Home » Gresik » Pendidikan Gresik » Kepala MI di Manyar Gresik Jadi Tersangka Dana Pendidikan
korupsi pendidikan gresik

Kepala MI di Manyar Gresik Jadi Tersangka Dana Pendidikan

Kepala MI di Manyar Gresik Jadi Tersangka Dana Pendidikan. Diam-diam, penyidik tindak pidana tertentu (tipiter) Polres Gresik menetapkan Achmad Charis dan Zakaria sebagai tersangka dugaan tindak pidana korupsi dana pendidikan.

Achmad Charis adalah kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI) Miftahul Huda, Desa Sumber Rejo, Kecamatan Manyar, Gresik. Karena kasus ini dia sudah dipecat oleh pihak yayasan dari jabatannya. Sementara Zakaria adalah bawahan Achmad Charis yang kini masih menjabat Kepala Tata Usaha MI Miftahul Huda (MH).

korupsi pendidikan gresikKeduanya ditetapkan sebagai tersangka setelah penyidik menemukan adanya dugaan penyelewengan pada penyaluran dana bantuan pendidikan ke sekolah mereka. Ada empat jenis dana bantuan pendidikan yang diterima MI MH pada 2012 lalu yang bersumber dari APBN 2012.

Baca:  Kejari Gresik Menghentikan Penyelidikan Korupsi DAK

Keempat jenis bantuan yang disalurkan melalui Kantor Kemenag Provinsi Jawa Timur maupun Kemenag Kabupaten Gresik tersebut meliputi subsidi tunjangan fungsional bagi guru bukan pegawai negeri sipil (STFGBPNS) sebesar Rp 39 juta; dana bantuan penyelenggaraan pendidikan diniyah dan guru swasta (BPPDGS) Rp 23 juta; bantuan operasional siswa (BOS) sebesar Rp 40,05 juta, dan bantuan untuk siswa miskin (BSM) sebesar Rp 8,208 juta. Totalnya mencapai Rp 100 juta lebih.

Dari proses penyidikan ditemukan dugaan kuat bahwa dana-dana bantuan tersebut telah dikemplang oleh kedua tersangka. Estimasi penyidik mengenai kerugian keuangan negara akibat perbuatan para tersangka mencapai 50 persen lebih, yakni sebesar Rp 60.244.000.

Baca:  Gus Ipul Bangga SMA NU 1 Gresik Layak Jadi Percontohan

“Salah satu modus tersangka yang kami temukan adalah dengan cara mengajukan nama-nama guru fiktif untuk mendapatkan bantuan dana yang lebih besar dari pemerintah,” ungkap Kanit Tipiter Iptu Arif Rasyidi mewakili Kasatreskrim Polres Gresik AKP Ayub Diponegoro Azhar, kemarin (12/12/2013).

Di sekolah setingkat SD tersebut sebenarnya hanya ada tujuh orang tenaga pengajar. Namun karena ada penambahan nama guru fiktif maka jumlanya membengkak menjadi 13 orang. Perolehan tunjangan bagi guru-guru fiktif tersebut kemudian yang diduga masuk ke kantung kedua tersangka.

Dugaan penyimpangan pada dana BSM beda lagi. Di sekolah itu terdapat 23 siswa yang diajukan untuk memperoleh BSM. Sesuai aturan masing-masing siswa menerima Rp 360 ribu per tahun. Namun realisasinya oleh pihak sekolah dana tersebut dibagi rata ke semua siswa. Sehingga setiap siswa memperoleh dana BSM sebesar Rp 60 ribu.

Baca:  Qosim Inspeksi UN SD Menegur Pengawas yang Mainan HP

Setelah kasus ini dinaikkan ke tingkat penyidikan, penyidik kini tengah melakukan penyitaan berbagai dokumen dan pemeriksaan ke labfor Polda Jatim. Hasil pemeriksaan labfor diperlukan untuk mengetahui keaslian beberapa tanda tangan dalam dokumen yang diduga dipalsukan para tersangka. (sbypg)

Suarakan Pendapatmu

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *