Info Teknologi

Tren Transaksi Prostitusi Melonjak di media Sosial

Tren Transaksi Prostitusi Melonjak di media Sosial. Media sosial, semisal Twitter, Facebook, atau WhatsApp, diyakini ampuh menjadi wadah untuk melakukan promosi baik penjualan barang maupun jasa. Termasuk, jasa “esek-esek” atau prostitusi.

Tren “menjual” jasa “esek-esek” melalui media sosial, dinilai meningkat seiring dengan turunnya prostitusi tradisional yang menjajakan diri di tempat lokalisasi atau pinggir jalan.

Kriminolog Universitas Indonesia, Josias Simon, mengatakan saat ini banyak orang memanfaatkan media sosial untuk “menjual diri” kepada para pelanggan.

“Banyak yang melakukan itu. Ini terjadi karena prostitusi tradisional semakin tersingkir. (Media sosial) Ini sebagai media atau perantara secara langsung bisa ‘menjual’ dirinya,” ujar Simon kepada Beritasatu.com, Senin (13/4).

Dikatakan Simon, tren penggunaan media sosial sebagai alat promosi bisnis “esek-esek” semakin meningkat.

Baca:  Smartfren Genjot Pertumbuhan Pelanggan Data 2013

“Kecenderungannya seperti itu, caranya melalui media sosial. Ini karena sudah susahnya (prostitusi) tradisional bergerak,” ungkapnya.

Ketika kawasan Doli ditutup Pemerintah Daerah Surabaya, katanya, banyak muncikari yang menjajakan “perempuan nakal” melalui online atau media sosial.

“Jadi walaupun Doli tutup, mereka beralih secara online. Itu sudah diungkap (kepolisian) di Surabaya. Kemudian, trennya reda lagi dan muncul lagi,” bilangnya.

Menyoal apakah “menjual diri” lewat media sosial merupakan tindakan melanggar hukum, Josias menyampaikan, perlu pembuktian terlebih dahulu.

“Untuk menjadikan itu kriminal atau tidak masih timbul keraguan. Bagaimana bisa tahu kalau dia ‘menjajakan’ dirinya. Biasanya kalau sudah bertemu baru tahu. Memang dalam hal seperti itu, harus dicarikan dulu buktinya. Apakah dia yang melakukannya atau orang lain,” jelasnya.

Baca:  Cara Mengubah Ukuran Inchi Jadi Centimeter dan Sebaliknya di Microsoft Word

Menurutnya, jika bisnis esek-esek melalui media sosial atau online itu mengganggu, hal itu bisa menjadi pelanggaran hukum.

“Sama dengan konten-konten radikal. Kalau itu efeknya mengganggu atau membuat suatu ketidaktertiban, ada pihak-pihak yang melaporkan, itu baru bisa menjadi tindak pelanggaran norma-norma, norma hukum, dan lainnya,” tambahnya.

Ia menyampaikan, perlu ada kehati-hatian dari masyarakat. Kepolisian pun dapat menelusuri hal ini melalui cyber. Soalnya, hal ini bisa juga menimbulkan persoalan seperti siapa yang menjadi objek yang “dijual”.

“Bisa jadi ini ada tindak trafficking, penjualan orang,” tegasnya.

Jasa esek-esek di dunia maya sudah menjadi rahasia umum. Menemukan perempuan yang menawarkan jasa “esek-esek” itu bukan perkara mudah, namun juga tidak sulit.

Baca:  Cara Sederhana Mengubah File Word ke WinRar di Komputer

Kemudahan akses Media Sosial

Semisal BH. Seorang karyawan swasta ini, mengaku pernah sekali mencoba jasa “esek-esek” itu. Ia menuturkan, awalnya mengetahui perempuan yang “bisa dipakai” itu melalui jejaring sosial Facebook.

“Terus, gua chatting dan minta nomor teleponnya. Awalnya, kenalan biasa dan ngobrol-ngobrol,” kata BH kepada Beritasatu.com.

Kemudian, tambahnya, percakapan mulai menjurus ke arah “esek-esek”. “Gua tanya, memang kamu bisa? Kok, pasang foto-foto syur?” ucapnya. Setelah ada kejelasan, mereka pun janjian di suatu hotel di bilangan Jakarta Barat. “Ya udah, gua booking dan “eksekusi”,” tuturnya.

Suarakan Pendapatmu

comments

Tags

Berita Gresik & Jawa Timur

Gresik.co merupakan media berbagi informasi untuk tumbuh bersama kesadaran politik, ekonomi, dan budaya masyarakat Gresik. Bagi para pelaku usaha kecil dan menengah ataupun komunitas bisa beriklan gratis tanpa biaya apapun. Silahkan buat review usaha anda sebanyak 200 kata atau lebih disertai foto dan alamat usaha lalu kirim ke pesan facebook kami

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close