Home » Teknik Budidaya » Perikanan » Budidaya Lele Mutiara 50 Hari Panen dan Tahan Penyakit
lele mutiara
lele mutiara

Budidaya Lele Mutiara 50 Hari Panen dan Tahan Penyakit

Budidaya Lele Mutiara 50 Hari Panen dan Tahan Penyakit. Empat kolam pembesaran berbentuk silinder itu hanya 10 m dari gerbang masuk farm Antien Delmawanti. Rangka baja menyangga terpal—bahan kolam. Setiap kolam setinggi 105 cm berdiameter 2 m itu berisi 3.000 lele. Tinggi air dalam kolam 1 m sehingga volume air di dalamnya 3,14 m3. Artinya populasi kolam rata-rata mencapai 954 lele per m³. Pada 54 hari pascatebar, peternak di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu panen.

Adel—panggilan Antien—memperoleh 1.200 kg lele dengan kelulusan hidup di pembesaran mencapai 80%. Dari jumlah itu, 60% masuk kelas daging (6—10 ekor per kg), 30% kelas sangkal (25—30 ekor per kg), dan sisanya kelas BS (4—5 ekor per kg). Itu menunjukkan tingkat keseragaman tinggi. Bahkan, beberapa peternak mitra malah memperoleh tingkat keseragaman di atas 80%. “Itu menguntungkan peternak karena kelas daging laku paling mahal,” kata Adel.

Lele Mutiara Akan Jadi Favorit

Pengepul yang datang ke kolam membeli Rp14.000 per kg untuk kelas daging, Rp11.000 (kelas sangkal), dan Rp13.000 untuk kelas BS. Omzet Adel Rp15,6-juta. Menurut Adel biaya benih, operasional, dan lain-lain Rp11,8-juta. Saat itu pada Oktober 2014 Adel hanya mencoba 4 kolam. Seandainya ibu 3 anak itu mengisi semua kolam—102 kolam—miliknya, maka labanya mencapai Rp97-juta dengan asumsi harga lele di kolam Rp14.000 per kg.

Pada musim kemarau—ketika banyak peternak kesulitan air—harga di kolam mencapai Rp19.000 per kg. Pemilik Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) Mina Srikandi itu pun segera mengisi semua kolamnya dengan lele. Adel dan peternak mitra membesarkan lele baru jenis mutiara.

Lele itu merupakan hasil penyilangan periset di Balai Penelitian Pemuliaan Ikan, Sukamandi, Subang, Jawa Barat. Nama mutiara disematkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Kabinet Indonesia Bersatu II, Dr Sharif Cicip Sutarjo MH. Keunggulan lele baru itu amat irit pakan. Angka rasio konversi pakan (feed conversiton ratio FCR) hanya 0,8. FCR lele lain mencapai 1—1,2. FCR menyatakan kebutuhan pakan untuk membentuk 1 kg daging.

Artinya untuk menghasilkan 1 kg daging Adel hanya perlu 800 gram. Jika menggunakan lele jenis lama, ia memerlukan 1,1 kg pakan sehingga menggerus laba bersih. Keunggulan lain lele mutiara, panen cepat. Peternak yang menebar benih berukuran 7—8 cm akan panen 50 hari kemudian. Pada umumnya peternak yang membesarkan lele biasa bakal panen paling cepat 60 hari usai penebaran benih berukuran 7—8 cm.

Lele Mutiara Silangan Lele Mesir

Lele Mutiara juga tahan penyakit aeromonas sebagaimana hasil riset Balai Penelitian dan Pemuliaan Ikan (BPPI). Tingkat kematian benih lele mutiara yang direndam bakteri aeromonas selama 60 jam hanya 30%. Sementara varietas lain seluruhnya mati. Genjah alias cepat panen, irit pakan, tahan penyakit menjadi daya tarik mutiara. Itulah sebabnya peternak jatuh hati pada lele baru yang dirilis pada Oktober 2014 itu.

Baca:  Rahasia Pakan Ikan Patin dan Belut Agar Cepat Besar

Peternak lain yang membesarkan lele mutiara adalah Muhamad Soleh di Kecamatan Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat. Sejak mengetahui kelebihan mutiara, ia bergegas membesarkannya. Ia memiliki 50 kolam pembesaran. Ketika panen pengepul mengangkat hampir 90% ikan dalam 10 kolam pembesaran miliknya. “Hanya 10% yang sangkal,” kata Soleh. Dengan padat tebar 100 ikan per m3 air, ia memperoleh laba hampir Rp7,3-juta per siklus (baca: “Menghitung Laba Lele hal 18—19). Menurut Bambang Iswanto SPi MP, periset di BPPI Sukamandi, masyarakat tidak sekadar menginginkan lele cepat tumbuh. “Mereka ingin lele sempurna: pertumbuhan cepat dan seragam, irit pakan, dan tahan penyakit,” ungkap Bambang.

lele mutiara
lele mutiara

Persyaratan itu menjadi dasar bagi Bambang untuk merancang lele unggul baru. Pada 2010, ia mengumpulkan calon induk dari kolega Balai Penelitian maupun perusahaan swasta. Bambang menggunakan 4 jenis lele sebagai tetua: dumbo lokal, sangkuriang, paiton, dan lele asal Mesir yang ia peroleh dari kawan. Lele mesir menunjukkan keseragaman tinggi di pembesaran. Tingkat kelulusan hidup di pendederan dari ukuran 1—2 cm menjadi 7—8 cm pun lebih dari 90%. Lele paiton dan sangkuriang cepat tumbuh dan lele dumbo lokal adaptif di berbagai lokasi tanahair.

Bambang mulai menyilangkan pada 2011 dengan pemijahan buatan. Penyilangan pertama melahirkan populasi dasar (G0). Setelah 4 bulan pembesaran, ia menyeleksi 5% ikan terbesar lalu memijahkan kembali. Pada pemijahan kedua itu, ia mengawinkan 50 pasang dan memperoleh populasi generasi pertama alias G1. Proses itu ia ulangi sampai memperoleh G3 pada permulaan 2014.

Setiap tahap pemijahan menghasilkan anakan yang lebih besar. G1 20,6% lebih besar daripada G0, G2 11,8% lebih besar daripada G1, dan G3 20,2% lebih besar daripada G2. “Hasil akhirnya ukuran G3 meningkat 52,6% daripada G0,” kata alumnus Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya, Malang, itu.

Lele Mutiara Tahan stres

Untuk membuktikan bahwa lele baru itu bukan sekadar jago kandang, Bambang menyebar ke peternak mitra di 10 tempat antara lain di Bandung Barat, Bogor, Depok, Cirebon, Indramayu, Karawang, dan Tegal. Peternak-peternak itu menggunakan sistem kolam berbeda: tanah, semen, dan terpal. Sudah begitu, tidak semua memberikan pakan 100% pabrikan. Agus Hidayat, peternak lele di Padalarang, Bandung Barat, menambahkan limbah dari peternakan ayam di dekat lokasi kolam.

Hasilnya positif. “Semua peternak melaporkan peningkatan ukuran lebih dari 50% dan 62—80% masuk ukuran konsumsi,” kata pria berusia 35 tahun itu. Kini para peternak mitra itu menjadi penyedia induk, benih, atau pendeder lele mutiara. Namun, Bambang mengakui mutiara belum sempurna, yakni 0,4% anakan berwarna abnormal. Warna abnormal itu adalah abu-abu pucat, merah, dan cokelat.

Baca:  Budidaya Sidat Untung Berlimpah, Mau Coba?

Lele berwarna abnormal tidak disukai pengepul lantaran konsumen enggan membeli. Wartawan Trubus Rizky Fadhilah juga melihat beberapa anakan lele berwarna pucat di kolam Adel di Cibinong. Pengalaman Adel, warna abnormal itu tidak tampak di tahap pembesaran sehingga tidak menjadi soal.

Kelebihan lain mutiara: tahan stres. Pengujian lapang menunjukkan bahwa benih mutiara tetap merespon pemberian pakan meskipun baru pindah kolam, menempuh perjalanan, dijaring, atau setelah penyortiran. “Itu menguntungkan pengepul karena susut bobot akibat stres penangkapan maupun transportasi bisa mencapai 10%,” kata Adel. Jika susut bobot minim, peternak bisa menjual ikan lebih mahal. Itu yang dialami Adel. Kerap kali pengepul menghubungi untuk menanyakan kapan waktu panen berikutnya. Padahal harga jual lele di tempat Adel lebih mahal daripada harga pasar.

Lele Mutiara Jenis Hibrida

Setahun sebelum mutiara lahir, Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Jawa Barat, meluncurkan sangkuriang 2. Berbeda dengan mutiara yang muncul dari hasil pemuliaan, sangkuriang 2 lahir dari persilangan.

Periset BBPBAT, Ade Sunarma MSi menggunakan lele sangkuriang sebagai induk betina dan lele afrika populasi thailand sebagai induk jantan. Hasilnya: keturunan yang seragam, pertumbuhan cepat, dan FCR rendah. Menurut Ade, FCR sangkuriang 2 berkisar 0,53—1,17. Dalam 3 bulan, benih tumbuh dari ukuran 9,6 cm menjadi ukuran konsumsi berbobot 112—156 gram alias 6—10 lele per kg.

Peternak di Tulungagung, Jawa Timur, Supangat, mengatakan, sangkuriang 2 di kolamnya mencapai ukuran konsumsi (8—12 lele per kg) dalam 3 bulan pascatebar dari ukuran 9—10 cm. Lele dumbo yang lazim dipelihara peternak mencapai ukuran sama dalam 4 bulan. Sangkuriang 2 juga tahan serangan aeromonas yang kerap menerjang ketika cuaca tidak stabil akibat pergantian musim. Sekretaris Asosiasi Catfish Tulungagung (Asfita) itu tidak menjual sangkuriang 2 yang ia besarkan lantaran hendak dijadikan induk.

Nun di Lembursitu, Sukabumi, Jawa Barat, Erik Haryadi dan 12 orang anggota kelompok Sawargi Aquatics tengah memijahkan 6 paket induk sangkuriang 2 yang mereka terima pada Januari 2014. “Di tingkat benih pun keseragaman sangkuriang 2 tinggi, lebih dari 80%,” kata Erik.
Ade Sunarma mewanti-wanti untuk tidak menggunakan benih tebar sebagai indukan. “Nama sangkuriang 2 melekat kepada induk,” tutur Ade. “Induk menghasilkan benih tebar, sedangkan benih tebar tidak boleh dijadikan indukan lagi,” tutur pria kelahiran Sukabumi 41 tahun lalu itu. Larva dari benih tebar sangkuriang 2 akan bervariasi sehingga keunggulannya sirna.

Baca:  Beternak Udang Vannamei Teknik Tradisonal Plus

Pasar Lele Terus Tumbuh

Balai Benih Ikan Batukumbung, Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat merilis lele mandalika. Menurut Kepala Balai Benih Ikan Batukumbung, Sabara Putra SPi MSi, mandalika hasil persilangan sangkuriang sebagai induk betina dan lele masamo sebagai induk jantan. Sangkuriang adaptif di dataran menengah. Adapun masamo besutan perusahaan swasta PT Matahari Sakti di Mojokerto yang berasal dari dataran rendah.

Hasil persilangan itu melahirkan mandalika yang adaptif hingga ketinggian menengah, lebih dari 600 m di atas permukaan laut. Kelulusan hidup di tingkat pembesaran mencapai 90% dan FCR 0,7—0,9. “Pertumbuhan mandalika 23% lebih cepat ketimbang kedua induknya,” kata Sabara. Sudah begitu, mandalika tahan aeromonas. Sabara berencana menyebarkan lele unggul itu ke seluruh tanahair.

Perusahaan swasta yang membidani paiton, PT Charoen Pokphand Indonesia, juga tidak mau ketinggalan. Saat ini mereka tengah menggodok lele baru yang dinamakan lele CP. “Petani yang menggunakan indukan lele CP berasal dari Medan, Palembang, Jawa, sampai beberapa daerah di Sulawesi,” kata Nyoman Oka Arsana, manajer area PT Charoen Pokphand Indonesia. Lele CP mencapai ukuran panen dari benih tebar berukuran 7—8 cm dalam 54 hari. FCR 1—1,03 dan kelulusan hidup di pembesaran 85—90%.

Jenis-jenis lele baru itu untuk menjawab permintaan pasar lele yang terus tumbuh. Menurut Totok Setya Winarna SPi, kepala Bidang Perikanan Dinas Pertanian, Perikanan, dan Peternakan Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah, masyarakat menggemari lele karena enak dan terjangkau. Itu sebabnya pasar lele di Banjarnegara terbagi menjadi 4 segmen: pembenihan, pendederan 1, pendederan 2, dan pembesaran. Di pasaran, permintaan lele memang tidak tanggung-tanggung. Musababnya jumlah warung tenda terus bertambah dan muncul pusat keramaian baru.

Menurut Mahmudin, pengepul lele di Bantul, Yogyakarta, kebutuhan lele di Yogyakarta mencapai 18 ton per hari. Pasokan itu berasal dari 35 pengepul berkapasitas 500 kg per hari. Padahal, pada 2010, kebutuhan harian Kota Pelajar itu baru mencapai 12 ton. Selain memasarkan di Yogyakarta, Mahmudin dan rekan-rekannya sesama pengepul juga mengirim ke luar daerah. Mereka antara lain mengirimkan lele ke Jakarta dan sekitarnya sebanyak 80 ton per hari, Semarang (6 ton), dan Surabaya (50 ton). Namun demikian beternak lele tidak bebas hambatan. Beragam aral mengintai budidaya lele, misal fluktuasi harga. (Majalah Trubus)

Kata Pencarian:

pengepul ikan lele di tegal (1),lele mutiara (1),Lele mu (1),lele mandalika mutiara masamo (1),jual indukan lele sangkuriang (1),jual indukan lele jawa tengah (1),Jual bibit lele mutiara (1),jual benih lele mutiara (1),Harga bibit lele mutiara super (1),gambar bibit lele mutiara (1)

Suarakan Pendapatmu

comments

4 comments

  1. saya ingin mencoba membudidayakan ikan lele Mutiara di lahan sempit pekarangan belakang rumah saya yang berukuran 3×3 m. Dapatkan anda membantu saya tentang bibit ikanya sampai dengan pada kolam terpalnya yang berkualitas cukup baik ?.

  2. ouu, menarik sekali !!!!

  3. Saya mau beli bibit lele mutiara ukuran 7-9, berapa harganya dan dikirim ke Bekasi

    • MOHON INFO DONK.
      SAYA WARGA KAB REMBANG JAWA TENGAH MAU BELI BIBIT LELE MUTIARA UKURAN 10 – 11 CM
      DIMANA SAYA BISA BELI DAN HARGA NYA BRAPA PER EKOR NYA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *