BaweanUMKM

Tikar Bawean Butuh Sentuhan Pemasaran Modern

Berita Gresik – Januar Sagita – wartawan Radar Gresik

tikar bawean bagusBawean – Kerajinan tikar tradisional di sejumlah daerah barangkali sudah tergerus karena kalah bersaing dengah produk modern. Namun tikar khas Bawean hingga kini masih eksis dan dicari oleh pembeli. Mereka tidak hanya dari warga lokal sekitar Pulau Bawean, namun juga Kota Gresik bahkan hingga Singapura dan Malaysia.

Tikar Bawean memang dikenal sampai mancanegara. Hampir setiap ada warga berkunjung dipastikan setelah pulang akan membawa oleh-oleh tikar. Para perantau asal Bawean dipastikan membawa beberapa lembar tikar untuk dibawa kembali ke negara dimana mereka bekerja. Tidak hanya warga Bawean saja, puluhan wisatawan lokal maupun asing juga dalam beberapa kesempatan membeli tikar untuk oleh-oleh.

Baca:  Kaur Kesra dari Gresik Jadi Jambret, Digebuki Massa

Mereka tertarik dengan corak dan bahan pembuatan tikar yang unik dan menarik. Tikar Bawean terbuat dari bahan daun Pandan asli Bawean.  Anyaman ini berasal dari alam berupa daun pandan yang tumbuh liar di hutan sekitar pemukiman.

Mencarinya pun tidak sembarangan. Butuh keahlian khusus. Pencari daun pandan ini para pria yang sudah ahli mengatasi duri yang menjuntai di
daun. Jika tak hati-hati, maka duri itu akan melukai kulit. Bila para pria berhasil membawa daun pandan ke rumah, sang wanita langsung mengolah daun pandan tahap demi tahap.

Menurut Riani (49) warga Kecamatan Sangkapura, menganyam dengan daun pandan tak terlalu sulit. “Ini sih sudah biasa, tapi sayangnya sekarang
pengrajin sudah hampir tidak ada, jadi susah mencari tikar semacam ini,” kata Sumiati di lokasi.

Baca:  Logistik Pilgub Jatim 2013 Dikirim Ke Bawean

Dia mengaku membuat anyaman tikar ini tahap pertama, daun pandan dibersihkan, kemudian direbus untuk membuat tekstur lebih lentur. Selain itu pemberian warna dilakukan dengan unsur alam. Hal senada disampaikan Zubaidah, pengusaha kerajinan tikar mengatakan, tikar Bawean memiliki kelebihan yaitu dipakai musim panas maka tidak terasa panas, jika dipakai musim dingin tidak akan terasa dingin.

“Kualitas tikar Bawean termasuk terbaik, sebab dipakai puluhan tahun tetap baik tidak rusak,”ungkapnya sambil menunjuk tikar yang sudah dipakai selama 10 tahun lebih. Kendati memiliki keunikan, sejumlah perajin tikar mengaku memiliki kesulitan dalam memasarkan.

Kades Gunung Teguh, Hasbullah mengatakan, kelemahan produsi tikar adalah kesulitan untuk memasarkan. Sebab permintaan sangat kecil dan laku bila ada warga luar yang mencarinya sebagai oleh-oleh. “Sehingga produksi tikar tidak bisa dijadikan penghasilan oleh warga, hanya sekedar
sebagai kerja sambilan saja.

Baca:  Bangunan Kuno di Gresik Berpotensi Menjadi Aset Budaya

Solusi, bagi warga yang membuat tikar setelah tidak laku dijual akan di bawa ke tempat kami untuk ditampung. Itupun lakunya masih menunggu berbulan-bulan,” paparnya Radar Gresik

Suarakan Pendapatmu

comments

Tags

Berita Gresik & Jawa Timur

Gresik.co merupakan media berbagi informasi untuk tumbuh bersama kesadaran politik, ekonomi, dan budaya masyarakat Gresik. Bagi para pelaku usaha kecil dan menengah ataupun komunitas bisa beriklan gratis tanpa biaya apapun. Silahkan buat review usaha anda sebanyak 200 kata atau lebih disertai foto dan alamat usaha lalu kirim ke pesan facebook kami

Related Articles

One Comment

  1. Saya tertarik untuk memesan tikar anyaman warna warni.. bagaimana caranya ?
    Bisa menghubungi saya di no hp 0812 905 4745, tks.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Matikan Adblocker untuk agar bisa membuka website dengan aman