Home » Bawean » Pengembangan Wisata di Bawean Perlu Pencabutan Status Cagar Alam

Pengembangan Wisata di Bawean Perlu Pencabutan Status Cagar Alam

Pengembangan Wisata di Bawean Perlu Pencabutan Status Cagar Alam.Keindahan pulau-pulau kecil diseputar Bawean sudah mendapat banyak sanjungan dari banyak kalangan, baik pelancong domestik maupun manca negara. Namun pengembangan pariwisata di sekitar Pulau Bawean terhambat karena statusnya sebagai cagar alam.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik mengajukan ke pemerintah pusat agar keindahan alam di Pulau Bawean dapat dijadikan tempat pariwisata.

Sebab selama ini, tempat yang dindah di Pulau Bawean itu masuk kawasan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA).

pulau-gili-dan-noko-di-bawean

Beberapa keindahan alam di Pulau Bawean yang masuk Kawasan BBKSDA yaitu Pulau Noko, Pulau Selayar dan Danau Kastoba.

Tempat tersebut tidak dapat diubah dan dikunjungi oleh umum. Hal itu sesuai Surat Keputusan (SK) Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam nomor 92/IV-set/HO/2006 tentang izin masuk kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam dan taman buru.

Pengunjung yang datang ke cagar alam tersebut dibatasi dan harus menggunakan surat izin masuk kawasan konservasi yang dikenal dengan Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI).

Baca:  Bupati Gresik Sarankan FK Unair ke Bawean

“Untuk itu pemerintah berupaya mengambil alih status lewat pemerintah pusat dan bekerja sama dengan Disbudparpora. Cara pemerintah untuk menyelamatkan atau melindungi aset negara adalah dengan menetapkannya sebagai cagar alam. Tapi kami, melalui Disbudparpora sudah mengajukan ke Kementerian Kehutanan untuk mengubah statusnya sehingga bisa dimanfaatkan untuk pemberdayaan masyarakat,” kata Wakil Bupati Gresik, Mohamad Qosim, Jumat (26/8/2016).

Pemkab Gresik sampai kini tidak bisa menganggarkan untuk pengembangan pariwisata.

Padahal selama ini, Pulau Bawean selalu dipromosikan mempunyai keindahan alam yang indah, seperti Pulau Dewata Bali dan Batam.

Selama ini, unit pelaksana teknis Disbudparpora Pemkab Gresik di Pulau Bawean hanya mendata wisatawan yang berkunjung di Pulau Bawean.

Baca:  Logistik Pilgub Jatim 2013 Dikirim Ke Bawean

Bahkan tidak ada anggaran untuk pengembangan wisata Bawean. Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pariwisata di Bawean pun saat ini tugasnya hanya pendataan saja, seperti mendata kunjungan wisatawan ke Bawean.

Sampai saat ini data wisatawan mancanegara yang berkunjung di Pulau Bawean mencapai 1.000 sampai 5.000 orang per tahun. Sedangkan wisatawan domesik mencapai 10.000 orang.

Sampai saat ini, Pemkab Gresik hanya bisa memperbaiki infrastruktur jalan. Bahkan untuk perluasan pekarangan rusa Bawean juga kesulitan pembebasan lahan.

“Pemkab Gresik hanya bisa memperbaiki jalan. Bukan menambahi fasilitas di tempat wisatanya. Kendala lain yaitu pembebasan lahan untuk pengembangan wisata air panas dan penangkaran rusa Bawean,” kata Kepala Disbudparpora Kabupaten Gresik, Siswadi Aprilianto. (suryaonline/tribunnews.com)

Baca:  Pemuda Muhammadiyah Gresik Gelar Musda XV di Bawean

Suarakan Pendapatmu

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *