Home » Nasional » Kenapa Prabowo Sering Salah Data Saat Kritik Pemerintah?
prabowo maju pilpres 2019

Kenapa Prabowo Sering Salah Data Saat Kritik Pemerintah?

Pernyataan ketua Gerindra mengenai mark up LRT Palembang hingga 500% membuat heboh publik. Bahkan berbagai media langsung melakukan verifikasi dan perbandingan berbagai data pembanding dari berbagai negara.

Dalam pidatonya di silaturahmi kader Gerindra di Hotel Grand Rajawali, Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (21/6/2018), Prabowo menyatakan, indeks biaya pembangunan LRT termahal di dunia itu US $8 juta per kilometer.

Sedangkan pembangunan LRT Palembang, menurut Prabowo menelan biaya Rp12,5 triliun untuk 24 kilometer. Jika dikonversikan ke dalam dolar AS, maka tiap kilometer setara US $40 juta per kilometer.

“Jadi saya bertanya kepada saudara-saudara, markup, penggelembungannya berapa? 500 persen. Ini bangsa ini pintar atau bodoh?” kata Prabowo seperti dikutip detikcomJumat (22/6/2018).

Baca:  Hanya 20 hari Menjabat, Menteri ESDM Dicopot Jokowi

Prabowo mengaku mendapat data itu dari Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta yang didukung Gerindra dalam Pilkada tahun lalu.

Namun, Anies menghindar soal sumber data yang dia sodorkan kepada Prabowo. Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu enggan mengomentari lebih lanjut pernyataan Prabowo terkait indeks harga LRT.

Dia malah meminta wartawan untuk melakukan verifikasi sebagai dasar pekerjaan jurnalis.

Faktanya

LRT Palembang ini lebih murah dibanding LRT di Filipina dan Malaysia. LRT di Manila (Filipina) menelan US $77 juta per kilometer dan Kelana Jaya (Malaysia) US $63 juta per kilometer. Sedangkan LRT Palembang US $37 juta per kilometer.

Tidak mudah membandingkan dengan negara lain, karena kondisinya berbeda. Harga pembangunan LRT bisa lebih murah bila dibandingkan dengan pembangunan jalur kereta bawah tanah. Jalur bawah tanah rata-rata menelan biaya US $60 juta hingga US $600 juta per kilometer, bahkan bisa lebih mahal.

Baca:  Inilah Rincian Tarif Listrik Terbaru Mulai Januari 2016

Angka yang merujuk laporan CityLabtersebut, juga menampilkan nilai pembangunan LRT di beberapa kota di Amerika Serikat baru-baru ini. Ongkosnya tercatat selalu di atas US $100 juta per mil, atau sekitar US $63 juta per kilometer.

Kesalahan Prabowo mengutip data secara asal ini bukan hanya sekali. Dalam debat Pilpres 2014, ia mengutip data dari KPK soal kebocoran kekayaan negara Rp7.200 triliun.

Kutipan data itu dibantah Ketua KPK saat itu, Abraham Samad. Menurutnya, Rp7.200 triliun itu potensi pendapatan negara, bukan kebocoran kekayaan negara.

Selain itu kesalahan data juga pernah terjadi saat Prabowo menyatakan bahwa Indonesia akan bubar pada 2030, padahal data tersebut berasal dari novel fiksi.

Baca:  Mulai Pasang "Kuda-kuda" Prabowo Siap Bikin Keok Jokowi 2019?

Suarakan Pendapatmu

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *