Home » Gresik » Ekonomi Gresik » Sembilan Industri Gresik yang Hengkang Didominasi Padat Karya

Sembilan Industri Gresik yang Hengkang Didominasi Padat Karya

Sembilan Industri Gresik yang Hengkang Didominasi Padat Karya. Sebanyak sembilan industri di wilayah Gresik, Jawa Timur tahun ini memilih merelokasi pabriknya ke daerah lain yang Upah Minimum Kabupaten (UMK) lebih rendah dibandingkan di Gresik.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Gresik Tri Andhi Suprihartono mengatakan, kesembilan industri yang merelokasi pabrik itu bergerak di sektor industri tekstil, alas kaki dan kayu. Mereka memilih daerah lain di Jawa Timur yang UMK-nya lebih rendah.

Salah satunya adalah Lamongan. Namun sebagian merelokasi pabriknya ke Jawa Tengah dan luar pulau Jawa. “Dipilihnya daerah-daerah tersebut sebagai tujuan relokasi pabriknya karena upah buruh relatif lebih rendah dibandingkan di Gresik,” kata Andhi di sela acara “ 3rd Industrial Relation Conference 2016” di Hotel Shangri-La, Surabaya, Selasa (8/11).

Baca:  Perkembangan Gresik Sebagai Kota Industri Semakin Menggeliat

Andhi menjelaskan, perbedaan UMK menjadi salah satu hal penting buat pengusaha untuk memutuskan tujuan relokasi. Sebab, dengan kondisi pasar seperti sekarang, efisiensi sangat memengaruhi keberlangsungan usaha. Dan, daerah yang menerapkan UMK lebih rendah tentunya akan membantu upaya efisiensi tersebut.

Sebagian pengusaha lebih mempertimbangkan daerah yang tak jauh dengan Gresik dan menerapkan UMK lebih rendah. Wilayah itu adalah Lamongan, dimana UMK hanya Rp 1.573.000. Jumlah itu jauh lebih rendah dibandingkan Gresik yang UMK sudah mencapai Rp 3.042.500. “Ada selisih hampir separuh inilah menjadikan Lamongan sebagai tujuan relokasi pabrik yang wilayahnya berbatasan dengan Gresik,” ucap Andhi.

Meski demikian, UMK bukan satu-satunya alasan pengusaha merelokasi pabrik. “Ketersediaan bahan baku juga menjadi salah satu pertimbangan lain pengusaha merelokasi pabriknya,” tandas Andhi.

Menurut dia, industri kayu lebih memilih relokasi pabriknya ke luar pulau Jawa karena untuk mendapatkan kemudahan suplai bahan baku kayu. Dengan relokasi ke luar Jawa mereka tak lagi khawatir kekurangan suplai bahan baku kayu.

Baca:  Gresik Tidak Punya Komisi Amdal

Andhi menyatakan dengan relokasi pabrik itu otomatis berdampak pada tenaga kerja yang ditinggalkan. Sembilan industri yang meralokasi pabriknya itu memiliki tenaga kerja antara 200 hingga 300 orang. “Dalam kondisi sulitnya menyediakan lapangan kerja sekarang, memang relokasi pabrik itu cukup disayangkan. Tetapi kita juga tidak bisa mencegahnya,” ujarnya.

Andhi menambahkan selain relokasi pabrik, beberapa industri kecil dan menengah di Gresik juga gulung tikar karena produk mereka kalah bersaing dengan produk impor. Mereka umumnya bergerak di alat-alat pertanian seperti cangkul atau peralatan rumah tangga seperti engsel

Suarakan Pendapatmu

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *