Home » Hikmah Islam » Lagi Booming Istilah Hijrah, Berikut Makna Hijrah dalam Islam

Lagi Booming Istilah Hijrah, Berikut Makna Hijrah dalam Islam

Lagi Booming Istilah Hijrah, Berikut Makna Hijrah dalam Islam. Belakangan, kata ‘berhijrah’ santer terdengar di berbagai kalangan. Gerakan berhijrah populer di kalangan anak-anak muda, mulai selebritis hingga orang biasa, bahkan teman dekat dan saudara kita.

Mereka yang memutuskan berhijrah biasanya ditandai dengan berubahnya penampilan, dari yang tidak tertutup menjadi tertutup. Tak hanya itu, orang-orang yang berhijrah juga menjadi lebih rajin mempelajari ilmu agama dan berupaya menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Namun apa arti yang sebenarnya?

Dosen Institut Perguruan Tinggi Ilmu Quran (PTIQ) Jakarta, Dr Nur Rofiah, Bil. Uzm. menjelaskan berhijrah adalah berpindah dari keadaan yang semula buruk menjadi keadaan yang baik, dari kondisi yang sudah baik menjadi kondisi yang lebih baik.

Baca:  Inilah Kesaksian Syetan Pada Hari Kiamat Kelak

Jadi berhijrah adalah proses terus-menerus untuk memperbaiki diri, memperbaiki cara berpikir, dan memperbaiki cara berucap serta bersikap. Ini berlaku bagi siapa saja.

“Sebagai murid misalnya, berhijrah. Mungkin yang tadinya badung berusaha menjadi murid yang terus membaik. Sebagai guru, yang tadinya galak banget, dia terus-menerus memperbaiki diri, itu juga disebut dengan hijrah,” terang Nur.

Lalu sampai mana tahap berhijrah itu? Dan adakah standar kita untuk berhijrah? Menurut penuturan Nur, berhijrah itu adalah bagaimana menjadi hamba yang baik menurut Allah.

Berhijrah berarti menjadi orang beriman yang mendorong berbuat kebaikan kepada diri sendiri maupun kepada orang lain. Bukan hanya pada manusia, tapi juga kepada lingkungan, termasuk tumbuhan dan hewan.

Baca:  Gus Sholah Sindir Umat yang Lebih Suka Umrah Dibanding Sedekah

“Jadi hijrah itu sepanjang hayat. Kalau nanti jadi pedagang, awalnya curang karena konsumen tidak tahu, maka pedagang bisa hijrah dengan cara memperbaiki cara dagangnya untuk tidak membahayakan konsumen,” kata Nur memberi contoh.

“Kalau nanti jadi pejabat, mungkin tergoda untuk berbuat korupsi, menyalahgunakan amanah, maka hijrahnya pejabat bisa dengan cara memperbaiki untuk tidak melakukan itu lagi,” sambungnya.

Jadi tidak semata-mata urusan dengan Tuhan, tetapi bagaimana keimanan itu mendorong seseorang mewujudkan kebaikan di mana pun berada dan sebagai apapun selama hidup, kemudian mempertanggungjawabkannya di hadapan Tuhan kelak.

Dia menegaskan, berhijrah itu berproses. Yang penting dan perlu diperhatikan, ada kesadaran untuk terus-menerus memperbaiki diri, terutama saat sedang sendiri. Sebab, ketika sedang sendirian, seseorang akan lebih tergoda dan berani berbuat maksiat.

Baca:  Dahsyatnya Kalimat Bismillah, Berikut ini keutamaannya

“Padahal ketika kita sendiri, justru kita sedang berdua dengan Allah. Artinya, kalau sedang berdua dengan Allah kita berani maksiat, berarti iman kita tidak teruji dan kita perlu perbaiki terus-menerus. Jadi hijrah adalah terus-menerus mengasah iman supaya bisa berbuah kebaikan kepada seluruh makhluk-Nya,” pungkasnya

Suarakan Pendapatmu

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *