Uncategorized

Standar Nilai PPDB Sekolah Kawasan di Surabaya Turun

Standar Nilai PPDB Sekolah Kawasan di Surabaya Turun. Pro kontra terkait standar nilai masuk sekolah kawasan, membuat Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya mengoreksi kebijakannya. Dispendik akhirnya menurunkan standar masuk sekolah kawasan, setelah banyak protes dari wali murid.

Kesepakatan ini dicapai setelah Dispendik Surabaya mengadakan rapat tertutup dengan semua unsur pendidik. Ini setelah dispendik meminta masukan dari sekolahsekolah yang berkaitan dengan sekolah kawasan. Dari hasil rapat, standar nilai sekolah kawasan berubah, dari 8,5 menjadi 8,00 dan tidak boleh ada nilai di bawah 7.25 pada setiap mata pelajaran.

Pertimbangan ini diambil setelah melihat rata-rata nilai ujian nasional (unas) siswa seluruh Surabaya yang mencapai 7,00. “Kita sudah sepakat untuk menurunkan standar nilai unas masuk sekolah kawasan,” kata Kadispendik Surabaya Ikhsan, kemarin.

Baca:  Aparat Setengah Hati Mengusut Kasus Pupuk Oplosan di Gresik

Menurut Ikhsan, kebijakan ini dilakukan untuk memenuhi rasa keadilan. Selain itu, kebijakan ini muncul untuk merespons positif pemerhati pendidikan dan masyarakat. Karena, mereka juga menginginkan pendidikan di Surabaya mengalami kemajuan.

Sementara itu, Ketua Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Surabaya Yusuf Masruh menambahkan, rapat untuk perubahan standar nilai masuk sekolah kawasan memang sedikit alot. Berbagaipertimbangandilakukan, karena dindik tidak menginginkan ada diskriminasi di kalangan siswa. “Jadi berbagai alternatif sempat ditawarkan, saya hanya bagian ngutak-atik aja,” kata MasruhyangjugamenjabatKabidTenaga dan Ketenagaan Dispendik Surabaya.

Yusuf mengaku dengan adanya kebijakan ini, seluruh siswa diyakini tidak akan keberatan. Sebab, sekolah kawasan tetap akan menjaga kredibilitas sebagai sekolah unggulan dibandingkan sekolah lain.

Baca:  Pipa Air Jebol, Warga Jl. Mayjend Sungkono Gresik Blokir Jalan

Apalagi, dari data yang dimiliki dindik, rata-rata nilai unas siswa Surabaya cukup tinggi. Di sekolah tengah atau pinggiran, rata-rata nilai siswa 7,00. Dengan begitu, sekolah kawasan mengambil di atas rata-rata nilai unas yang ada. “Dengan nilai minimal 7,25, saya rasa di seluruh kawasan sekolah bisa bersaing,” ungkap Yusuf.

Yusuf menambahkan, keputusan yang diambil kali ini sudah final. Sebab, semua segi negatif dan positif telah ditimbang secara keseluruhan. Dengan
begitu, tidak ada alasan menyalahkan dinas apalagi alasan yang dipakai karena standar nilai. “Standar nilai kan diturunkan, berarti tidak ada alasan
untuk protes,” tegasnya.

Pemberlakuan Tes Potensi Akademik (TPA) untuk masuk sekolah kawasan ini, bertujuan untuk meningkatkan mutu dan meratakan kesempatan pelajar menempuh pendidikan. TPA akan melengkapi hasil nilai unas dalam proses seleksi PPDB jalur kawasan.

Baca:  Eggy Sudjana Maju Pilgub Jatim 2013 dari Jalur Independen

Sebab, TPA bertujuan untuk mengukur tiga kemampuan berpikir pelajar, yakni verbal, numerikal, dan figural. Untuk verbal, mengukur kemampuan pemahaman dan bernalar menggunakan bahasa. Numerikal, mengukur kemampuan pemahaman dan bernalar menggunakan angka. Figural, mengukur pemahaman dan bernalar menggunakan gambar. “Ini memang baru, tetapi memiliki tujuan mulia,” kata Yusuf. (nin/nis/het/radarsby.com/jpnn)

Berita Gresik & Jawa Timur

Gresik.co merupakan media berbagi informasi untuk tumbuh bersama kesadaran politik, ekonomi, dan budaya masyarakat Gresik. Bagi para pelaku usaha kecil dan menengah ataupun komunitas bisa beriklan gratis tanpa biaya apapun. Silahkan buat review usaha anda sebanyak 200 kata atau lebih disertai foto dan alamat usaha lalu kirim ke pesan facebook kami

Related Articles

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Matikan Adblocker untuk agar bisa membuka website dengan aman