Home » Uncategorized » Dokumen Impor Pangan Melalui Tanjung Perak Melonjak Tajam
impor pangan
gettyimage

Dokumen Impor Pangan Melalui Tanjung Perak Melonjak Tajam

impor pangan
gettyimage

Dokumen Impor Pangan Melalui Tanjung Perak Melonjak Tajam. Kebijakan pengendalian produk impor pangan hortikultura menjadikan Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, dibanjiri impor produk tersebut. Dokumen impor hortikultura yang masuk ke meja Badan Karantina melonjak hingga 66,6%. “Yang paling padat Surabaya, karena paling dekat dengan sentra konsumennya,” kata Kepala Badan Karantina Banun Harpini di Jakarta, Rabu (30/1/2013).

Sebelum adanya penerapan pengendalian impor atas produk hortikultura, Badan Karantina hanya menerima 60 dokumen impor per hari. “Tapi sekarang melonjak hingga 100 dokumen,” ujar Banun. Banun juga tidak menampik, pemberlakuan regulasi tersebut sempat mengakibatkan penumpukan kontainer di pelabuhan. Namun, menurut Banun, penumpukan kontainer itu merupakan konsekuensi logis dari keterbatasan jumlah surveyor

Baca:  Green City Ala Banyuwangi Memikat Dubes Swedia

Lagipula, dengan karakteristik hortikultura, bagi surveyor membutuhkan waktu untuk mempelajari jenis dokumen. “Tapi, setelah itu normal kembali karena di-drop tambahan personel surveyor,” terang dia.

Data pemasukan produk hortikura yang diperiksa Badan Karantina selama periode 1 Januari 2011 -31 Desember 2012 menurun 30%. Tahun 2012, volume produk hortikultura tinggal 1,622 juta ton. Padahal tahun 2011 sebelumnya, volume impor tercatat sebesar 2,076 juta ton. Produk buah impor menempati volume penurunan terbesar yakni dari 1,186 juta ton (2011) menjadi 826.576 ton (2012). Kemudian sayur, dari 884.262 ton menjadi 774.531 ton.

Sebagai informasi, Kementan telah mengeluarkan tiga Permentan yaitu No. 88, 89 dan 90 tahun 2011. Permentan 88/2011 adalah tentang pengawasan kemanan pangan terhadap impor pangan, pemasukan dan pengeluaran pangan segar asal tumbuhan.

Baca:  Anak SMP Jadi Germo, Jual 15 ABG ke Hidung Belang

Sedangkan Permentan 89/2011 berisikan tentang persyaratan teknis dan tindakan karantina tumbuhan untuk pemasukan buah-buahan dan sayuran segar ke dalam wilayah RI (impor pangan). Adapun  Permentan 90/2011 memuat tentang persyaratan tindakan karantina tumbuhan untuk pemasukan hasil tumbuhan hidup berupa sayuran umbi lapis segar ke dalam wilayah Indonesia.

Dalam Permentan 88 dan 89, pemerintah membatasi pintu masuk impor hortikultura pada empat pelabuhan, yakni Tanjung Perak (Surabaya, Jawa Timur), Belawan (Medan, Sumatera Utara), Pelabuhan Makassar (Sulawesi Selatan), dan Bandara Soekarno-Hatta (Tangerang, Banten). Namun, putusan tersebut tidak menetapkan Tanjung Priok sebagai pintu masuk produk impor buah dan sayur, padahal lokasinya jauh dari tempat penghasil hortikultura dan populasi penduduknya cukup tinggi.

Baca:  Awas..! Kartel Pangan Dikendalikan Mafia Bisnis dan Politik

Kebijakan pengendalian impor pangan juga berpengaruh terhadap melonjaknya harga buah-buahan impor. beberapa kios buah terpantau kehabisan stok dan terjadi kelangkaan buah-buahan yang biasanya diminati oleh konsumen lokal. Pemerintah beralasan, kebijakan pengendalian impor hortikultura karena produsen lokal dinilai mampu memenuhi kebutuan lokal. (KBC/ edtr:adit)

Suarakan Pendapatmu

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *