Home » UMKM » Bangkit dari kegagalan, kini sukses berkat `Peniti`
Master tukang, tutorial pertukangan

Bangkit dari kegagalan, kini sukses berkat `Peniti`

Tidak semua orang mampu bangkit dari sebuah kegagalan. Tidak banyak juga di antara kita yang bisa merenungi dan menjadikan kegagalan sebuah pelajaran. Namun bagi Oky Mia Octaviany, kesuksesan yang diraih sekarang salah satunya justru andil dari kegagalan yang pernah dialami sebelumnya.

Berawal dari kegagalannya saat mencoba terjun di usaha makanan, pemilik usaha dengan nama ‘Peniti’ ini mampu membuktikan diri bahwa seorang perempuan juga mampu sejajar dengan laki-laki dan mengelola banyak jenis usaha. Sebut saja produksi beragam aksesoris seperti, bros, gelang, tas, anting, serta hiasan jilbab, busana Muslim, hingga rias pengantin.

Namun memang sebelum menapaki bisnis yang sudah menggurita itu, banyak hal yang harus dilalui dan dirasakan perempuan kelahiran Surabaya Oktober 1971 silam ini.

“Saya mulai bangkit dan merenung mengapasaya gagal merintis usaha makanan, karena memang saya tak suka masak. Memang, itu membuat suami saya mearang keras saya berbisnis. Oleh karena itu, secara diam-diam saya mencoba menggeluti lading bisnis lain yang selama ini saya sukai,” papar Oky ditemui di rumah sekaligus workshop-nya di kawasan Prapen Surabaya.

Baca:  Bantuan Menkop Untuk Pelaku UKM Jelang MEA

Berawal dari usaha kecil-kecilan dengan mengutak-atik aksesoris dan disesuaikan atau pasangkan dengan aksesoris lain atau busana yang dipakai, tahun 2000 lalu Oky mampu menciptakan aksesoris yang bisa dipakai oleh perempuan berjilbab. Alasannya, ia yang juga berjilbab itu ingin tetap tampil modis.

Gayung bersambut, karena hasil coba-cobanya tersebut disambut positif teman dan saudaranya. Kenyataan itu kian memantabkannya untuk serius di usaha itu. Ia melihat potensi pasar aksesoris berbahan batu-batuan, mutiara, manik-manik, bambu patah, hingga kristal Swarovski cukup terbuka. Apalagi sang suai akhirnya mendukung.

“Saya beruntung karena saat ini pemerintah daerah cukup mendukung, misalnya dengan bantuan pameran, dan sebagainya,” ujar penulis buku berjudul ‘Cantik & Gaya dengan Bros’, serta ‘Cantik dengan Rangkaian Manik dan Batu’.

Baca:  Pemerintah Permudah Akses UMKM Terhadap Perbankan

Sekitar tahun 2008, di saat produk aksesorisnya sudah dikenal pasar, istri Banyon Anantoseno ini melirik pasar busana Muslim. Usaha ini memang masih ada hubungannya dengan produk aksesoris. “Memang, produk ini banyak pemainnya, tapi saya lebih menawarkan eksklusivitas. Selain kualitas bahan, jahitan yang halus dan rapi juga menentukan, sehingga produk saya nyaman dipakai,” kata Oky yang melabeli produknya dengan merek Oky dan Jiddan ini.

Bahan yang dipilih Oky cukup beragam, mulai bahan kaos, katun, corduroy, siffon, hingga jins. Baginya, bahan yang dipilih disesuaikan dengan momen dan kenyamanan penggunanya. Bahkan saat ini, tersedia busana muslim lukis, baik untuk pesta maupun santai.

Untuk memperluas jaringan pasar, Oky memebuk gerai di Royal Plasa dan Jembatan Merah Plasa. Harga yang dipatok beragam, mulai Rp 150.000-1,5 juta per potong. Dengan 13 tenaga kerja yang dikerahkannya, Oky mampu memproduksi sekitar 100 potong baju setiap bulannya.

Baca:  Jika Ingin Tumbuh dan Berkembang, UMKM Harus Go Online

Dalam kesempatan itu Oky juga menyampaikan kegembiraannya karena saat ini banyak perempuan pengusaha muncul. Mereka bahkan mampu membuktikan bahwa kaum Hawa memiliki potensi sama.

“Dan bagi yang akan memasuki dunia usaha, pesan saya jangan takut untuk mencoba dan gagal. Kalau tahu kelemahan itu insya Allah bisa diatasi. Tak ada yang gagal, yang benar adalah belum tercapai. Apalagi sekarang banyak peluang, tergantung kemauan kita,” tandas ibu dua anak yang berencana menulis dua judul buku, tentang fashion batik kontemporer dan busana muslim ini. kbc7

Kata Pencarian:

banyon anantoseno (1)

Suarakan Pendapatmu

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *