Home » UMKM » Emping Mekarsari Sukses Angkat Ratusan UMKM
Master tukang, tutorial pertukangan

Emping Mekarsari Sukses Angkat Ratusan UMKM

Bagi sebagian orang, nama Mekarsari Snack sudah bukan hal asing lagi. Gerai sekaligus merek produk camilan ini sering menjadi jujugan dan oleh-oleh bagi mereka yang berkunjung ke Sidoarjo atau Surabaya.

Meski masih terbilang skala kecil menengah, namun Mekarsari Snack boleh dibilang mampu bersaing dengan produk makanan ringan (camilan) lain yang sudah besar. Ragam jenis produk, rasa, kualitas dan harga yang terjangkau menjadi daya tarik tersendiri.

Di tangan sang pendiri sekaligus pemiliknya, Ida Widyastuti, Mekarsari terus berkembang pesat, termasuk inovasi-inovasi baru terhadap produk dan kemasannya.

Memang, usaha yang kini sudah menggurita ini tak lepas dari kerja keras wanita kelahiran Demak, Jawa Tengah Oktober 1974 silam ini. Kisah suksesnya berawal dari ketertarikannya pada emping melinjo hasil

oleh-oleh saudaranya. Dasar karakternya yang tidak suka berdiam diri di rumah, di awal tahun 2001 lalu ia pun mencoba berjualan emping melinjo.

“Saat suami saya pergi bekerja, saya mulai berkeliling menawarkan emping ke pasar-pasar tradisional di Sidoarjo. Terkadang saya naik becak sambil menggendong anak pertama saya yang saat itu berumur 6 bulan. Hingga sempat dijuluki Ida Bakul Emping oleh para pedagang toko,” kata istri Haris Setiawan ini.

Ia beruntung karena dalam waktu tidak lama dagangannya laku keras. harga yang lebih murah membuat empingnya banyak diminati konsumen. Sejumlah toko dan pasar tradisional di Jatim bahkan telah menjadi pelanggannya.

Baca:  Anang Samsul, Pencipta Motif Batik Loh Bandeng Gresik

Tahun 2003, karena dirasa usaha sang istri mulai jalan. Haris memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya di salah satu perusahaan otomotif. Bukan hal yang mudah memang memutuskan untuk melepas pekerjaan yang selama ini sudah dirasa nyaman.

“Bagi saya itu bagaikan sebuah perjudian. Menunggu hasil yang belum pasti. Namun saat itu tekad saya mumpung masih muda, kalau jatuh masih bisa bangkit lagi. Risikonya, kami harus memulai dari awal, bahkan tak memiliki apa-apa,” ulas ida.

Mulailah keduanya aktif menjajakan emping yang akhirnya mereka namai dengan merek ‘Kawanku’. Produk ini menguasai pasar hingga ke Kalimantan. Emping Kawanku memang dikenal paling murah. Tak heran dalam setahun pasokannya mencapai 300 ton. Namun, feeling Ida sebagai pebisnis membawanya agar melakukan pencarian produk lain. Sambil berburu pasar, Ida terus mencari produk camilan lain yang mungkin bisa dijual.

“Dari situlah, muncul ide saya untuk mencari jajan-jajan tradisional yang bisa dikembangkan. Kamipun mulai berburu ke pelosok-pelosok desa, mencari orang yang tepat untuk diajak bekerja sama, UKM yang masih kecil dan belum tersentuh secara maksimal. Menemukan mereka, memberikan modal kerja, melakukan pendampingan hingga bisa menghasilkan sebuah produk yang layak jual, itu membutuhkan ketelatenan yg luar biasa, juga kesabaran. Namun itu saya lakukan dengan senang hati,” ungkap Ida yang mengaku saat itu sudah membawahi sekitar 50 UKM.

Baca:  Semen Gresik Ajak Mitra Binaan Ikut Pameran

Tahun 2005 Ida membentuk UD Mekarsari. Produk-produknya termasuk karya UKM binaannya mampu menembus sejumlah provinsi, bahkan ia membuka cabang di Denpasar, Bali, karena tingginya permintaan sekaligus memperlancar distribusi barang di daerah itu.

Tahun itu juga ia menemukan sebuah daerah di Trenggalek, dimana sebetulnya daerah itu potensi untuk ditanami pisang, namun selama ini masyarakatnya kurang tertarik untuk membudidayakannya karena tidak bisa mengolah menjadi sebuah produk bernilai jual serta tidak punya pasar.

Merasa punya kepentingan untuk memperkuat sisi bahan baku, ia pun menyewa puluhan hektare lahan di sana untuk ditanami pisang sekaligus mendirikan pabrik keripik pisang dengan melibatkan warga di sekitarnya. “Sekitar 80 orang terutama ibu-ibu terlibat dalam produksi di sana,” ungkap Ida.

Memang tak mudah memberdayakan UKM dan petani. Keluhan klasik dari para petani adalah modal kerja, dan itu ia jawab dengan memberikan support dana untuk pembibitan awal dan juga pupuk yang dibutuhkan selama masa tumbuh, yang pengembaliannya dipotong saat panen.

“Bahkan sempat ada keraguan dari mereka atas pasar hasil panen pisangnya. namun untuk menunjukkan keseriusan kami, kamipun membuat perjanjian secara tertulis tentang hal itu,” ulas ibu dua anak ini.

Baca:  Gresik Kota Lama Antara Kuliner dan Kejayaan Masa Lalu

Hingga kini produk Mekarsari telah menyebar ke berbagai kota di Indonesia seperti di Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Irian jaya, NTB. Bahkan ada beberapa konsumen yang memasarkan hingga ke luar negeri, seperti Malaysia, Singapura, Hongkong, Brunei, dan Amerika yang sudah di kemas ulang dengan merek mereka.

Sementara untuk lebih mengenalkan produknya ke masyarakat untuk pasaran ritel, sekitar tahun 2009 Ida mendirikan Roemah Snack Mekarsari di kawasan Pondok Jati Sidoarjo. Di toko ini, ada ratusan item camilan bisa dijumpai. Sukses membuka outlet di Sidoarjo, Ida kembali membuka cabang di Krian.

Dengan dibantu 80 orang di bagian produksi dan 80 orang di bagian distribusi serta didukung ribuan UKM binaan Ida bisa menghasilkan puluhan ton camilan setiap harinya. Meski begitu, ia toh tak pusa sampai di situ. Inovasi baru terus ia ciptakan. Misalnya dengan membuat produk keripik pisang agung aneka rasa, hingga opak pisang yang dikemas modern.

“Ini kami lakukan agar produk camilan tradisional bisa diterima pasar modern dan bisa naik kelas,” tegasnya.

Tak hanya itu, untuk lebih memperkuat pundi-pundi bisnisnya, pada April 2011 lalu ia juga merambah usaha tour travel dengan mendirikan usaha ‘Mekarsari Tour & Travel’ di Sidoarjo. kbc7 (kabarbisnis.com)

Suarakan Pendapatmu

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *