Info Film Terbaru

Film Cloud Atlas, Kejeniusan Tiga Sutradara dalam Harmoni Fiksi dan Sains

cloud atlasFilm Cloud Atlas, Kejeniusan Tiga Sutradara dalam Harmoni Fiksi dan Sains. Enam cerita melintas waktu dan tempat yang dikemas dalam suguhan visual menakjubkan. Adaptasi novel David Mitchell ini jadi hidup sekaligus magis. Adegan-adegan pendek saling sambar. Kronologinya acak. Maju mundur antara masa depan pascabencana besar berabadabad yang akan datang, Pasifik Selatan pada 1849, San Fransisco pada 1970-an, London kontemporer, Edinburg pada 1930-an, serta Seoul abad ke-22.

Benang merah Cloud Atlas adalah penerbit buku yang bangkrut, Timothy Cavendish, dijebak adiknya, Denholme Cavendish, untuk tinggal di panti jompo. Saat muda, pada era 1930-an di Edinburgh, Timothy Cavendish berhubungan asmara dengan Robert Frobisher yang mulai bekerja sebagai asisten komposer Vyvyan Ayrs.

Karena digerogoti penyakit, Ayrs membutuhkan asisten yang bisa menerjemahkan idenya ke sebuah permainan piano yang indah. Lalu berpindah ke adegan lain. Luisa Rey seorang jurnalis investigatif di San Fransisco pada 1973, menggali fakta tentang krisis reaktor nuklir. Karena penyelidikan ini, mobil yang dia kendarai pernah diserempet mobil lain hingga tenggelam ke dalam sungai.

Beruntung Luisa terselamatkan, juga sejumlah dokumen penting di mobilnya. Cerita kemudian melompat ke abad ke-24 pasca bencana besar. Meronym, seorang perempuan yang jadi utusan, mencari sisa-sisa tempat pemujaan Sonmi. Dalam perjalanan, dia bertemu Zachry, gembala kambing di sebuah lembah. Zachry yang tahu di mana lokasi pemujaan itu, bersedia mengantar Meronym karena perjalanan ke sana sungguh tidak mudah lantaran harus melalui tebing terjal yang rawan runtuh.

Baca:  Film Leher Angsa, Cerita Apik Dari Kaki Gunung Rinjani

Sonmi (Doona Bae) pernah hidup pada abad ke-22 di Neo Seoul. Dia dan banyak lagi perempuan dengan tampilan mirip adalah manusia kloning yang diciptakan karena dibutuhkan sebagai pelayan restoran. Hidup mereka dikendalikan kalung besi yang melingkar rapat di leher. Begitu sudah tidak diperlukan, kalung itulah yang akan “menyelesaikan” keberadaan mereka.

Fragmen-fragmen di film Cloud Atlas tersebut –seluruhnya enam fragmen– walau kisahnya berdiri sendiri dan melompati ruang dan waktu hingga hitungan abad, pada akhirnya punya keterkaitan satu sama lain. Sebuah kebaikan yang diberikan pada hari ini, akan kembali lagi pada hari lain dalam bentuk kebaikan. Hukum yang sama berlaku pula untuk kejahatan.

dalam film Cloud Atlas, Sonmi yang perempuan hasil kloning itu pernah berupaya melarikan diri tapi akhirnya ditangkap, diinterogasi panjang, dan berakhir di kursi kematian. Tapi mati sama sekali tidak ditakutinya. Kematian, bagi Sonmi, tak lain pintu menuju tempat lain. “Our lives are not our own. From womb to tomb, we are bound to others. Past and present. And by each crime, and every kindness, we birth our future,” kerap diucapkan Sonmi, termasuk di depan interogatornya.

Baca:  Film Argo, Ketika CIA Mengerahkan Hoolywood Membebaskan Sandera Iran

Cloud Atlas adalah adaptasi dari novel berjudul sama, karya David Mitchell, yang terbit pada 2004. Sutradara Lana Wachowski, Andy Wachowski, dan Tom Tykwer berhasil menangkap spirit novel Mitchell tanpa “tersasar” dalam narasi yang berlapis, lompatan-lompatan waktu, dan kisah metafisika tentang jiwa yang saling terhubung melintasi semesta.

Adegan demi adegan Cloud Atlas mengalir deras. Masa lalu, masa kini, dan masa depan berpadu seperti melodi tiga nada. Kita dibuat terpesona dan kagum, walau kadang bingung, bosan, dan frustrasi. Bukan itu saja, Trio sutradara ini menghidupkan Cloud Atlas melalui visual yang luar biasa dan banyaknya karakter yang dimainkan tiap aktor. Mereka masing-masing muncul sebagai satu karakter di satu masa.

Dengan make-up tebal, prostetik, wig, gigi palsu, dan kostum para aktor ini jadi sulit dikenali. Kita harus konsentrasi dan benar-benar memperhatikan. Tom Hanks, misalnya, dia berperan sebagai Zachary, jadi dokter jahat di kapal, gangster Irlandia yang kemudian menulis buku, serta jadi manajer hotel yang licik di Edinburgh.

Baca:  Review Film The Walk, Memacu Kencang Adrenalin Penonton

Demikian pula Halle Berry di Cloud Atlas yang mendapat bagian sebagai Luisa Rey, dialah juga pemeran Meronym dan sebagai istri Vyvyan Ayrs. Bagaimana dengan Jim Broadbent? Selain memerankan Timothy Cavendish yang dijebak masuk ke panti jompo, Broadbent-lah yang membawakan karakter kapten kapal, serta Vyvyan Ayrs, komposer tua yang tinggal di Edinburgh dan kerap meremehkan asistennya, Frobisher (Ben Whishaw).

Aktor-aktor lain juga memerankan banyak karakter di Cloud Atlas, seperti Jim Sturgess, Hugh Grant, Hugo Weaving, Keith David, Susan Sarandon, serta James D’Arcy. Masing-masing cerita pada titik tertentu menyuguhkan pertarungan abadi antara si lemah dan si kuat. Kisah futuristik Neo Seoul bahkan mengungkap pemberontakan robot budak terhadap manusia yang jadi eksploiter mereka. Dan di akhir cerita, kita temukan ujung harmoni tiga nada Cloud Atlas adalah tak ada pilihan lain bagi manusia di bumi selain hidup saling mengasihi. (SIL /YO G/Reporter: Silvia Galikano/detik.com)

Suarakan Pendapatmu

comments

Tags

Berita Gresik & Jawa Timur

Gresik.co merupakan media berbagi informasi untuk tumbuh bersama kesadaran politik, ekonomi, dan budaya masyarakat Gresik. Bagi para pelaku usaha kecil dan menengah ataupun komunitas bisa beriklan gratis tanpa biaya apapun. Silahkan buat review usaha anda sebanyak 200 kata atau lebih disertai foto dan alamat usaha lalu kirim ke pesan facebook kami

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Matikan Adblocker untuk agar bisa membuka website dengan aman