Home » Gresik » Ekonomi Gresik » Petani Gresik Merugi, Harus Panen Dini Akibat Banjir
banjir gresik

Petani Gresik Merugi, Harus Panen Dini Akibat Banjir

Petani Gresik Merugi, Harus Panen Dini Akibat Banjir. Baru saja bencana banjir akibat meluapnya Sungai Kali Mas, anak Sungai Brantas di wilayah Kecamatan Driyorejo surut, Sabtu (12/3) malam. Namun banjir akibat meluapnya Sungai Kali Lamong, anak Sungai Bengawan Solo ganti menggenangi sejumlah desa di tiga wilayah kecamatan di Gresik.

Ketiga kecamatan tersebut yakni Kecamatan Benjeng, Kecamatan Cerme dan Kecamatan Balongpanggang, Kabupaten Gresik, Jatim, Minggu (13/3) sore. Untuk kawasan Kecamatan Benjeng, yang meliputi Desa Sedapurklagen, Desa Deliksumber dan Desa Kedungrukem dan Desa Dadapkuning, banjir menggenangi areal persawahan setinggi 60-70 centimeter (cm) dan di areal pemukiman penduduk sedalam 15-20 cm.

“Di wilayah Kecamatan Cerme, di antaranya merendam wilayah Desa Morowudi dan Desa Dadapkuning, untuk ketinggian genangan banjir di areal persawahan relatif sama dengan di Desa Kedungrukem, Kecamatan Benjeng. Namun untuk ketinggian air di pemukiman penduduk mencapai 20-30 cm. Ini karena posisi tanah di Kecamatan Cerme lebih rendah,” kata Abu Hasan, Ketua Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gresik yang dihubungi, Minggu (13/3) malam.

Warga tidak ada yang mengungsi, karena semua harta benda berharganya, termasuk perabot elektronik sudah dinaikkan ke wuwungan rumah.

Disinggung tentang banyaknya petani di beberapa desa, utamanya Desa Sedapurklagen, Desa Dadapkuning dan Desa Deliksumber yang terpaksa melakukan panen dini atas tanaman padi mereka yang mulai menguning, dibenarkan Abu Hasan.

“Memang, luapan air Kali Lamong terus menghantui warga dan pemilik lahan pertanian di bantaran Kali Lamong. Petani di Desa Dadapkuning, Kecamatan Cerme pun memilih melakukan panen lebih awal. Seharusnya padi dipanen sepekan lagi tapi khawatir terendam banjir Kali Lamong, terpaksa dipanen lebih awal,” katanya.

Menurut catatan BPBD, genangan banjir di kawasan sudah yang keempat kalinya sejak awal tanam menjelang medio Desember 2015 yang lalu. Sekarang ini menjelang panen raya sepekan sampai dua pekan mendatang, padi mereka yang baru menguning terendam banjir lagi.

“Ya, para petani sangat terpaksa dipanen lebih awal, panen dini karena kawatir bulir padinya membusuk jika terendam lagi,” ujar Abu Hasan sambil menambahkan, dari laporan cepat anggota BPBD, para petani yang memanen padinya dalam kondisi basah dibeli tengkulak seharga Rp 3.100 per kilogram (/kg), lebih murah dibanding kondisi yang sama tahun lalu seharga Rp 3.400/kg.

Sementara itu menurut penuturan Darsono (53), salah satu pengurus kelompok tani di Desa Morowudi yang dikonfirmasi terpisah membenarkan, banyak anggota kelompok tani (padi) di desanya yang terpaksa melakukan panenan dini, karena tanaman padi mereka terendam banjir paling rendah 40 cm.

“Ada juga yang terendam 60-70 cm. Kalau tidak dipanen sekarang, dikhawatirkan busuk. Jadi dipanen itu untuk menghindari dari kerugian yang lebih besar,” terang Darsono yang memiliki lahan seluas dua hektar. Ia dan petani lainnya belum tahu, berapa kerugian yang harus dihadapi jika dengan terpaksa melakukan panen dini.

Abu Hassan yang dikonfimasi lagi mengaku hanya bisa membantu penduduk dalam proses evakuasi dan keselamatan warga serta memberikan bantuan nasi bungkus bagi penduduk yang tidak dapat memasak akibat genangan banjir. “Penanganan sosial lainnya ditangani Dinas Sosial Pemkab Gresik,” katanya menutup pembicaraan.

Source: Beritasatu

Suarakan Pendapatmu

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *