Home » Uncategorized » Daging Celeng Oplosan beredar di Bojonegoro

Daging Celeng Oplosan beredar di Bojonegoro

Daging Celeng Oplosan beredar di Bojonegoro. Dinas Peternakan dan Perikanan Bojonegoro menemukan daging sapi oplosan dengan daging celeng di Pasar Taji, Kecamatan Tambakrejo. Dilansir dari Tempo, Sampel daging oplosan ini telah diuji di Laboratorium Wates, Yogyakarta, dan dinyatakan positif terdapat kandungan daging celeng.

“Kami langsung menyita daging itu dan meminta pedagang tak mengulangi menjual daging celeng,” kata Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Bojonegoro Subekti, Jumat, 7 November 2014. Langkah dinas perternakan ini dilakukan setelah merebaknya kabar peredaran daging celeng selama sepekan ini. Oplosan daging celeng itu telah beredar di beberapa kecamatan di Bojonegoro bagian selatan, Kecamatan Ngraho, Tambakrejo, dan Margomolyo.

Baca:  Kejati Jatim Akan Selidiki Hilangnya Bukti Kayu di Kejaksaan Gresik

Daerah yang berbatasan dengan Kabupaten Ngawi ini dikenal memiliki populasi celeng cukup banyak. Terutama di kawasan hutan Watujago, yang belakangan ini, banyak penembak yang memburu binatang celeng. Subekti menuturkan pedagang mengoplos dengan perbandingan 35 persen daging celeng dan sisanya daging sapi. Sedangkan harga daging oplosan itu, juga dijual Rp 90 ribu perkilogram. “Sama dengan daging sapi biasa.

Komunitas pemburu Bojonegoro mengakui selama kemarau ini mereka memburu celeng. Biasanya, mereka berburu hutan di kawasan Watujago, Kecamatan Margomulyo, dan hutan di Kawengan, Kecamatan Kedewan. Para pemburu juga mencari hewan buruannya di hutan jati di kawasan Waduk Pacal sekitarnya, terutama antara Kecamatan Temayang, dan Gondang yang berbatasan dengan Kabupaten Nganjuk.

Baca:  Harga Sembako di Bojonegoro Mulai Naik

Supri, pemburu di Bojonegoro mengatakan daging celeng hasil buruan dijual dengan harga antara Rp 17 ribu hingga Rp 18 ribu per kilogram. Dia menuturkan banyak langganannya yang sudah memesan daging buruannya. “Banyak yang membeli,” ujarnya. Berburu celeng dilakukan setelah populasi kijang berkurang. (tempo)

Suarakan Pendapatmu

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *