Home » Gresik » Krisis Air Gresik Kian Meluas dan Mengkhawatirkan
Master tukang, tutorial pertukangan

Krisis Air Gresik Kian Meluas dan Mengkhawatirkan

krisis air gresikKrisis Air Gresik Kian Meluas dan Mengkhawatirkan. Hingga kini, penanganan bencana kekeringan di wilayah Gresik belum menemukan solusi tepat untuk mengatasinya. Wilayah terdampak kekeringan yang cukup luas menyulitkan pemerintah menyalurkan bantuan air bersih serta pendistribusian pasokan air. Kesulitan itu dirasakan dari minimnya pasokan, pola distribusi air bersih yang dilakukann juga berlangsung begitu lambat.

Dari hasil evaluasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) krisis air Gresik , persoalan ini tidak lepas dari tidak tersedianya tandon air yang ada di wilayah-wilayah terdampak. Hingga kini, baru 10 persen dari desa-desa rawan kekeringan yang sudah memiliki tandon air. Pada saat yang sama keberadaan tandon ini cukup vital. Sebab, adanya tandon ini membuat proses dropping air oleh BPBD bisa berlangsung cepat.

”Tapi, ternyata mayoritas desa terdampak tidak memiliki tandon. Akibatnya, kami harus mendatangi warga bergiliran,” kata Kepala BPBD Gresik, Hari Sucipto, kemarin. Hingga kemarin, baru sebanyak 140 tangki air yang telah terdistribusi di seluruh wilayah terdampak sejak bulan lalu. Jika dirata-rata, tiap desa baru mendapat jatah satu hingga dua tangki air. ”Untuk itu, beberapa desa sudah kita beri bantuan tandon. Ada 18 unit yang kita terima,” katanya.

Baca:  PSSI Gresik Dipimpin Totok Basuki

Sementara itu, mulai kemarin, BPBD krisis air Gresik kembali merealisasikan dropping air bersih di wilayah terdampak kekeringan. Dalam distribusi tersebut,  sebanyak 50 ribu liter air mulai digerojok ke wilayah-wilayah krisis air. Dalam dropping kemarin, seluruh air bersih itu didistribusikan ke 10 desa di empat kecamatan terdampak.

Yakni di kecamatan Duduksampeyan, Cerme, Balongpanggang dan Kedamean. Hanya saja, berbagai persoalan muncul di balik realisasi program
itu. Akibatnya, pelaksanaan dropping itu sempat tersendat akibat warga yang berebut. Hingga saat ini, ada 109 desa di 13 kecamatan yang  mengalami krisis.

Yang paling parah terjadi di empat kecamatan. Yakni Cerme, Duduksampeyan, Benjeng dan Kedamean. Kondisinya cukup memprihatinkan. Di mana, kecukupan air bersih warga di wilayah tersebut hanya 10 liter per jiwa per hari. Tak hanya itu, jarak pengambilan air warga di wilayah itu lebih dari 3 km. (san/ris/radargresik/jpnn)

 

Baca:  Wabah Kekeringan di Gresik Semakin Mengkhawatirkan

Suarakan Pendapatmu

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *