Home » Bawean » Pencak Bawean Yang Terpinggirkan
Master tukang, tutorial pertukangan

Pencak Bawean Yang Terpinggirkan

JANUAR SAGITA, Wartawan Radar Gresik

Kasus klaim tarian Tor-tor oleh Pemerintah Malaysia baru-baru ini membuat pemerintah seperti kebakaran jenggot. Itu terjadi  karena pemerintah  lupa memperhatikan budaya asli bangsa ini, dan berusaha untuk melestarikannyaKASUS klaim tarian Tor-tor oleh Pemerintah Malaysia barubaru ini membuat pemerintah seperti kebakaran jenggot.

Itu terjadi karena pemerintah lupa memperhatikan budaya asli bangsa ini, dan berusaha untuk melestarikannya. Seperti halnya Pencak Bawean, tidak mustahil suatu saat bakal diklaim oleh negeri Jiran, mengingat banyak warga Bawean yang bermukim di Malaysia. Pencak Bawean merupakan pengembangan dari seni budaya pencak silat oleh masyarakat pulau Bawean. Meskipun di masyarakat Gresik nama pencak Bawean masih kurang begitu akrab, namun bagi masyarakat di pulau Bawean nama seni pencak Bawean sudah menjadi sesuatu yang lazim dijumpai dalam berbagai  kesempatan.

Baca:  Sambari Berharap Lapter Bawean Beroperasi Akhir 2013

Salah satu contohnya adalah ketika diadakan pesta pernikahan. Hal itu seperti yang terlihat dalam sebuah pesta pernikahan yang diadakan di Desa Daun Kecamatan Sangkapura, beberapa waktu lalu. Dalam kesempatan itu, para pendekar kawakan yang sudah menggeluti dunia seni pencak Bawean pun turut unjuk kebolehan. Mereka menampilkan berbagai atraksi silat yang mengundang decak kagum penonton. Puluhan jurus pun mereka adu dengan sesama pemain. Suara penonton pun mulai bergemuruh saat para pemain pencak Bawean saling beradu ilmu untuk menentukan siapa yang terbaik diantara mereka. Pertandingan tersebut terbagi dalam dua putaran. Tujuan dari dibaginya pertandingan itu dalam dua putaran, adalah untuk memberikan kesempatan mereka yang kalah dalam putaran pertama membalas dendam.

Baca:  Kapal Baru Express Bahari 8E Siap Melayani Warga Bawean Gresik

Sehingga, apabila selesai melalui dua putaran pertandingan tersebut, kedua pemain tidak memiliki rasa dendam sekali. Hal itu dilambangkan dengan diwajibkannya kedua pemain untuk saling berjabat tangan diakhir pertandingan putaran kedua. Maka, dari situ penonton pun diharapkan supaya bisa memahami bahwa menjadi pemenang bukanlah hal yang penting. Melainkan, menjalin hubungan dengan sesama anggota masyarakat merupakan nilai yang terkandung dalam kesenian tersebut.

Ketua Pencak Bawean Misnadi mengaku sangat senang jika masyarakat Bawean masih memiliki minat untuk melestarikan kesenian pencak Bawean tersebut. “Hal itu terlihat dari banyaknya masyarakat yang menonton, dan mengundang kami untuk meramaikan resepsi pernikahan  mereka,”ungkapnya. Meskipun begitu, Misnadi pun juga masih merasa khawatir jika kesenian itu suatu saat akan menghilang dari akar budaya  kehidupan masyarakat Gresik. “Oleh karena itulah, masyarakat Bawean sendirilah yang harus berusaha melestarikannya, supaya tidak hilang atau pudar,”pesannya. “Caranya adalah dengan memanggil para seniman pencak Bawean di setiap resepsi pernikahan keluarga mereka,”pungkasnya. (*/ris)

Suarakan Pendapatmu

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *