Uncategorized

Banyuwangi Batik Festival Upaya Memacu Industri Kreatif

festival batik banyuwangi
ilustrasi:pameran batik

Banyuwangi Batik Festival Upaya Memacu Industri Kreatif. Perhelatan akbar Banyuwangi Batik Festival (BBF) bakal digelar pada 26-28 September 2013. Serangkaian kegiatan bertema batik, mulai dari pameran batik, parade fesyen, lomba cipta desain batik, hingga lomba mewarnai batik akan meramaikan ajang tersebut. BBF merupakan bagian dari rangkaian acara Banyuwangi Festival yang berlangsung September-Desember 2013.

”Festival batik adalah wahana untuk melestarikan warisan budaya sekaligus menumbuhkan geliat usaha. Bukan sekadar pajangan larik-larik kain, event ini adalah pesta yang menemalikan hubungan antara batik, fesyen, gaya hidup, sejarah nan kaya, kearifan lokal, dan gerak ekonomi. Melalui Banyuwangi Batik Festival, kami akan membawa para peminat batik, desainer, industri fesyen nasional, dan wisatawan untuk menyelami kekayaan batik di Bumi Blambangan,” ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dalam siaran pers Minggu (22/9/2013). Bumi Blambangan adalah sebutan lain untuk Banyuwangi.

Batik khas Banyuwangi saat ini mencapai 22 motif, tergolong motif batik pesisiran yang banyak mengambil tema alam. Motif-motif tersebut antara lain Gajah Uling, Kangkung Setingkes, Paras Gempal, Alas Kobong, Kopi Pecah, Gedegan, Ukel, Moto Pitik, Sekar Jagad, Gringsing, Semanggian, Garuda, Cendrawasih, dan Latar Putih. “Setiap motif mempunyai filosofi dan cerita tersendiri, sehingga menjadikan batik sebagai busana yang kaya dengan unsur sejarah dan filosofi,” kata Anas.

Baca:  Industri Ikan Tangkap Jatim Berinovasi dalam Kualitas Produk

Dalam Banyuwangi Batik Festival (BBF), akan ada lomba desain batik di mana para peserta beradu kreasi menciptakan karya pengembangan desain batik khas Banyuwangi. Selain itu, ada lomba mewarnai batik yang akan diikuti lebih dari 3.000 peserta.

Sebagai puncak acara, akan digelar parade fesyen yang merupakan lomba peragaan busana batik khas Banyuwangi pada 28 September pukul 19.00 WIB di Gedung Kesenian dan Budaya (Gesibu), Banyuwangi. Sedikitnya 100 peragawati akan berlenggak-lenggok di atas catwalk dengan mengenakan busana batik khas Banyuwangi.

Anas mengatakan, festival batik ini digelar sebagai stimulus untuk menggairahkan industri kreatif, khususnya industri fesyen, di daerah. Sejumlah desainer, industri fesyen, dan pemerhati batik nasional akan hadir pada BBF. Dengan demikian, diharapkan tercipta kemitraan antara perajin batik di tingkat lokal dan industri di tingkat nasional.

”Kami menghubungkan perajin batik lokal dengan industri fesyen nasional, sehingga event Banyuwangi Batik Festival ini akan menjadi penanda penting bagi masa depan industri batik di Banyuwangi,” ujar Anas.

Baca:  Wakil Ketua DPR: Detail pasal Lapindo di APBN-P dibahas Banggar

Banyuwangi Batik Festival: Industri kreatif

Anas menambahkan, fesyen (busana), termasuk di dalamnya industri batik, adalah bagian dari sektor industri kreatif yang tumbuh pesat dewasa ini. Industri kreatif sendiri terdiri atas 14 subsektor, yaitu periklanan; arsitektur; pasar barang seni; kerajinan; desain; busana; video, film, dan fotografi; permainan interaktif; musik; seni pertunjukan; penerbitan dan percetakan; layanan komputer dan peranti lunak; televisi dan radio; dan riset dan pengembangannya.

Pada 2012, industri kreatif secara nasional menyumbang menyumbang 7% atau Rp574 triliun terhadap Produk Domestik Bruto. Sektor ekonomi kreatif menyumbang 11,8 juta pekerja dengan jumlah usaha mencapai 5,4 juta unit usaha. Fesyen menjadi subsektor dengan kontribusi tertinggi di antara subsektor industri kreatif lainnya dengan Rp164 triliun terhadap PDB dan mempunyai penyerapan 3,8 juta tenaga kerja.

Potensi industri kreatif di daerah, kata Anas, sangat besar, meski dalam beberapa sisi banyak yang belum dimanfaatkan secara maksimal dan masih kalah akses dari industri serupa di kota-kota besar seperti Jakarta. ”Kekuatan ide dan daya kreasi adalah modal utama industri kreatif. Dalam konteks ini, acara semacam festival batik diharapkan bisa merangsang ide baru terkait pengembangan batik Banyuwangi sekaligus menemukan model pemasaran yang lebih kreatif dengan menciptakan linkage antara perajin lokal dan industri fesyen nasional,” jelas alumnus program singkat ilmu kepemerintahan di Harvard Kennedy School of Government, Amerika Serikat, tersebut.

Baca:  Jokowi Jadi Bintang Iklan Kampanye Bambang-Said

Anas menambahkan, tiga kekuatan yang akan terus didorong dalam hal pengembangan industri kreatif, termasuk batik, di daerah adalah pada kemampuan melakukan branding (pengelolaan merek), packaging (pengemasan), dan product design (desain produk). Melalui Banyuwangi Batik Festival, merek batik asal Banyuwangi diperkenalkan dengan cara promosi unik dan kemasan yang bagus, serta diiringgi desain produk yang terus dikembangkan tanpa meninggalkan kekayaan kultur lokal.

”Melalui strategi branding, packaging, dan product design tersebut, kami dari daerah ingin menopang peningkatan kinerja industri kreatif di Tanah Air,” pungkas Anas. kbc4

Suarakan Pendapatmu

comments

Tags

Berita Gresik & Jawa Timur

Gresik.co merupakan media berbagi informasi untuk tumbuh bersama kesadaran politik, ekonomi, dan budaya masyarakat Gresik. Bagi para pelaku usaha kecil dan menengah ataupun komunitas bisa beriklan gratis tanpa biaya apapun. Silahkan buat review usaha anda sebanyak 200 kata atau lebih disertai foto dan alamat usaha lalu kirim ke pesan facebook kami

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Matikan Adblocker untuk agar bisa membuka website dengan aman