Home » Resensi » Info Film Terbaru » Film Hope Springs Komedi Perkawinan yang Kehilangan Gairah Sexual
film hope springs

Film Hope Springs Komedi Perkawinan yang Kehilangan Gairah Sexual

Film Hope Springs Komedi Perkawinan yang Kehilangan Gairah Sexual. Inilah keseharian Kay (Meryl Streep) dan Arnold (Tommy Lee Jones), pasangan yang sudah 31 tahun menikah: Kay membuat menu yang sama setiap hari untuk sarapan, disajikan ke Arnold yang tanpa bicara langsung menghabiskannyfilm hope springsa sambil baca koran. Lalu Arnold pergi ke kantor, Kay pergi kerja ke toko baju.

Pulang petang, mereka makan malam tanpa berbincang. Berlanjut Arnold menonton tayangan golf hingga tertidur di kursi. Kay menghampiri, mematikan televisi, membangunkan suaminya, lalu berdua pergi tidur… di kamar berbeda.

Begitu terus setiap hari selama bertahun-tahun. Mereka hanya tinggal berdua karena anak-anak sudah menikah dan meninggalkan rumah. Apakah Arnold merasa ada yang salah? Tidak. Menurutnya, perkawinannya baik-baik saja: tidak pernah selingkuh, tidak pernah juga kasar terhadap Kay. Namun lain bagi Kay, mereka tidak tidur di satu kamar yang sama, itu cukup jadi alasan ada yang salah dalam perkawinan mereka beberapa tahun terakhir.

“Kapan terakhir kali kau sentuh aku?” suatu pagi Kay bertanya pada Arnold. Yang ditanya terlongo tak bisa menjawab. Di sebuah toko buku, Kay menemukan buku yang ditulis Dr. Feld, psikiater terkenal spesialis perkawinan asal kota kecil Great Hope Springs di Maine, New England. Inilah jalan terakhir menyelamatkan perkawinan mereka yang kering secara emosional dan absen seks.

Baca:  Film Jack Reacher Sekedar Mengandalkan Tom Cruise Dangkal Pada Narasi

Tak mau membuang waktu, Kay segera book jadwal terapi intensif selama sepekan, membeli dua tiket pesawat, dan memesan satu kamar penginapan. Semua menggunakan uang pribadinya. Walau awalnya menolak keras, Arnold akhirnya ikut -tapi tetap dengan sikap ogah-ogahan.

Di kantor Dr. Feld (Steve Carell) inilah Film Hope Springs berjalan intens. Bagaimana Dr. Feld memberi pertanyaan menohok yang sangat personal yang mendobrak pertahanan Arnold. Dia juga mendorong Kay dan Arnold benar-benar menggali kekecewaan mereka serta mengungkapkan perasaan yang selama ini tersimpan.

Kay dan Arnold kemudian secara perlahan dipaksa memulai diskusi kehidupan seks mereka, semakin lama semakin detail. Setiap hari, di akhir sesi
hari itu, Dr. Feld memberi tugas yang harus mereka praktikkan malam harinya, dimulai dari saling sentuh.

Film Hope Springs meninju dengan keras dan menyayat demikian dalam karena tanpa segan menunjukkan sulitnya proses yang dilalui Kay dan Arnold. Skenarionya sengaja membuat kita merasakan setiap jumput kepedihan itu. Film Hope Springs narasinya memikat, anggun, pengendalian dirinya mengesankan, jujur, pedih di tiap kelokan, tapi tetap punya unsur menghibur.

Baca:  Film Die Hard, A Good Day to Die Hard Melepas Rindu Pada Bruce

Keterbukaan dan kejujuran –walau menyakitkan–dipaparkan secara luar biasa. Sampai-sampai sulit dipercaya bahwa Film Hope Springs ini film Hollywood karena demikian detail, cenderung bertele-tele (menurut standar Hollywood), dan tidak memberi jalan keluar instan bagi Kay dan Arnold. Ketika Dr. Feld mulai mengangkat masalah seks, mungkin penonton mengira film ini akan disensor badan sensor atau disensor sendiri oleh sutradara.

Namun perkiraan itu meleset, Film Hope Springs membiarkan obrolan yang canggung dan sangat pribadi itu berjalan terus. Memang bikin tidak nyaman, kadang sulit diutarakan, dan ketegangan jadi tak terhindarkan, tapi Dr. Feld terus mendorong karena di bagian terdalam itulah kita bisa temukan kejujuran.

Steve Carell kali ini bikin kejutan tak tanggungtanggung. Dikenal sebagai aktor komik konyol di The Office, Get Smart, dan The 40-Year-Old Virgin, kini di Hope Springs dia memerankan karakter yang sangat serius sebagai psikiater. Cara bicaranya yang tersusun sangat rapi itu bahkan jadi bahan ejekan Arnold yang biasanya pemarah.

Baca:  Film Doea Tanda Cinta, Drama Cinta Segitiga Ala Militer

Tommy Lee Jones di Film Hope Springs sampai sudi meninggalkan zona nyamannya sebagai jagoan ganteng dan tampil sebagai pria paruh baya yang lesu dan jelek. Dia berhasil membawakan karakter Arnold yang bertahun-tahun memendam marah dan kecewa. Kay juga karakter tak biasa bagi Meryl Streep. Sebelumnya, dia berlama-lama tenggelam dalam peran “kelas atas”, seperti di Mamma Mia, Julie and Julia, serta The Iron Lady.

Sebagai Kay, Streep bisa menjadi sosok sensitif dan tulus, karakter yang tidak ditemukan dalam peran-perannya di film lain. Kredit terakhir adalah pada penulis skenario, Vanessa Taylor. Hope Springs adalah film pertamanya, karena biasanya dia menulis untuk televisi, antara lain Alias dan Game of Thrones. Sungguh butuh skill mumpuni untuk bisa membuat adegan Film Hope Springs yang hanya berisi tiga orang duduk dan bicara jadi demikian memikat. Dan Vanessa Taylor terbukti mampu! (SIL/YOG /detik.com)

Suarakan Pendapatmu

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *