Uncategorized

Prasasti Bersejarah Banyuwangi Dilelang di Internet Rp. 20 Juta

prasasti banyuwangi
ilustrasi : Indonesia kaya akan prasasti bersejarah

Prasasti Bersejarah Banyuwangi Dilelang di Internet Rp. 20 Juta. Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, Jawa Timur, sedang menelusuri dugaan penjualan empat lempeng prasasti dari Banyuwangi ke Bali seharga Rp 20 juta. “Kita sudah tugaskan staf untuk menelusuri informasi tersebut,” kata Kepala BPCB Jawa Timur, Aris Soviyani, di Banyuwangi, Rabu, 30 Oktober 2013.

Dari laporan awal, kata Aris, prasasti itu dijual ke salah satu situs Internet seharga Rp 20 juta oleh salah satu kolektor asal Bali. Setelah menelusuri benar-tidaknya informasi itu, kata dia, BPCB akan menguji keaslian prasasti tersebut. Bila asli, BPCB bersedia membeli sesuai harga yang ditawarkan. “Karena tidak semua temuan itu asli,” kata dia.

Baca:  Green City Ala Banyuwangi Memikat Dubes Swedia

Menurut Aris, sesuai UU No 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, seseorang yang menemukan benda bersejarah seharusnya melaporkan temuannya ke Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Bila tidak melaporkan, apalagi sampai menjual barang tersebut, maka yang bersangkutan bisa dikenai sanksi hukum.

Informasi penjualan prasasti itu pertama kali disampaikan pengguna Facebook berakun Rudy Candra Wilwatika di Grup Majapahit pada 24 Oktober 2013. Di grup itu, Rudy mengaku melihat iklan penjualan prasasti tersebut di salah satu blog pada 23 Oktober 2013. Dia kemudian mengirimkan pesan kepada si penjual untuk bertanya lebih detail dan melakukan penawaran. “Harga Rp 20 juta itu ternyata harga lokal,” kata Rudy kepada Tempo, Rabu, 30 Oktober 2013.

Baca:  Pemkab Banyuwangi Sabet Penghargaan Tata Ruang

Rudy mengatakan, dari keterangan si penjual, prasasti tersebut didapat dari salah satu desa di Banyuwangi. Lempeng itu terbuat dari tembaga dan tulisannya dipahat di kedua sisinya. Rudy menolak menyebut nama kolektor yang menyimpan barang langka tersebut karena saat ini masih dalam penelusuran pemerintah dan LSM.

“Perlu ada pendekatan persuasif supaya prasasti tidak jatuh ke kolektor asing,” kata Rudy, yang bernama asli yang bernama asli Rudyanto Candra. Saat ini iklan penjualan prasasti itu sudah dihapus oleh pemiliknya. Sejarawan Banyuwangi, Suhalik, mengatakan penjualan benda purbakala dari Banyuwangi ke Bali sudah seringkali terjadi. Dia mencontohkan beberapa tahun lalu ada penjualan batu megalitik asal Kecamatan Glenmore ke Bali yang diangkut dengan puluhan truk.

Contoh lain adalah penjualan benda bersejarah dari Situs Macan Putih yang telah bertahun-tahun terjadi. “Sudah sering lapor ke pemerintah daerah, tapi tak ada tindak lanjutnya,” kata dia. Pelaksana tugas Kepala Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Muhammad Yanuar Bramuda, mengakui belum memberi perhatiaan optimal pada situs sejarah di Banyuwangi. Dia berjanji pada 2014 akan membuat Peraturan Daerah tentang Cagar Budaya. (tempo)

Baca:  Surabaya Fashion Parade 2013 Bisa Jadi Trend Setter Nasional

Suarakan Pendapatmu

comments

Tags

Berita Gresik & Jawa Timur

Gresik.co merupakan media berbagi informasi untuk tumbuh bersama kesadaran politik, ekonomi, dan budaya masyarakat Gresik. Bagi para pelaku usaha kecil dan menengah ataupun komunitas bisa beriklan gratis tanpa biaya apapun. Silahkan buat review usaha anda sebanyak 200 kata atau lebih disertai foto dan alamat usaha lalu kirim ke pesan facebook kami

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Matikan Adblocker untuk agar bisa membuka website dengan aman