Home » UMKM » Bank Sampah Meduran Gresik Beromzet Puluhan Juta
Master tukang, tutorial pertukangan

Bank Sampah Meduran Gresik Beromzet Puluhan Juta

Bank Sampah Meduran Bersatu Gresik Beromzet Puluhan Juta

RATNO DWI SANTO – Wartawan Radar Gresik

MANYAR GRESIK – Bank Sampah memang tak asing lagi sebagai solusi mengurangi volume limbah rumah tangga. Namun Bank Sampah Meduran Bersatu (BSMB)  nampaknya lebih istimewa. Seperti apa ? CUKUP menarik untuk mengikuti program BSMB yang terletak di pinggir Jl Raya  Meduran. Selain dikelola oleh tim yang solid, BSMB juga mendapat sokongan dari PT Petrokimia Gresik melalui dana Kemitraan dan Bina Lingkungan.

Tidak hanya gudang tapi juga kantor disediakan untuk para pengelolanya. Layaknya sebuah perusahaaan, pengelola yang berlatar belakang pegiat
PKK ini memiliki jabatan dari direktur, sekretaris hingga pemasaran dan teller. Sesuai dengan jabatannya, seorang teller misalnya  bertanggungjawab atas pendaftaran nasabah baru. Juga melakukan pencatatan atas sampah yang disetor seorang nasabah di buku rekening. “Warga yang ingin menjadi nasabah menyetor uang Rp 5 ribu untuk membuka rekening,” kata Marketing

Baca:  Musim Haji Perajin Kerudung Gresik Banjir Pesanan

BSMB Siti Fitriyah kemarin. Hingga saat ini jumlah nasabah yang tercatat sebanyak 256 orang. Dipastikan angka ini akan terus berkembang seiring dengan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Ada dua sistem yang dipakai, yaitu sistem aktif dan pasif. Sistem aktif mengajak warga mengepak dan memisahkan sendiri sampah anorganik sebelum disetor. Sedangkan sistem pasif merupakan kegiatan tim bank sampah mengambil sampah anorganik di rumah warga.

Buah dari upaya yang dikerjakan telah nampak, setidaknya sekarang bank sampah dapat menghasilkan omset sampai dengan 30 juta selama enam
bulan. Bandingkan dengan omset dari bank sampah lainnya yang hanya Rp 2 juta. Pendirian BSMB ini berawal dari ibu-ibu PKK dari Desa Romoo
yang kewalahan mengumpulkan sampah. Dalam hitungan hari sedikitnya ada 75 meter kubik sampah yang dikumpulkan.

Baca:  Gresik Rawan Banjir Temporer Akibat Kurangnya Perawatan Drainase

Karena jumlahnya cukup banyak, mereka meminta bantuan ke PT Petrokimia Gresik (PG) berupa tong sampah. Salah satu penggeraknya, Siti Fitriyah, menjadi pioner warga Desa Romoo, Kecamatan Manyar sekaligus penggagas pengolahan sampah kreatif dan efektif. “Kami sempat bingung mau dikemanakan sampahsampah ini. Sebab, bentuk sampahnya masih campur aduk,” ujar Siti Fitriyah.

Setelah mendapat bantuan berupa tong sampah, ibu-ibu PKK yang berjumlah 14 orang hanya memiliki bekal mengelola sampah dengan cara  komposting. Namun, di tengah perjalanan cara tersebut dianggap kurang kreatif. Pasalnya, komposting hanya diperuntukkan bagi tanaman  karena
hanya bisa dijadikan pupuk organik saja. Sedangkan sampah lainnya, seperti bekas botol minuman, botol sirup, kaleng besi, seng, panci stainless, paralon bekas, dan kaleng aluminium tidak dapat didaur ulang menjadi komposting.

Baca:  Kemeperin Akan Memberi Bantuan Peralatan Industri Kecil di Gresik

Berangkat dari sinilah, ibu-ibu PKK Desa Romoo mulai menuangkan idenya dengan memilah-milah sampah yang dibuang atau tidak terpakai. Selanjutnya sampah itu dikumpulkan di satu tempat untuk dijadikan aksesoris, baik berupa tas, dompet, maupun taplak meja. “Dari ide inilah kami
mencoba mendirikan Bank Sampah sebagai tempat pengumpulan sampah yang tidak terpakai untuk komposting dibuat aksesoris,” kata Siti  Fitriyah. Untuk penanganan ini mereka bermitra dengan manajemen PT PG.(*/ris)

sumber foto: www.banksampahmeduranbersatu.wordpress.com

baca juga: Menggunakan Sosial Media Sebagai Media Kampanye Politik

 

Suarakan Pendapatmu

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *