Home » Resensi » Info Film Terbaru » Film Hello Goodbye, Drama Romantis Dari Busan
Master tukang, tutorial pertukangan

Film Hello Goodbye, Drama Romantis Dari Busan

Rasanya sudah lama sekali Indonesia tidak punya film drama romantis yang nggak sinetronan. Hello Goodbye memberi drama romantis itu.

Paspor saya yang tipis ini lebih menarik dari buku kamu yang tebal itu. Buku itu nggak bawa kamu ke mana-mana.” Abi (Rio Dewanto pemeran utama film Hello Goodbye) mengucapkan kalimat sinis itu sambil membolak-balik paspornya yang penuh cap. Orang yang diajak bicara adalah seorang perempuan cantik.

Si cantik itu hanya terenyak sebentar saja mendapat sinisme itu. Setelah itu, ia segera kembali tenggelam dalam novelnya. Sementara di luar hujan
turun. Begitu setiap hari di kamar rumah sakit di Busan, Korea Selatan. Abi di tempat tidur dengan sikap ngehe-nya, dan gadis cantik itu, Indah (Atiqah Hasiholan, pemeran utama wanita di Hello Goodbye) duduk di kursi dengan kemasabodohannya.

Mereka berdua terkurung di kamar RS itu karena Abi terkena serangan jantung saat kapal berbendera Singapura, tempatnya bekerja sebagai anak buah kapal, merapat di pelabuhan Kota Busan.

Indah ditugasi kantornya, Konsulat Jenderal RI (KJRI) di Busan untuk menjaga pasien berkebangsaan Indonesia itu hingga dibolehkan meninggalkan rumah sakit dan meninggalkan Busan. Karena tugas itu, dengan menumpang kereta api, Indah setiap hari pergi-pulang dari apartemennya ke rumah sakit.

Di RS, dia menunggui Abi layaknya keluarga pasien. Memberikan obat, mengurus surat-surat yang diminta rumah sakit, serta mendorong kursi roda untuk jalanjalan di halaman rumah sakit saat cuaca bersahabat. Setiap hari dia juga harus melaporkan perkembangan Abi ke Konjen.

film hello goodbyePekerjaan ini tampaknya ringan, tapi tidak bagi Indah karena yang dia hadapi adalah seorang keras kepala, kasar, dan tidak kooperatif, misalnya tidak mau memberi nomor telepon keluarganya di Indonesia. Bahkan ada penyangkalan kalau dirinya sakit. “Aku mau rokok,” dikatakan Abi sehari setelah terkena serangan jantung. “Justru itu yang bikin kamu sakit!”

Baca:  Film Oz the Great and Powerful Fantasi Baru Persembahan Walt Disney

Kesembuhan Abi adalah yang paling Indah inginkan, semata-mata agar tugasnya selesai. Dia tidak suka dengan pekerjaan menunggui orang sakit satu ini, tidak suka dengan Busan yang jadi tempat kerjanya selama satu setengah tahun terakhir, dia ingin ditempatkan di kota lain yang lebih hidup.

Sementara itu Abi sama bosannya terkurung di rumah sakit dan menghadapi para perawat yang bahasanya tidak dia mengerti. Dia ingin pulang, bukan ke Indonesia, tapi ke kapal yang dia anggap rumahnya. Kapal yang bisa membawanya ke banyak tempat.

Suatu hari Indah mendapat tugas lain, mengantar nyonya pejabat dari Indonesia shopping, sehingga tidak bisa datang ke rumah sakit. Kali lain dia absen juga akibat flu. Abi pun mulai merasa kehilangan. Rasanya sudah lama sekali Indonesia tidak punya film drama romantis yang nggak sinetronan.

Baca:  Film Leher Angsa, Cerita Apik Dari Kaki Gunung Rinjani

Hello Goodbye Tak Sekedar Sinetron yang Di-bioskop-kan

Drama romantis yang mengandalkan dialog cerdas, akting bermutu, dan sudut pengambilan gambar yang ciamik. Tak heran jika Hello Goodbye terpilih sebagai Official Selection Busan International Film Festival (BIFF) 2012 di Busan, Korea Selatan dan dinyatakan lulus seleksi Komite Seleksi Festival Film Indonesia (FFI) 2012.

Hello Goodbye membayar tunai semua prasangka pesimistis sebelumnya bahwa film ini hanyalah sinetron yang dipindahkan ke layar lebar. Sutradara dan penulis skenario, Titien Wattimena berhasil membuat skenario bernas serta plot dan subplot yang manis. Cerita utama berputar di Indah dan Abi, dan subplot tentang Puri (Kenes Andari) roommate dan kolega Indah, yang punya persoalan sendiri.

Atiqah Hasiholan bermain bagus sebagai Indah yang “tidak hidup untuk hari ini.” Dalam ke-diam-an Indah sepanjang perjalanan di kereta dan saat menunggui mesin cuci di apartemennya, Atiqah berhasil menunjukkan kebosanan Indah hidup di Busan tanpa banyak cakap.

Keseriusan Atiqah juga ditunjukkan dengan belajar bahasa Korea selama sebulan karena karakter Indah berbicara dalam bahasa Korea saat berhadapan dengan warga setempat. Apa jadinya jika sutradara membolehkan Atiqah hanya bicara bahasa Inggris?

hello goodbyeTantangan berbeda diselesaikan Rio Dewanto dengan mulus. Dia harus berakting di ruang gerak terbatas, yakni tempat tidur dan kursi roda. Kalau sedang di luar ruang, dia juga harus tetap duduk manis sambil menahan dingin karena suhu Busan cuma 9°C. Kalau saja akting Rio tidak memadai, bukan hanya Abi yang bosan dengan rumah sakit, tapi penonton juga akan tersiksa sepanjang film ini.

Baca:  Film Gending Sriwijaya, Upaya Menggali Kejayaan Sriwijaya

Yang jadi catatan adalah kurang digalinya karakter Indah dan Abi. Mengapa Indah selalu memakai baju berwarna gelap? Selain bosan dengan hidupnya di Busan, Indah dikarakterkan sebagai seorang ambisius yang ingin punya karier lebih baik, tapi tidak berhasil ditampilkan di sini. Dan Abi kebalikan dari Indah, yang “hidup hanya untuk hari ini,” justru tidak tampak santainya. Dia seperti seorang pemikir yang pemarah.

Walau begitu, Titien membuat adu akting dua orang ini di Hello Goodbye jadi menggemaskan, ditambah setting cantik Busan, kota pelabuhan yang berbukit-bukit dengan dingin yang menggigit. Bahwa Atiqah dan Rio adalah pasangan kekasih tentu sangat membantu kuatnya chemistry antara Indah dan Abi karena sudah ada di sana by default. (SIL /YO G/Detik.com/majalahdetik)

Kata Pencarian:

kata romantis dalam film hello goodbye (1),kelebihan film hello goodbye (1),unsur intrinsik dari novel hello good bye (1)

Suarakan Pendapatmu

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *