Home » Uncategorized » Hanya Ada 2 Calon Pilkada Jember, diduga ada Pragmatisme Parpol
Master tukang, tutorial pertukangan

Hanya Ada 2 Calon Pilkada Jember, diduga ada Pragmatisme Parpol

Terkait pilkada jember yang hanya mengusung dua pasangan calon untuk beradu dalam ajang pemilihan kepala daerah Desember mendatang dianggap sebagai bukti adnaya permainan pragmatisme partai politik.

Hal ini dinyatakan oleh pengamat politik Universitas Jember M Nur Hasan yang menilai bahwa pemilihan kepala daerah Jember, Jawa Timur, merupakan bukti pragmatisme partai politik.

Sebab tidak satupun partai mengusung kader internal sendiri. Salah satu pasangan calon kepala daerah yang akan berlaga dalam pilkada Jember yakni Sugiarto (Sekretaris Kabupaten Jember) – Dwi Koryanto (Plt Direktur RSD dr Soebandi Jember) yang didukung oleh Partai Gerindra, PKS, Partai Golkar, PPP, Partai Demokrat, dan PKB. Sementara itu, pasangan lainnya adalah Faida (Direktur RS Bina Sehat Jember) – Muqit Arief (Pengasuh Pesantren) yang didukung oleh Partai Nasdem, Hanura, PAN, dan PDIP.

Baca:  Lapak PSK Pamekasan Dibongkar Satpol PP

“Melihat fenomena itu, parpol gagal menghadirkan kader mereka dalam ajang pilkada. Tidak ada satu pun bakal calon bupati dan wakil bupati dari kader partai politik,” kata Nur Hasan di Jember, Minggu (2/8/2015).

Menurutnya, parta politik tidak sukses dalam pengkaderan yang mengindikasikan kemunduran partai.

“Dengan kondisi itu, proses kaderasisasi di internal parpol juga patut dipertanyakan selama ini, termasuk parpol yang memiliki basis massa karena tidak satupun kader partai untuk maju dalam Pilkada, sehingga pragmatisme parpol yang muncul,” ujarnya.

Dengan kemunduran ini, dirinya merasa khawatir dengan kondisi saat ini. “Krisis kader yang dialami parpol saat ini tentu sangat mengkhawatirkan, sehingga praktek transaksional dalam pilkada sangat terbuka lebar,” ujarnya.

Baca:  ABG Tuban Diperawani Penjual Pecel Lele dengan Imbalan Cincin

hal ini juga merupakan faktor yang menyebabkan Pilkada Jember rentan politik uang karena kandidat peserta pilkada tidak memiliki basis massa riil di tingkat bawah. Sebab, meski kedua pasangan calon kepala daerah itu didukung parpol. Namun hanya di tingkat elit dan tidak sampai ke bawah.

Hal ini akan berakibat, membuat praktek politik uang semakin besar sampai di tingkat bawah. “Kedua pasangan tidak memiliki basis dukungan tingkat bawah yang memiliki hubungan ideologis seperti kader partai politik,” tuturnya

Suarakan Pendapatmu

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *