Home » Hukum dan Kriminal » Ngaco!, Para Santri Dimas Kanjeng Bilang yang Ditangkap Polisi Bayangan Ghaib
dimas kanjeng ditangkap

Ngaco!, Para Santri Dimas Kanjeng Bilang yang Ditangkap Polisi Bayangan Ghaib

Ngaco!, Para Santri Dimas Kanjeng Bilang yang Ditangkap Polisi Bayangan Ghaib. Meski sudah diamankan polisi, namun para santri Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi di Probolinggo, Jawa Timur punya keyakinan sendiri. Yang ditangkap dianggap bukan Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang asli.
dimas kanjeng ditangkap
Lantas ke mana Dimas Kanjeng Taat Pribadi? Para santri menyakini jika sang guru yang dikenal bisa melipatgandakan uang sedang menunaikan ibadah haji.

Bahkan ribuan santri masih memilih bertahan di tenda-tenda yang berdiri di sekitar Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi di Desa Wangkal, Kecamatan Gading.

Upaya polisi yang meminta agar para santri pulang tak diindahkan. Isu yang diterima santri bahwa yang ditangkap polisi dan ditahan di Polda Jatim sosok ghaib atau bayangan Dimas Kanjeng.

Sedangkan Dimas Kanjeng yang dianggap maha gurunya masih bebas di luar sana. Bahkan para santri juga tidak percaya jika Dimas Kanjeng dituduh terlibat pembunuhan yang membuatnya harus berurusan dengan polisi.

Itulah yang diyakini seorang santri yang bertahan di padepokan, Tugino (52) asal Sragen-Jawa Tengah. Ia mengaku jika pria yang dianggap maha gurunya itu saat ini dalam kondisi baik, tidak ditahan di Mapolda Jatim.

Baca:  Limbad Curi Mobil dengan Hipnotis Korban Terekam CCTV?

“Yang ditangkap itu bayangannya. Guru besar kami sedang menunaikan ibadah haji di Mekkah, beliau baik-baik saja di sana. Kami semua di sini menunggu kedatangan beliau sampai kembali memimpin padepokan,” kata Tugino (52) kepada wartawan saat di tenda padepokan dengan pengawasan polisi.

Tugino maupun santri lainnya bersikukuh tidak percaya jika yang ditangkap Dimas Kanjeng. “Kami sangat yakin kalau guru kami sebelum ada peristiwa penangkapan itu, sudah berada di tanah suci Mekkah. Jadi tidak usah tanya masalah itu lagi mas,” tandas Tugino, Minggu (25/9/2016).

Namun Kepala Kemenag Kabupaten Probolinggo Bustomi menegaskan jika dua kloter haji dari wilayahnya, tidak tercantum nama Taat Pribadi sebagai jamaah haji tahun 2016.

“Kemarin Sabtu (24/9) kita cek namanya tidak terdaftar di Kemenag Kabupaten Probolinggo untuk jamaah haji tahun 2016. Yang mengatakan dia ada di Mekkah hanya isu belaka. Mungkin hanya orang-orang yang mempercayainya, tergantung keyakinan masing-masing,” tambah Bustomi saat dihubungi.

Baca:  Wow, Ternyata SPG Cantik Pembajak Film DKI Reborn Sudah Ditangkap

 

Santri Dimas Kanjeng Malu Untuk Pulang

Sebagian santri mulai bingung dan malu untuk pulang. Selain pengurus yayasan padepokan menghilang pasca digerebek polisi, mereka bingung karena tidak ada lagi yang mengurus makan dan kepastian pencairan uang.

Sebagian mengaku kehabisan uang dan bekal untuk hidup sehari-hari. Mereka berharap keluarganya mengirim uang untuk pulang kampung.

Salah satu santri asal Lampung, Risal memilih bertahan hidup di tenda padepokan sambil menunggu kiriman uang dari kerabatnya. Dia mengaku sudah 3 bulan nyantri tanpa ada kejelasan nasibnya.

“Saya sudah tiga bulan nyantri di padepokan bersama 7 teman saya yang juga berasal dari Lampung. Sebetulnya ingin pulang, tapi masih menunggu kiriminan uang dari kerabat saya,” kata Risal, saat ditemui di tenda padepokan, Minggu (25/9/2016).

Sutik, warga Madiun mengaku hampir setahun nyantri di padepokan Dimas Kanjeng dan memberikan mahar Rp 10 juta. Uang itu untuk pemekaran padepokan milik Dimas Kanjeng yang dianggap maha guru. Namun masih belum kunjung ada pembagian cairan uang dari yayasan, sehingga uang simpanan di rumahnya sudah habis.

Baca:  Pelajar Kepergok Mesum, Malah Disuruh Lanjut dan Direkam

“Sudah setahun ini saya bergabung bersama padepokan Dimas Kanjeng dengan memberi mahar Rp 10 juta. Tapi kalau pulang saya malu ke keluarga istri saya, karena tidak membawa uang ghaib yang tidak kunjung ada,” jelas Sutik, saat ditemui di bilik tendanya.

Dirinya pun hanya bisa pasrah kelanjutan nasibnya. Dan berharap pihak kepolisian memberikan langkah yang terbaik bagi santri korban Dimas Kanjeng.

Sementara pihak Kecamatan Gading, terus memantau dan mendata para santri padepokan dan terus memberi arahan agar segera pulang. Jika tetap nekat beratahana, maka nasibnya di padepokan kian tidak menentu.

“Saya tanyakan kenapa tidak pulang, meraka mengaku masih ingin nyantri, padahal kita tidak tahu mereka makan dari mana sehari-harinya. Tapi ada juga yang mengaku menunggu pencairan dari padepokan dulu,” kata Camat Gading Selamet Hariyanto di lokasi padepokan.(detik.com)

Suarakan Pendapatmu

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *