Home » Media Watch » Banyak Wartawan yang Masih Digaji dibawah Upah Buruh

Banyak Wartawan yang Masih Digaji dibawah Upah Buruh

Banyak Wartawan yang Masih Digaji dibawah Upah Buruh. Merefleksikan hari buruh internasional, masih banyak profesi yang gajinya masih di bawah UMK. Data AJI( Aliansi Jurnalis Independen) Surabaya menyatakan setidaknya lebih dari 95 persen sampel pekerja media atau wartawan menerima gaji dibawah UMK Surabaya. ” tentu hal ini memicu kecenderungan, insan pers dapat melakukan pelanggaran di lapangan” sorot anggota divisi advokasi AJI Surabaya Miftah Farid, sebagaimana dikutip dari SBO.

Adapun kecenderungan pelanggaran tersebut, mulai dari penerimaan amplop sebagai penghasilan tambahan yang nampaknya terkesan populer di sejumlah wilayah peliputan. Farid mendesak agar marwah dari jurnalis dapat dipegang teguh, serta mengharapkan perusahaan media mampu menjalankan undang – undang ketenagakerjaan dalam sistem pengupahan saat ini.

Salah satu Mantan Ombudsman Media yang saat ini sebagai dosen jurnalistik Universitas Airlangga, Maksum menyatakan pelanggaran tersebit harusnya dapat diminimalisir dari perusahaan media tidak hanya melalui sistem pengupahan tetapi memisahkan marwah newsroom dari intervensi iklan. ” harusnya ruang redaksi merupakan ruang sakral bagi setiap jurnalis”.

Baca:  ILC Edisi MAKAR Batal Tayang, Ada Apa dengan Karni Ilyas?

Sementara Ketua AJi dalam diskusi di Sbotv, mengakui bahwa hal ini merupakan suatu kebijakan yang dilematis, namun dirinya tetap mendesak perusahaan media mampu transparan dalam mengemban pilar keempat demokrasi negeri ini. ” bagaimanapun juga masalah ketidak profesionalan yang cukup kompleks tersebut harus mulai diperbaiki mulai dari berbagai pihak ” pungkas kameramen reuters tersebut.

Refleksi terhadap protes rendahnya gaji wartawan juga banyak disuarakan oleh berbagai wartawan di daerah. Di Bojonegoro misalnya, sejumlah jurnalis yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Bojonegoro juga menggelar aksi damai. Aksi itu digelar di depan Pemkab setempat, Jumat siang (1/5).

Para jurnalis itu menyuarakan pesan bahwa di Indonesia, khususnya Jawa Timur dan Bojonegoro masih banyak para awak media yang digaji perusahaannya jauh dibawah Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK), sehingga para jurnalis itu jauh dari kata sejahtera.

Khorij Zaenal Asrori, salah satu anggota AJI mengatakan, saat ini musuh awak media bukan lagi pemerintah maupun polisi. Namun, musuh yang paling dekat tersebut adalah perusahaan medianya sendiri.

Baca:  Strategi Media Cetak Ditengah Gempuran Media Online

“Hal ini terbukti masih banyaknya kawan-kawan jurnalis yang gajinya dibawah UMR atau UMK. Inilah yang menyebabkan banyak penyimpangan etika jurnalis seperti menerima amplop dan penyimpangan lain,” tegas Khorij.

Para anggota AJI itu berharap, seluruh awak media, khususnya yang berada di bawah naungan bendera AJI di Bojonegoro bisa mendapat haknya secara penuh sehingga bisa melakukan tugas peliputan dengan beretika dan bersih.

“Tentunya, hal ini setelah dipenuhinya hak-hak para awak media oleh perusahaannya masing masing, baik dari segi jumlah gaji hingga jaminan kesehatan yang seringkali masih diabaikan oleh para pengusaha,” tandasnya.

AJI Bojonegoro juga mengutuk perusahaan media yang selama ini tidak memberikan upah layak kepada jurnalisnya, baik tingkat lokal, regional dan nasional. “Imbasnya, kalau jurnalisnya tidak digaji secara layak nanti akan menerima amplop dan lain-lain. Sesuai kode etik jurnalis hal itu dilarang,” pungkasnya. (nur/rvl/SBO/Bangsaonline/Tempo)

Baca:  Indonesia Lawyers Club: Kolonisasi Logika Televisi dalam Logika Politik

Kata Pencarian:

upah buruh bangunan dibawah umr (1)

Suarakan Pendapatmu

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *