Home » UMKM » Tinggalkan pekerjaan demi batik khas Surabaya
Master tukang, tutorial pertukangan

Tinggalkan pekerjaan demi batik khas Surabaya

Kelolalah hobi Anda, karena niscaya kegiatan itu bisa bermanfaat. Hal itu pula yang disadari Putu Sulistiani, yang berkat hobinya sejak kecil akhirnya bisa menjadi ladang bisnis. Kesukaanya pada kegiatan melukis membuatnya penasaran bagaimana kain batik dapat dibuat dengan warna warni yang dapat menghipnotis setiap mata yang memandang.

Ya, meski dilahirkan di Singaraja pada Agustus 1957 silam, ia seakan tak bisa dipisahkan dari kota Surabaya. Maklum, ia sudah hijrah ke kota ini sejak 34 tahun lalu. Ikatan yang begitu erat dengan Kota Pahlawan membuatnya ingin memberikan sesuatu bagi kota ini. Memang, pencapaian obsesi itu tidak begitu saja ia raih. Berbekal pendidikan di Fakultas Farmasi Universitas Airlangga Surabaya, ia sempat bekerja di perusahaan kosmetik hingga menjadi apoteker.

Memang, awalnya Putu hanya prihatin dengan ketenaran Surabaya tapi tak memiliki satu pun cenderamata khas. Menurutnya, sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya hanya dikenal sebagai tujuan wisata belanja. Puluhan mal bertebaran di segala penjuru kota. Belum lagi pasar-pasar modern dan pusat-pusat jajanan yang hampir ada di mana saja. Ini karena makanan khas Surabaya jumlahnya memang beragam. Dan lama-kelamaan seseorang baru mulai kebingungan mencari cenderamata bercirikan Surabaya ketika hendak meninggalkan kota.

Baca:  Cara Bisnis Jitu UMKM Dengan Virtual Office

Sadar akan potensi yang dimiliki dan bisa dikembangkan di Surabaya, Putu pun memilih batik, selain didasari oleh belum adanya batik khas Surabaya, ia juga memiliki minat dan kemampuan terhadap seni lukis.

“Saat SMP saya pernah belajar melukis kepada pelukis kenamaan Wayan Peng Song. Pada 2004 saya berkeinginan kuat terhadap batik Surabaya, dan untuk menemukan kekhasan Surabaya saya menggali sejarah dari berbagai literatur,” papar Putu yang mengaku hanya bermodal Rp 500.000 untuk memulai usaha itu.

Bahkan untuk lebih memperdalam pengetahuannya, dia nekad mendatangkan guru khusus membatik dari Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR). Putu juga rela meluangkan waktu untuk belajar lebih dalam ke Balai Batik di Yogyakarta sejak 2002 lalu.

“Saya kursus membatik selama dua minggu di Jogjakarta. Lalu saya praktikkan sendiri di rumah, karena saya punya target bahwa ketika usia 45 tahun harus sudah resign dan punya usaha sendiri di rumah,” lanjut istri Eddi Budi Prabowo ini.

Pengorbanan waktu dan biaya itupun akhirnya membuahkan hasil. Kini Putu sudah bisa memperkenalkan sejumlah motif batik andalannya. Selain motif Sawunggaling, dia juga menorehkan motif Semanggi, Suro, dan Boyo sebagai ciri khas batik Surabaya. Motif itu sudah mewakili semua yang berbau Surabaya. Motif semanggi misalnya lebih mendominasikan jenis tanaman yang banyak disebut di Surabaya. Demikian pula dengan Sawunggaling yang diartikan sebagai ayam jago. Motif lainyang banyak dipilih pelanggannya Suro (ikan hiu) dan boyo (buaya) yang selama ini dikenal sebagai lambang kota Surabaya.

Baca:  Kenapa UMKM Lebih Tahan Krisis Dibanding Perusahaan Besar?

Jika pada awalnya Putu hanya melibatkan dua orang untuk membantu, saat ini ia membawahi 33 ortang karyawan dan mampu memroduksi rata-rata 30 lembar kain batik setiap dua hari sekali. Setiap bulan, ia bisa menjual minimal 200 lembar kain batik utuh, di luar batik yang telah dijadikan baju siap pakai.

Yang menarik, dari keseluruhan karyawannya, sebagian besar perempuan. Hanya dua orang laki-laki yang bertugas di pewarnaan. Baginya, ada kebanggaan tersendiri ketika bisa membantu para perempuan khususnya ibu-ibu rumah tangga bisa bekerja. “Mereka mau maju dan bekerja keras untuk membantu ekonomi keluarga. Itu perlu dihargai,” tandasnya.

Putu juga selalu memberikan dukungan positif bagi para perempuan yang mau maju dan menekuni suatu bisnis. Menurutnya, jika punya hobi apapun itu, hendaknya dikelola dan dijadikan sebuah peluang. Jika sebuah bisnis berjalan sesuai kesukaan, besar kemungkinan akan berkembang. “:Asal dijalani dengan tekun dan telaten,” ungkap Putu.

Baca:  Bank Sampah Meduran Gresik Beromzet Puluhan Juta

Di butiknya yang terletak di Jemursari Utara II/19 Surabaya ini, ragam kain batik nan cantik, juga batik yang telah dijahit menjadi baju siap pakai. Tak hanya batik dari kain katun yang ia produksi, tapi juga yang berbahan sutra. Kalau bahan katun dijual mulai Rp 650.000-1,5 juta, sementara batik sarimbit (sepasang) dari sutra mulai Rp 6 jutaan. Pasar yang dibidik selama ini sudah jelas, menengah atas.

“Galeri cuma satu, tidak niat buka lagi. Pemasaran lainnya dengan ikut pameran di dalam dan luar negeri tergantung mitra perusahaan yang membina. Lumayan kalau jadi mitra binaan BUMN bisa dapat pinjaman lunak, kalau pinjam lewat bank bunganya kelewat tinggi,” papar dia.

Mantan Ketua Ikatan Keluarga Sarjana Farmasi Indonesia Cabang Jatim, Sekretaris Dewan Kesenian Daerah Surabaya dan anggota Rotary Club Surabaya Timur ini berharap batik selalu dicintai masyarakat, sehingga bisa dikenal di dunia internasional. Apalagi, batik Indonesia sudah mendapat pengakuan dunia melalui Unesco.

Satu obsesi yang ingin ia wujudkan, adalah berdirinya museum batik, yang bisa dijadikan tempat untuk memamerkan serta menjual produk batik dari seluruh kabupaten/kota di Jatim. kbc7 kabarbisnis.com

Suarakan Pendapatmu

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *