Peristiwa

Bentrok Sumurber Terjadi Saat Eksekusi Lahan

Bentrok Sumurber Terjadi Saat Eksekusi Lahan. Hujan batu mewarnai bentrok di kampung Desa SumurBer Kecamatan Panceng, kemarin. Itu terjadi setelah pemenang gugatan secara sepihak melakukan eksekusi rumah tanpa menunggu penetapan Pengadilan Negeri (PN) Gresik. Tiga orang warga terluka dalam bentrok ini.

Putusan Mahmakah Agung yang memenangkan gugatan Muntajia (60) atas keluarga ahli waris Samari (65) di Desa Sumurber Kecamatan Panceng, direaksi berlebihan oleh keluarga Muntajia. Tanpa menunggu penetapan eksekusi, mereka mengeksekusi sebidang tanah yang masih dihuni keluarga ahli waris Samari.

Saat mengeksekusi, kubu Muntajia membawa puluhan kerabatnya mendatangi rumah yang dihuni oleh anak Samari. Karena datang tanpa didampingi petugas PN Gresik, karuan hal itu membuat keluarga almarhum Samari berang. Suasana tegang pun terjadi di jalan Desa Sumur Ber sekitar pukul 13.00. Pihak Muntajia datang menumpang motor roda tiga dilengkapi dengan spanduk, bendera dan pengeras suara. Mereka tidak bisa masuk ke kampung rumah Samari, karena dihadang sejumlah anggota Polres Gresik.

Baca:  Buronan Perampok Diringkus Tim Buser Polres Gresik

Tidak lama kemudian, dua kubu saling berhadapan hanya berjarak sekitar 20 meter. Mereka saling olok dan memprovokasi hingga memanaskan situasi. Karenasama-samaterpancing, tiba-tiba lemparan batu dari belakang menghantam kelompok Muntajia. Lemparan itu dibalas oleh kelompok
Samari, hingga terjadi perang batu.

Akibat perang batu itu, sebagian atap rumah di desa Sumurber yang menjadi sengketa tersebut mengalami kerusakan. Tidak hanya itu, 3 orang dari kedua kubu juga menjadi korban. Ketiga korban masing-masing  Kahfi (58) dan M Ilyas (40) dari kubu Muntajia, yang mengalami luka dan pendarahan di bagian belakang kepalanya. Dari kubu Samari adalah Muksonur (28), yang mengalami luka di pipi sebelah kanannya.

Berdasarkan pengakuannya, pipi Muksonur terluka karena dipukul oleh seseorang dengan menggunakan batu. Mereka dibawa ke Puskesmas Panceng untuk mendapatkan perawatan. “Waktu saya tadi mau mreteli poster mereka, tiba-tibasajapipisayadipukul batu perempuan,” ujar Muksonur.

Baca:  Waspada! Kejahatan Pecah Kaca Mobil Terjadi di Gresik

Aksi perang batu terhenti setelah pasukan Dalmas menghalau kedua kubu untuk saling menjauh. Kapolres Gresik AKBP Achmad Ibrahum yang memimpin pengamanan berusaha menenangkan kedua pihak. Namun, usaha kapolres tidak bejalan mulus. Sebab, saat sedang melakukan mediasi, masih saja terjadi beberapa lemparan batu yang dilakukan oleh salah satu pihak.

AKBP Achmad Ibrahim mengatakan, jika eksekusi itu seharusnya dilakukan Kamis (25/4). “Tapi sepertinya pihak penggugat ingin melakukannya hari ini langsung tanpa pegadilan,”jelasnya. “Makanya kami berharap, supaya semuanya saling bisa menahan diri,”sambungnya. Sebagai catatan, konflik bermula sejak tahun 1982. Saat itu, Muntajia sebagaipenggugat menggugat tanahyang ditempati oleh Samari. Muntajia memenangkan gugatannya di pengadilan atas lahan tersebut.

Baca:  Desa Sumurber Kembali Bergolak Terjadi Bentrok Terkait Pilkades

Namun, kubu Samari merasa tidak terima dengan keputusan pengadilan itu, karena mereka menganggap ada kecurangan dalam proses sidang itu. PhakSamarikemudian mengajukan banding, bahkan, hingga tingkat Mahkamah Agung. (jan/ris/Radar Gresik/radarsby.com/jpnn)

Suarakan Pendapatmu

comments

Tags

Berita Gresik & Jawa Timur

Gresik.co merupakan media berbagi informasi untuk tumbuh bersama kesadaran politik, ekonomi, dan budaya masyarakat Gresik. Bagi para pelaku usaha kecil dan menengah ataupun komunitas bisa beriklan gratis tanpa biaya apapun. Silahkan buat review usaha anda sebanyak 200 kata atau lebih disertai foto dan alamat usaha lalu kirim ke pesan facebook kami

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Matikan Adblocker untuk agar bisa membuka website dengan aman