Home » Jawa Timur » Disperindag Jatim Gagas Blue Print Kendalikan Inflasi
Master tukang, tutorial pertukangan

Disperindag Jatim Gagas Blue Print Kendalikan Inflasi

disperindag jatimDinas Perindustrian dan Perdagangan ( Disperindag Jatim ) sudah mempelajari pola konsumsi bahan pokok masyarakat yang berdampak pada inflasi. Dari hasil pengamatan tersebut, akan digagas blue print(cetak biru) terkait pola inflasi selama satu tahun ke depan di Jawa Timur. Penegasan itu diungkapkan Kepala Disperindag Jatim, Budi Setiawan, kepada Radar Surabaya, akhir pekan lalu.

Menurut Kepala Disperindag Jatim, dengan mempelajari dan mengamati pola konsumsi masyarakat tersebut, bisa didapatkan latar belakang dan pengaruh-pengaruh dari pola konsumsi yang berdampak pada terjadinya inflasi harga. “Kita dapat lihat dan amati ketika memasuki puasa, satu minggu sebelum puasa, harga bahan pokok naik, setelah itu memasuki pertengahan puasa, harga sedikit ada penurunan. Lalu, satu minggu sebelum Lebaran, harga berangsur naik bahkan puncak kenaikan harga terlihat padaH-3 Lebaran,” paparnya.

Budi menambahkan, kondisi tersebut salah satu penyebab utama terjadinya inflasi dan ketidakstabilan. “Kami sudah mempelajari pola konsumsi ini lama sekali,” imbuhnya. Lebih lanjut, Budi menjelaskan, blue print pengendalian inflasi tersebut sebagai pijakan pemerintah untuk mengantisipasi adanya perubahan hargadan ketidakstabilan harga maupun kondisi perkembangan bahan pokok.

Baca:  Pelantikan Ikatan Sarjana NU Jatim dihadiri Banyak Tokoh Nasional

Budi mencontohkan, misalnya, pada bulan Januari sampai Februari, biasanya terjadi inflasi pada komoditas beras,pada bulan Februari sampai April biasanya pada komoditas gula yang mahal karena belum panen. “Jadi, nantinya kita memiliki suatu gambaran yang telah terjadi secara momentum, yang bisa kita gunakan untuk membandingkan dengan kondisi yang sedang terjadi. Juga, bisa sebagai pencegahan dan pengambilan kebijakan,” jelasnya.

Kendati demikian,Kepala Disperindag Jatim ini menyadari, upaya yang akan dilakukan Disperindag Jatim secara substansial memiliki sifat yang parsial terhadappola konsumsi dan industri. Konsep ini juga belum sepenuhnya menyelesaikan permasalahan ekonomi di Jatim secara fundamentalkarena belum ada dukungan penuh dari sektor lain seperti infrastruktur, tata niaga ekonomi, dan khususnya sistem logistik nasional (sislognas).

Baca:  Kredit UMKM Jatim Meningkatkan Kinerja Keuangan Perbankan

“Seharusnya, di tiap daerah, kondisi pangan sudah terjaga dan aman. Sislognas dan tata niaga sampai sekarang belum ada kejelasan danefisiensi. Gap atau kesenjangan antara produsen dan konsumen saja yang masih tinggi, sekitar 30 persen. Salah satu penyebab  utamanya memang infrastruktur penunjangnya yang memang belum ideal,” tandas Budi. (nur/rie/hen/jpnn)

Suarakan Pendapatmu

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *