Nasional

Para Pejuang Buruh yang Tewas Melawan Tirani

Para Pejuang Buruh yang Tewas Melawan Tirani. Setiap tanggal 1 Mei di seluruh belahan bumi merayakan Hari Buruh Internasional. Di hari itu, puluhan bahkan ratusan ribu turun ke jalan menuntut kesejahteraan buat kehidupan mereka.

Di Indonesia, yang menjadi sorotan di ibu kota, para buru menggeruduk Istana Merdeka untuk menyampaikan aspirasi mereka. Berbagai cara mereka lakukan agar aspirasi didengar.

Beberapa orang di kaum buruh bahkan ada yang disebut pahlawan. Mereka harus luka luka bahkan kehilangan nyawa saat melawan pemerintah.

Sayangnya kematian mereka tak tuntas diusut negara. Hingga kini kematian para buruh pahlawan itu tetap menjadi pekerjaan rumah tangga pemerintah.

Berikut pahlawan buruh yang luka dan tewas melawan tirani:

Pejuang Buruh: Widji Thukul

Widji Thukul, yang bernama asli Widji Widodo adalah sastrawan dan aktivis hak asasi manusia berkebangsaan Indonesia. Tukul merupakan salah satu tokoh yang ikut melawan penindasan rezim Orde Baru.

Sejak 1998 sampai sekarang dia tidak diketahui rimbanya, dinyatakan hilang dengan dugaan diculik oleh militer. Tukul masih menghilang bersama para aktivis lain.

Pemerintah hingga kini masih belum menuntaskan kasus tersebut.

Pejuang Buruh: Wartawan Udin

Fuad Muhammad Syafruddin (32) akrab dipanggil Udin. Salah seorang wartawan Surat Kabar Harian (SKH) Bernas terbit di Yogyakarta menjadi tumbal di rezim Orde Baru. Udin ‘dihilangkan’ karena tulisannya mengusik penguasa kala itu Bupati Bantul Sri Roso Sudarmo, tentara berpangkat kolonel.

Sri Roso dihukum 9 bulan penjara pada 2 Juli 1999. Dia dinyatakan bersalah atas kasus suap Rp 1 miliar kepada Yayasan Dharmais, yayasan yang dikelola Presiden Soeharto. Uang itu dijanjikannya sebagai imbalan bila diangkat kembali sebagai bupati Bantul 1996-2001. Pernyataan itu dituangkan dalam surat bersegel dikirim ke yayasan ditandatangani oleh R Noto Suwito yang tak lain adalah adik Soeharto.

Baca:  Ustadz Syam Bilang Ada Pesta Sex di Surga, Benarkah?

Beberapa tulisan Udin mengkritisi kekuasaan Orde Baru dan militer. Tulisan yang cukup menyengat di antaranya ‘3 Kolonel Ramaikan Bursa Calon Bupati Bantul’, ‘Soal Pencalonan Bupati Bantul: banyak Invisible Hand Pengaruhi Pencalonan’, ‘Di Desa Karangtengah Imogiri, Dana IDT Hanya Diberikan Separo’ dan ‘Isak Tangis Warnai Pengosongan Parangtritis’.

Pria kelahiran Bantul, 18 Februari 1964 ini meninggal pada 16 Agustus 1996, pukul 16.50 WIB, usai dianiaya oleh orang tak dikenal di sekitar rumahnya di Dusun Gelangan Samalo Jalan Parangtritis Km 13 Yogyakarta, dengan sebatang besi yang dipukulkan ke kepalanya.

Udin sempat mendapatkan perawatan di RS Bethesda. Setelah sempat koma karena gegar otak, akhirnya Udin menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit tersebut.

Pejuang Buruh: Marsinah

Marsinah adalah salah seorang karyawati PT Catur Putera Surya yang aktif dalam aksi unjuk rasa buruh. Keterlibatan Marsinah dalam aksi unjuk rasa tersebut antara lain terlibat dalam rapat yang membahas rencana unjuk rasa pada tanggal 2 Mei 1993 di Tanggulangin, Sidoarjo.

3 Mei 1993, para buruh mencegah teman-temannya bekerja. Komando Rayon Militer (Koramil) setempat turun tangan mencegah aksi buruh.

4 Mei 1993, para buruh mogok total mereka mengajukan 12 tuntutan, termasuk perusahaan harus menaikkan upah pokok dari Rp 1.700 per hari menjadi Rp 2.250. Tunjangan tetap Rp 550 per hari mereka perjuangkan dan bisa diterima, termasuk oleh buruh yang absen.

Baca:  Ustad Jeffry Al Buchory Meninggal, Kronologi Ustad Jeffry Kecelakaan

Sampai dengan tanggal 5 Mei 1993, Marsinah masih aktif bersama rekan-rekannya dalam kegiatan unjuk rasa dan perundingan-perundingan. Marsinah menjadi salah seorang dari 15 orang perwakilan karyawan yang melakukan perundingan dengan pihak perusahaan.

Siang hari tanggal 5 Mei, tanpa Marsinah, 13 buruh yang dianggap menghasut unjuk rasa digiring ke Komando Distrik Militer (Kodim) Sidoarjo. Di tempat itu mereka dipaksa mengundurkan diri dari CPS. Mereka dituduh telah menggelar rapat gelap dan mencegah karyawan masuk kerja. Marsinah bahkan sempat mendatangi Kodim Sidoarjo untuk menanyakan keberadaan rekan-rekannya yang sebelumnya dipanggil pihak Kodim. Setelah itu, sekitar pukul 10 malam, Marsinah lenyap.

Mulai tanggal 6,7,8, keberadaan Marsinah tidak diketahui oleh rekan-rekannya sampai akhirnya ditemukan telah menjadi mayat pada tanggal 8 Mei 1993. Di tubuhnya ditemukan sejumlah luka akibat penganiayaan. Hingga kini kasus pembunuhan Marsinah tak pernah terungkap.

Pejuang Buruh: Erwiana

Erwiana lahir pada tanggal 7 Januari 1991, putri dari pasangan Rohmad dan Suratmi Saputra. Ayahnya adalah seorang pekerja serabutan.

Setelah lulus SMA, ia ingin melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi untuk menjadi seorang akuntan, namun tidak terwujud karena kondisi ekonomi keluarganya. Alasan yang sama memaksa Erwiana untuk melamar pekerjaan sebagai tenaga kerja migran di Hong Kong.

Pada tahun 2012, menemui majikan yang tinggal di apartemen beralamat di Tong Ming Street, Kowloon, Hong Kong. Saat bekerja, Erwiana disiksa secara fisik dalam waktu 8 bulan oleh majikannya, Law Wan-tung.

Ia mengaku bahwa ia dipaksa tidur di lantai, bekerja 21 jam per hari, dan tidak diizinkan libur. Jika ia tidak membersihkan rumah atau lambat menanggapi panggilan majikan, ia akan dipukuli.

Baca:  Sah!, Johan Budi Ditunjuk Jadi Jubir Presiden

Ia mengaku bahwa ia kerap dipukuli dengan berbagai peralatan rumah tangga seperti gagang sapu, penggaris, dan gantungan baju. Setelah disiksa selama 8 bulan, luka-lukanya terinfeksi dan Erwiana tidak dibawa berobat ke dokter . Ia dibiarkan dalam kondisi lemah dan tidak mampu berjalan.

Majikannya mengatur keberangkatannya ke Indonesia dan memberinya uang sejumlah $70HKD serta mengancam akan membunuh orangtuanya jika ia berani menceritakan penyiksaannya pada orang lain. Majikannya meninggalkannya di Bandar Udara Internasional Hong Kong dengan rute sambung menuju Jakarta dan Solo menggunakan pesawat Garuda Indonesia.

Ditinggalkan sendirian di bandara dan tidak mampu berjalan, Erwiana bertemu dengan Rianti, rekannya sesama warga negara Indonesia, yang membantu mengantarkannya ke rumahnya di Ngawi. Rianti juga membawanya ke Rumah Sakit Amal Sehat di Sragen untuk merawat luka-lukanya.

Law Wan-tung ditangkap di Bandar Udara Internasional Hong Kong saat berupaya untuk terbang ke Thailand. Ia didakwa oleh pengadilan Kwun Tong telah melakukan tindakan kekerasan fisik dan empat dakwaan kriminal lainnya. Ia dibebaskan dengan uang jaminan senilai $1m HKD.

Pada bulan April 2014, majalah TIME merilis edisi baru ‘100 Most Powerful Persons’ dan an menempatkan Erwiana Setyaningsih dalam daftar untuk kategori ‘Icons’. Aktivis antikekerasan Somaly Mam menyatakan bahwa Erwiana adalah inspirasi bagi buruh migran lainnya untuk berjuang melawan kekerasan dan diskriminasi. Erwiana menjadi satu dari sedikit wanita Indonesia yang pernah masuk daftar ini

Suarakan Pendapatmu

comments

Tags

Berita Gresik & Jawa Timur

Gresik.co merupakan media berbagi informasi untuk tumbuh bersama kesadaran politik, ekonomi, dan budaya masyarakat Gresik. Bagi para pelaku usaha kecil dan menengah ataupun komunitas bisa beriklan gratis tanpa biaya apapun. Silahkan buat review usaha anda sebanyak 200 kata atau lebih disertai foto dan alamat usaha lalu kirim ke pesan facebook kami

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Matikan Adblocker untuk agar bisa membuka website dengan aman