam lokal mulai dipelihara secara ekstensif di desa-desa dengan penyediaan kandang, pemberian pakan seadanya dan pengeraman telur diserahkan pada induk ayam sendiri.

Baca:  Mengenal Berbagai Jenis Murai Batu dan Pengelompokannya

Pemeliharaan ayam serupa ini sangat lamban pengembangannya sehingga kehadiran ayam lokal tidak mampu memenuhi permintaan yang semakin hari terus meningkat sejalan dengan pertambahan penduduk dan peningkatan pendapatan.

Kini ayam kampung sudah mulai dipelihara secara intensif (terkurung dalam kandang) baik ayam bibit, ayam petelur komersial maupun ayam pedaging maka dibutuhkan standar pemberian pakan, macam pakan sesuai umur dan tujuan pemeliharaan ayam kampung tersebut agar management sehari-hari lebih mudah.

Pakan untuk ayam kampung pedaging

Gunawan, B dan T. Sartika (2001) menyatakan bahwa ayam kampung (unsex) untuk mencapai bobot badan 0,9 kg membutuhkan waktu 12 minggu dengan total konsumsi pakan 3 kg/ekor (Feed Konversi =± 3,39 ).

Hasil penelitian terbaru Balitnak (2007) menunjukkan periode pemeliharaan ayam KUB (Kampung Unggul Balitbang) untuk tujuan diambil dagingnya biasanya lebih pendek lagi yaitu sekitar sampai umur 7 – 8 minggu saja untuk mencapai bobot badan 0,9 – 1,0 kg dengan menggunakan kandang terbuka (open house).

Penggunaan kandang tertutup diharapkan dapat mencapai bobot badan lebih dari 1 kg. Pada Tabel 1 berikut disajikan konsumsi pakan, bobot badan dan kepadatan (density) ayam kampung pedaging dengan kandang tertutup (close house).

 

Tabel 1. Konsumsi Pakan, Bobot Badan & Kepadatan Kampung Pedaging dengan Kandang Tertutup (Closed House).

Umur

Konsumsi Pakan

 

Bobot Badan

 

Kepadatan

(minggu)

(gram/ekor)

Kumulatif (gram)

Stamdart

(gram)

Pertambahan

(gram)

(ekor/m2)

1

7

49

75

40

40

2

19

182

170

95

25

3

34

420

275 – 285

105

15

4

47

749

395 – 405

120

15

5

58

1.155

530 – 540

135

15

6

66

1.617

675 – 685

145

15

7

72

2.121

830 – 840

155

15

8

74

2.639

990 – 1.010

160

15

9

76

3.171

1.160 – 1.175

170

15

10

77

3.710

1.340 – 1.355

180

15

11

78

4.256

1.525 – 1.540

185

15

12

79

4.809

1.650 – 1.665

125

15

Baca:  Budidaya Kroto, Prospek Bisnis dan Metode Ternak Kroto

Sumber : Dari berbagai literatur.

 

Untuk ayam kampung pedaging sebaiknya dipakai pakan campuran konsentrat pabrikan, jagung giling dan dedak halus lebih praktis dan agar biaya pakan jatuh lebih murah dan keuntungan lebih besar. Pada Tabel 2 berikut disajikan pakan campuran konsentrat tersebut.

Tabel 2. Pakan Ayam Kampung Pedaging Self Mixed Campuran Konsentrat, Jagung Giling & Dedak Padi.

Bahan Baku

Prosentase (%)

ME (Kcal/kg)

Protein Kasar(%)

Calsium (%)

Phospor (%)

Konsentrat

30

555,0

9,5

3,0

0,33

Jagung Giling

40

1.328,0

3,6

0,008

0,108

Dedak Padi

30

930,0

3,6

0,09

0,48

Total

100

2.813,0

16,8

3,098

0,918

Sumber : Dari berbagai literatur.

Bila berbagai bahan baku setempat cukup tersedia secara kontinyu, dapat juga mencampur sendiri dengan menggunakan bahan baku tersebut hanya untuk jumlah ayam yang dipelihara cukup banyak (ribuan atau puluhan ribu ekor) sangat merepotkan di samping kualitas pakannya tidak begitu meyakinkan. Sebagai contoh disajikan pada Tabel 3 berikut.

Baca:  Ternak Ayam Kampung Super (Joper) Semakin Diminati

Tabel 3. Pakan Ayam Kampung Pedaging (Self Mixed) Tanpa Konsentrat.

 

Bahan Baku

Prosentase (%)

ME (Kcal/Kg)

Protein Kasar (%)

Calsium (%)

Phospor (%)

Jagung Giling

35

1.200

3,04

0,07

0,05

Tepung Gaplek

30

900,0

0,99

0,174

0,030

Dedak Padi

5

31,5

0,60

0,020

0,005

Bungkil Kedele

19

460,0

8,32

0,060

0,070

Tepung Ikan

4

118,5

1,81

0,220

0,110

Tepung Daun Lamtoro

3

83,7

0,71

0,050

0,020

Tepung Tulang

3

0,720

0,360

Kapur

1

0,380

Total

100

2.854,5

15,63

1,73

0,65

Sumber: Prof. Dr. Ir. Yuwanta Dipl. Ing. (2007).

Untuk mempertahankan rasa gurih daging ayam kampung yang dipelihara intensif seperti ayam kampung yang diumbar (dilepas bebas), sebaiknya ayam kampung dipelihara di kandang ren (kandang berpagar yang dilengkapi tempat berteduh) sehingga ayam dapat bermain dan mengais-ngais).

Ayam Kampung pedaging akhhir-akhir ini mulai meningkat kebutuhannya karena ada beberapa resto yang khusus menyediakan makanan ayam kampung. Harganya yang premium membuat banyak peternak berlomba-lomba membiakkan ayam kampung pedaging.

Suarakan Pendapatmu

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *